Penerapan ESG, Win-Win Solution bagi Industri Nikel
Minggu, 06 Juli 2025 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A
Prinsip-prinsip ESG yang diterapkan Harita secara optimal, lanjut dia, juga memaksimalkan manfaat dari keberadaan sumber daya alam bagi masyarakat. Dindin menjelaskan, dampak ekonomi dari praktik tambang yang dijalankan Harita sesuai dengan prinsip ESG di wilayah operasinya sangat besar.
Dia bercerita, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Halmahera Selatan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Halmahera Selatan meningkat dengan drastis setelah adanya aktivitas hilirisasi nikel sejak tahun 2016 yakni mencapai 54,59% berasal dari industri pengolahan. "Pertumbuhan ekonomi tumbuh stabil. Industri pengolahan sangat dominan mendorong perekonomian lokal, artinya hilirisasi sukses memantik pertumbuhan ekonomi di Halmahera Selatan," ujarnya.
Baca Juga: Pemerintah Kembali Izinkan PT GAG Nikel Beroperasi di Raja Ampat
Keberadaan perusahaan dengan jumlah karyawan yang cukup banyak di Pulau Obi, lanjut dia, menimbulkan demand yang juga memicu kegiatan ekonomi. "Kebutuhan logistik perusahaan cukup besar, misalnya beras sekitar 20.000 sak per bulan, ayam potong 22.000 kg, kebutuhan ikan dan lain sebagainya, menjadi peluang bagi masyarakat Pulau Obi," cetusnya.
Kebutuhan-kebutuhan tadi, kata Dindin, membuka peluang kerja dan peluang usaha bagi masyarakat. Interaksi saling menguntungkan antara perusahaan dengan masyarakat itu pun kemudian menumbuhkan hubungan yang harmonis.
"Dalam catatan kami, dampak ekonomi yang sudah dihasilkan antara lain mencapai 729 wirausahawan binaan perusahaan dan pendapatan terekam setiap bulan mencapai miliaran rupiah, sekitar Rp14 miliar (per bulan) untuk perputaran di lokal," paparnya.
Dalam diskusi yang sama, Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Hendra Gunawan menegaskan bahwa pemerintah mendukung penerapan prinsip oleh industri nikel. Posisi Indonesia sebagai pemain utama nikel dunia dengan 5,3 miliar ton ore cadangan yang bisa diproduksikan, serta 18,5 miliar ton ore sumber daya, tegas dia, harus didukung oleh komitmen berkelanjutan.
Dia bercerita, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Halmahera Selatan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Halmahera Selatan meningkat dengan drastis setelah adanya aktivitas hilirisasi nikel sejak tahun 2016 yakni mencapai 54,59% berasal dari industri pengolahan. "Pertumbuhan ekonomi tumbuh stabil. Industri pengolahan sangat dominan mendorong perekonomian lokal, artinya hilirisasi sukses memantik pertumbuhan ekonomi di Halmahera Selatan," ujarnya.
Baca Juga: Pemerintah Kembali Izinkan PT GAG Nikel Beroperasi di Raja Ampat
Keberadaan perusahaan dengan jumlah karyawan yang cukup banyak di Pulau Obi, lanjut dia, menimbulkan demand yang juga memicu kegiatan ekonomi. "Kebutuhan logistik perusahaan cukup besar, misalnya beras sekitar 20.000 sak per bulan, ayam potong 22.000 kg, kebutuhan ikan dan lain sebagainya, menjadi peluang bagi masyarakat Pulau Obi," cetusnya.
Kebutuhan-kebutuhan tadi, kata Dindin, membuka peluang kerja dan peluang usaha bagi masyarakat. Interaksi saling menguntungkan antara perusahaan dengan masyarakat itu pun kemudian menumbuhkan hubungan yang harmonis.
"Dalam catatan kami, dampak ekonomi yang sudah dihasilkan antara lain mencapai 729 wirausahawan binaan perusahaan dan pendapatan terekam setiap bulan mencapai miliaran rupiah, sekitar Rp14 miliar (per bulan) untuk perputaran di lokal," paparnya.
Dalam diskusi yang sama, Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Hendra Gunawan menegaskan bahwa pemerintah mendukung penerapan prinsip oleh industri nikel. Posisi Indonesia sebagai pemain utama nikel dunia dengan 5,3 miliar ton ore cadangan yang bisa diproduksikan, serta 18,5 miliar ton ore sumber daya, tegas dia, harus didukung oleh komitmen berkelanjutan.
Lihat Juga :