Ekonomi Rusia Terpuruk, Akankah Putin Akhiri Perang Ukraina?
Kamis, 31 Juli 2025 - 09:45 WIB
loading...
A
A
A
Meski demikian, tidak semua ekonom di Rusia sepakat dengan pandangan pesimistis tersebut. Yevgeny Nadorshin, seorang ekonom yang berbasis di Moskow, menyebut bahwa meskipun tekanan ekonomi terus meningkat, krisis besar kemungkinan tidak akan terjadi. "Penurunannya akan ringan," kata Nadorshin kepada BBC, seraya menyebut proyeksi krisis besar sebagai "kebohongan total".
Namun, ketahanan ekonomi Rusia dapat berubah drastis jika sanksi baru diberlakukan, khususnya dari Amerika Serikat. Di bawah pemerintahan potensial Donald Trump, ancaman sanksi tidak hanya ditujukan kepada Rusia, tetapi juga negara-negara pembeli utama ekspor Rusia seperti Tiongkok, India, dan Brasil.
Senator AS dari Partai Republik, Lindsey Graham, bahkan secara tegas menyatakan bahwa Washington akan "menghantam ekonomi negara-negara yang membeli minyak murah dari Rusia," yang sebelumnya dialihkan dari pasar Eropa. Langkah ini, menurut Graham, dapat menjadi pukulan telak terhadap rezim Putin.
Meskipun demikian, para pengamat menilai kecil kemungkinan Putin akan tunduk pada tekanan ekonomi tersebut. Ia diperkirakan lebih memilih untuk bertahan menghadapi resesi ekonomi jangka menengah dibandingkan menghentikan perang melalui gencatan senjata yang dipaksakan.
Namun, ketahanan ekonomi Rusia dapat berubah drastis jika sanksi baru diberlakukan, khususnya dari Amerika Serikat. Di bawah pemerintahan potensial Donald Trump, ancaman sanksi tidak hanya ditujukan kepada Rusia, tetapi juga negara-negara pembeli utama ekspor Rusia seperti Tiongkok, India, dan Brasil.
Senator AS dari Partai Republik, Lindsey Graham, bahkan secara tegas menyatakan bahwa Washington akan "menghantam ekonomi negara-negara yang membeli minyak murah dari Rusia," yang sebelumnya dialihkan dari pasar Eropa. Langkah ini, menurut Graham, dapat menjadi pukulan telak terhadap rezim Putin.
Meskipun demikian, para pengamat menilai kecil kemungkinan Putin akan tunduk pada tekanan ekonomi tersebut. Ia diperkirakan lebih memilih untuk bertahan menghadapi resesi ekonomi jangka menengah dibandingkan menghentikan perang melalui gencatan senjata yang dipaksakan.
(nng)
Lihat Juga :