Kisah Sipetek Food, Banting Setir Karyawan Migas Jadi Pengepul Sampah Ikan Beromzet Ratusan Juta
Selasa, 09 September 2025 - 18:35 WIB
loading...
A
A
A
“Ikan-ikan ini dianggap sampah oleh para pembudidaya itu. Kata dosen saya, semua yang di hidup di air itu halal dan bisa dimakan, bahkan kapal selam,” seloroh pria lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Para nelayan dengan cuma-cuma memberikan ikan petek itu kepada Aang. Dia belajar mengolah ikan itu menjadi kripik. Pada tahap awal produksi Sipetek, kemasan yang dibuat Aang sangat sederhana yakni plastik dengan logo Sipetek warna hitam putih hasil photocopy.
“Jangan dipikir setelah bekerja di oil and gas company, saya punya banyak uang. Ada, tapi enggak gede. Jadi pakai yang ada dulu, yang penting kita jalan. Jadi bisnis itu jangan nunggu sempurna dulu. Mulai dulu aja sama apa yang kita punya. Nanti pelan-pelan kita belajar, berkembang,” kata Aang.
Aang yang mengaku tak pernah punya pengalaman bisnis ini juga rajin mencari ilmu kepada pengusaha-pengusaha UMKM yang sudah sukses. Meski berusia muda, Aang mengaku tak paham caranya menjual produk Sipetek.
“Dulu jualan saya ya cuma naik motor sama Bapak buat dititip ke warung-warung. Saya ke arah Cianjur, Bapak ke arah Bandung,” ungkap dia.
Kisah kerja keras Aang untuk mengembangkan Sipetek akhirnya berbuah manis ketika ia bergabung ke program pembinaan UMKM Sampoerna Entrepreneurship Training Center oleh Sampoerna pada Tahun 2014. Ia mendapatkan pembinaan berkelanjutan dan kesempatan berjejaring.
Program SETC, yang berada di bawah Payung Program Keberlanjutan ”Sampoerna untuk Indonesia”, telah melatih lebih dari 97.000 peserta, membina 1.600 UMKM, dengan lebih dari 200 UMKM berhasil ekspor, dan 80 persen di antaranya telah terdigitalisasi. Didukung dengan fasilitas pelatihan seluas 27 hektare di Pasuruan, Jawa Timur, SETC menjadi pusat pengembangan UMKM yang berdaya saing global.
Para nelayan dengan cuma-cuma memberikan ikan petek itu kepada Aang. Dia belajar mengolah ikan itu menjadi kripik. Pada tahap awal produksi Sipetek, kemasan yang dibuat Aang sangat sederhana yakni plastik dengan logo Sipetek warna hitam putih hasil photocopy.
“Jangan dipikir setelah bekerja di oil and gas company, saya punya banyak uang. Ada, tapi enggak gede. Jadi pakai yang ada dulu, yang penting kita jalan. Jadi bisnis itu jangan nunggu sempurna dulu. Mulai dulu aja sama apa yang kita punya. Nanti pelan-pelan kita belajar, berkembang,” kata Aang.
Aang yang mengaku tak pernah punya pengalaman bisnis ini juga rajin mencari ilmu kepada pengusaha-pengusaha UMKM yang sudah sukses. Meski berusia muda, Aang mengaku tak paham caranya menjual produk Sipetek.
“Dulu jualan saya ya cuma naik motor sama Bapak buat dititip ke warung-warung. Saya ke arah Cianjur, Bapak ke arah Bandung,” ungkap dia.
Kisah kerja keras Aang untuk mengembangkan Sipetek akhirnya berbuah manis ketika ia bergabung ke program pembinaan UMKM Sampoerna Entrepreneurship Training Center oleh Sampoerna pada Tahun 2014. Ia mendapatkan pembinaan berkelanjutan dan kesempatan berjejaring.
Program SETC, yang berada di bawah Payung Program Keberlanjutan ”Sampoerna untuk Indonesia”, telah melatih lebih dari 97.000 peserta, membina 1.600 UMKM, dengan lebih dari 200 UMKM berhasil ekspor, dan 80 persen di antaranya telah terdigitalisasi. Didukung dengan fasilitas pelatihan seluas 27 hektare di Pasuruan, Jawa Timur, SETC menjadi pusat pengembangan UMKM yang berdaya saing global.
Lihat Juga :