Ekonomi Rusia Sedang Melemah, Tapi Tidak Hancur
Selasa, 24 Juni 2025 - 11:10 WIB
loading...
A
A
A
"Tanpa keraguan sedikit pun, ekonomi Rusia telah mengalami sejumlah resesi yang lebih dalam daripada ini," terang Yevgeny Nadorshin seperti dilansir BBC.
Nadorshin menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Rusia saat ini berada pada titik terendah yaitu 2,3%, dan kemungkinan akan memuncak hanya 3,5% di tahun depan. Sebaliknya tingkat pengangguran di Inggris tembus 4,6% pada bulan April.
Meski demikian ada alasan untuk khawatir, dan itu karena Rusia tampaknya telah memasuki periode stagnasi. Tingkat inflasi tercatat sebesar 9,9% dalam setahun hingga April, dimana sebagian disebabkan oleh sanksi-sanksi Barat yang meningkatkan harga impor, tetapi juga karena kekurangan pekerja yang mendorong kenaikan upah.
Negara ini kekurangan sekitar 2,6 juta pekerja pada akhir 2024, menurut Sekolah Tinggi Ekonomi Rusia, sebagian besar disebabkan oleh laki-laki yang pergi berperang atau melarikan diri ke luar negeri untuk menghindarinya.
Bank sentral menaikkan suku bunga ke level tertinggi tahun ini untuk mencoba menahan kenaikan harga - tetapi ini membuat biaya bagi perusahaan untuk meningkatkan modal yang mereka butuhkan untuk berinvestasi semakin mahal.
Sementara itu pendapatan minyak dan gas Rusia menyusut akibat sanksi dan penurunan harga yang lebih rendah, dan turun sebesar 35% secara year-on-year pada bulan Mei, menurut data resmi. Semua itu berkontribusi pada diperlebarya defisit anggaran yang telah membuat negara itu memiliki sedikit anggaran untuk dibelanjakan pada infrastruktur dan layanan publik.
"Mereka memiliki anggaran besar untuk militer yang tidak bisa diutak-atik," kata András Tóth-Czifra, seorang analis politik dan pengamat Rusia.
"Jadi ini berarti uang mulai dialokasikan kembali dari proyek investasi penting di bidang jalan, rel, dan utilitas. Kualitas penyediaan benar-benar menderita," paparnya.
"Rusia mungkin telah mengatasi sanksi Barat lebih baik dari yang diperkirakan, tetapi sanksi tersebut terus berdampak pada ekonomi," tambahnya.
Nadorshin menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Rusia saat ini berada pada titik terendah yaitu 2,3%, dan kemungkinan akan memuncak hanya 3,5% di tahun depan. Sebaliknya tingkat pengangguran di Inggris tembus 4,6% pada bulan April.
Meski demikian ada alasan untuk khawatir, dan itu karena Rusia tampaknya telah memasuki periode stagnasi. Tingkat inflasi tercatat sebesar 9,9% dalam setahun hingga April, dimana sebagian disebabkan oleh sanksi-sanksi Barat yang meningkatkan harga impor, tetapi juga karena kekurangan pekerja yang mendorong kenaikan upah.
Negara ini kekurangan sekitar 2,6 juta pekerja pada akhir 2024, menurut Sekolah Tinggi Ekonomi Rusia, sebagian besar disebabkan oleh laki-laki yang pergi berperang atau melarikan diri ke luar negeri untuk menghindarinya.
Bank sentral menaikkan suku bunga ke level tertinggi tahun ini untuk mencoba menahan kenaikan harga - tetapi ini membuat biaya bagi perusahaan untuk meningkatkan modal yang mereka butuhkan untuk berinvestasi semakin mahal.
Sementara itu pendapatan minyak dan gas Rusia menyusut akibat sanksi dan penurunan harga yang lebih rendah, dan turun sebesar 35% secara year-on-year pada bulan Mei, menurut data resmi. Semua itu berkontribusi pada diperlebarya defisit anggaran yang telah membuat negara itu memiliki sedikit anggaran untuk dibelanjakan pada infrastruktur dan layanan publik.
"Mereka memiliki anggaran besar untuk militer yang tidak bisa diutak-atik," kata András Tóth-Czifra, seorang analis politik dan pengamat Rusia.
"Jadi ini berarti uang mulai dialokasikan kembali dari proyek investasi penting di bidang jalan, rel, dan utilitas. Kualitas penyediaan benar-benar menderita," paparnya.
"Rusia mungkin telah mengatasi sanksi Barat lebih baik dari yang diperkirakan, tetapi sanksi tersebut terus berdampak pada ekonomi," tambahnya.
Lihat Juga :