Utang Prancis Membengkak Rp64.415 Triliun, Setiap Detik Bertambah Rp94,7 Juta

Jum'at, 08 Agustus 2025 - 10:49 WIB
loading...
Utang Prancis Membengkak...
PM Prancis, Francois Bayrou mendesak warganya untuk mendukung pemotongan belanja publik secara drastis, dimana Ia juga memperingatkan bahwa utang negara itu tumbuh sebesar 5.000 euro setiap detik. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Perdana Menteri Prancis , Francois Bayrou mendesak warganya untuk mendukung pemotongan belanja publik secara drastis, dimana Ia juga memperingatkan bahwa utang negara itu tumbuh sebesar 5.000 euro (USD5.784) setiap detik. Jika dirupiahkan, utang Prancis terus bertambah setiap detiknya setara dengan Rp94,7 juta.

Program pemotongan defisit senilai 43,8 miliar euro (USD50,9 miliar) yang diluncurkan bulan lalu menargetkan kesenjangan anggaran yang mencapai 5,8% dari PDB tahun lalu – hampir dua kali lipat dari batas 3% Uni Eropa. Bayrou telah membunyikan alarm, dengan menekankan bahwa beban utang merupakan "bahaya fatal," sambil bersikeras langkah-langkah keras saat ini tidak dapat dihindari.

Baca Juga: Busyet! Utang Pemerintah Prancis Melesat Lebih Rp37.000 Triliun

Perdana Menteri (PM) Prancis, Francois Bayrou mencari dukungan publik untuk menerima rencana pemotongan anggaran secara luas. Dalam sebuah video yang diposting di YouTube, Ia berusaha meyakinkan publik bahwa pengurangan anggaran yang direncanakan sangat penting untuk mencegah krisis fiskal.

”Utang kita mencapai 3,4 triliun euro (setara Rp64.415 triliun) – angka yang begitu besar sehingga sulit untuk dibayangkan,” ungkap PM Prancis, Francois Bayrou.

Diperingatkan juga olehnya bahwa pembayaran bunga saja bisa mencapai 100 miliar euro setiap tahun pada tahun 2029 jika tidak ada tindakan yang diambil (penghematan).

Usulan yang dilontarkan PM Prancis mencakup penghapusan dua hari libur nasional untuk meningkatkan produktivitas, pemotongan pekerjaan di sektor publik, dan pembekuan pembayaran kesejahteraan serta pensiun, yang biasanya terindeks dengan inflasi. Rencana ini telah memicu reaksi negatif, di mana partai-partai sayap kiri menuduh pemerintah mengutamakan pengeluaran militer daripada kesejahteraan sosial.

Bahkan pemimpin La France Insoumise, Jean-Luc Melenchon menyerukan pengunduran diri Bayrou, dengan mengatakan "ketidakadilan ini tidak bisa ditoleransi lagi."

Sementara itu anggaran militer Prancis diperkirakan akan naik menjadi 64 miliar euro pada tahun 2027 - dua kali lipat dari posisi 2017. Presiden Emmanuel Macron berjanji menambah anggaran sebesar 6,5 miliar euro dalam dua tahun ke depan, dengan alasan meningkatnya ancaman terhadap keamanan Eropa .

Sebuah proyeksi sektor pertahanan baru-baru ini memperingatkan bahwa 'perang besar' dapat pecah pada tahun 2030, dengan menyebutkan Moskow sebagai salah satu ancaman utama. Di sisi lain Kremlin membantah klaim bahwa mereka merencanakan untuk menyerang Barat, serta menuduh NATO menggunakan Rusia sebagai dalih untuk militarisasi.

Baca Juga: Perekonomian China dalam Pusaran Krisis Terbesar sejak Dua Dekade Terakhir

Bayrou, yang selamat dari delapan mosi tidak percaya, membutuhkan dukungan parlemen untuk proposisinya sebelum anggaran disampaikan pada bulan Oktober. Partai sayap kanan National Rally menolak rencana tersebut dan menyerukan pemungutan suara lain tentang pemerintahannya.

Sebuah survei oleh lembaga polling Elabe yang dipublikasikan pada 31 Juli menunjukkan bahwa hanya 12% rakyat Prancis yang mempercayai Bayrou – persentase terendah sejak ia menjadi Perdana Menteri pada bulan Desember.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
Hasil Lawatan dari Prancis,...
Hasil Lawatan dari Prancis, Prabowo Bawa Oleh-oleh Kerja Sama Rp61,25 Triliun
Kadin Ungkap Nilai Dagang...
Kadin Ungkap Nilai Dagang Indonesia-Prancis Tembus USD1 Miliar di Kuartal I-2026
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Rekomendasi
Ini Respons KPAI usai...
Ini Respons KPAI usai Didatangi Ruben Onsu yang Adukan Polemik Hak Asuh Anak
Lebaran Anak Yatim:...
Lebaran Anak Yatim: Antara Dalil, Tradisi, dan Makna Kepedulian Sosial
Polisi Sebut Pelimpahan...
Polisi Sebut Pelimpahan Roy Suryo dan Tifa Sesuai Prosedur KUHAP
Berita Terkini
MNC Sekuritas dan BRI...
MNC Sekuritas dan BRI Manajemen Investasi Ajak Investor Raih Reward Reksa Dana Total Rp2,5 Juta
Kinerja Apik 2025, INALUM...
Kinerja Apik 2025, INALUM Cetak Rekor Kinerja dan Operasional Tertinggi
3,88 Juta Lowongan Kerja...
3,88 Juta Lowongan Kerja Ramah Lingkungan Bakal Terbuka di 2026, Catat Sektor Industrinya
Lindungi Generasi Muda,...
Lindungi Generasi Muda, Sejumlah Elemen Dukung Standardisasi Kemasan Rokok
Mendag Busan Pastikan...
Mendag Busan Pastikan Harga MinyaKita Tak Jadi Naik
Semringah di Pembukaan,...
Semringah di Pembukaan, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,25% ke 6.099
Infografis
Indonesia-AS Teken Perjanjian...
Indonesia-AS Teken Perjanjian Dagang Resiprokal: Kabar Baik buat 4 Juta Buruh Tekstil
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved