Tingkatkan Produktivitas Petani, RPN Gelar Pelatihan Budidaya Sawit di Labusel
Jum'at, 26 September 2025 - 11:11 WIB
loading...
PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) kembali menyelenggarakan pelatihan bagi petani sawit, kali ini dengan fokus pada modul Teknis Budidaya Kelapa Sawit. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) kembali menyelenggarakan pelatihan bagi petani sawit, kali ini dengan fokus pada modul 'Teknis Budidaya Kelapa Sawit'. Pelatihan ini diikuti oleh 99 petani dari Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), Sumatera Utara, dengan tujuan utama untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka.
Kegiatan yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDPKS) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian ini berlangsung selama lima hari, mulai 22 hingga 26 September 2025, di sebuah hotel ternama di Medan. Selama pelatihan, para peserta mendapatkan materi dari narasumber ahli di bidangnya yang didatangkan dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), serta berkesempatan mengunjungi kebun PPKS Unit Marihat.
Baca Juga: PT RPN dan BPDP Gelar Pelatihan Tingkatkan Keterampilan Petani Sawit di Labusel
Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit PT RPN, Dr. Winarna, menyampaikan bahwa pelatihan ini adalah kesempatan langka yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. "Manfaatkan kesempatan ini dengan baik, serap dan gali informasi terkait teknis budidaya kelapa sawit dari para narasumber sehingga dapat meningkatkan produktivitas," ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat (26/9).
Dia berharap para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di lapangan dan menjaga komunikasi setelah pelatihan. "Banyak persoalan yang harus dibedah dan dicari solusinya dalam hal budidaya kelapa sawit, mulai dari persiapan lahan hingga panen. Kami berharap komunikasi tetap terjalin untuk saling berbagi dan mengatasi masalah," tambahnya.
Menurutnya, produktivitas kelapa sawit nasional, khususnya di tingkat petani, masih tergolong rendah, padahal potensi untuk mencapai 30 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare per tahun sangat mungkin ditingkatkan. "Melalui pelatihan ini, kita bisa maju bersama dan mencapai kesetaraan produksi serta produktivitas di tingkat petani sawit," jelasnya.
Senada, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ir. Baginda Siagian, secara virtual menyatakan bahwa salah satu tantangan terbesar sektor ini adalah produktivitas yang masih rendah, yaitu 3,3 hingga 3,5 ton CPO (Crude Palm Oil) per hektare per tahun. Padahal, potensinya bisa mencapai 5 hingga 6 ton CPO per hektare per tahun.
"Melalui kerja sama dengan BPDPKS, Ditjenbun, dan lembaga pelatihan seperti PT RPN, kita berupaya meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani," kata Baginda.
Baca Juga: Kementan dan Pupuk Kaltim Jamin Ketersediaan Pupuk Bersubsidi
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) petani, mengingat 42% atau sekitar 6 juta hektare dari total 16,8 juta hektare lahan sawit nasional dikelola oleh petani rakyat.
Sementara, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumatera Utara, M. Zakir Syarif Daulay, juga menyoroti pentingnya pelatihan ini. Ia membandingkan bahwa meskipun Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia, produktivitasnya masih kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia.
"Peningkatan kualitas SDM sangat penting. Kami berharap melalui pelatihan teknis budidaya ini, produktivitas dapat meningkat dan kesejahteraan petani terjamin," jelasnya.
Kegiatan yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDPKS) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian ini berlangsung selama lima hari, mulai 22 hingga 26 September 2025, di sebuah hotel ternama di Medan. Selama pelatihan, para peserta mendapatkan materi dari narasumber ahli di bidangnya yang didatangkan dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), serta berkesempatan mengunjungi kebun PPKS Unit Marihat.
Baca Juga: PT RPN dan BPDP Gelar Pelatihan Tingkatkan Keterampilan Petani Sawit di Labusel
Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit PT RPN, Dr. Winarna, menyampaikan bahwa pelatihan ini adalah kesempatan langka yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. "Manfaatkan kesempatan ini dengan baik, serap dan gali informasi terkait teknis budidaya kelapa sawit dari para narasumber sehingga dapat meningkatkan produktivitas," ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat (26/9).
Dia berharap para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di lapangan dan menjaga komunikasi setelah pelatihan. "Banyak persoalan yang harus dibedah dan dicari solusinya dalam hal budidaya kelapa sawit, mulai dari persiapan lahan hingga panen. Kami berharap komunikasi tetap terjalin untuk saling berbagi dan mengatasi masalah," tambahnya.
Menurutnya, produktivitas kelapa sawit nasional, khususnya di tingkat petani, masih tergolong rendah, padahal potensi untuk mencapai 30 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare per tahun sangat mungkin ditingkatkan. "Melalui pelatihan ini, kita bisa maju bersama dan mencapai kesetaraan produksi serta produktivitas di tingkat petani sawit," jelasnya.
Senada, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ir. Baginda Siagian, secara virtual menyatakan bahwa salah satu tantangan terbesar sektor ini adalah produktivitas yang masih rendah, yaitu 3,3 hingga 3,5 ton CPO (Crude Palm Oil) per hektare per tahun. Padahal, potensinya bisa mencapai 5 hingga 6 ton CPO per hektare per tahun.
"Melalui kerja sama dengan BPDPKS, Ditjenbun, dan lembaga pelatihan seperti PT RPN, kita berupaya meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani," kata Baginda.
Baca Juga: Kementan dan Pupuk Kaltim Jamin Ketersediaan Pupuk Bersubsidi
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) petani, mengingat 42% atau sekitar 6 juta hektare dari total 16,8 juta hektare lahan sawit nasional dikelola oleh petani rakyat.
Sementara, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumatera Utara, M. Zakir Syarif Daulay, juga menyoroti pentingnya pelatihan ini. Ia membandingkan bahwa meskipun Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia, produktivitasnya masih kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia.
"Peningkatan kualitas SDM sangat penting. Kami berharap melalui pelatihan teknis budidaya ini, produktivitas dapat meningkat dan kesejahteraan petani terjamin," jelasnya.
(nng)
Lihat Juga :