Bak Rampasan Perang, Eropa Mau Bagi-bagi Aset Beku Rusia

Kamis, 02 Oktober 2025 - 22:28 WIB
loading...
Bak Rampasan Perang,...
Para pemimpin Uni Eropa menunjukkan dukungan luas terhadap rencana pemanfaatan aset Rusia yang dibekukan Barat. FOTO/iStock Photo
A A A
KOPENHAGEN - Para pemimpin Uni Eropa menunjukkan dukungan luas terhadap rencana pemanfaatan aset Rusia yang dibekukan Barat untuk menyediakan pinjaman sebesar 140 miliar euro atau setara USD165 miliar bagi Ukraina. Dukungan itu mengemuka dalam pertemuan puncak di Kopenhagen, Rabu, meski sejumlah tantangan hukum dan keuangan masih harus diatasi.

Perdana Menteri Belgia Bart De Wever menegaskan perlunya jaminan berbagi risiko jika aset Rusia yang dibekukan di negaranya digunakan untuk membiayai pinjaman tersebut. "Tidak ada uang gratis. Selalu ada konsekuensi," ujarnya kepada wartawan, Kamis (2/10), seperti dikutip dari Reuters.

Baca Juga: Pengambilan Paksa Aset Rusia Rp4.859 Triliun Berlanjut, AS Bakal Mendesak G7

De Wever meminta komitmen tertulis dari seluruh anggota Uni Eropa untuk bertanggung jawab bersama jika muncul masalah di kemudian hari. "Saya jelaskan kepada rekan-rekan kemarin bahwa saya ingin tanda tangan mereka yang menyatakan: 'Jika kita ambil uang Putin dan menggunakannya, kita semua bertanggung jawab jika terjadi masalah'," katanya.

Kekhawatiran Belgia cukup beralasan, mengingat sebagian besar aset Rusia di Eropa disimpan di negara tersebut melalui Euroclear. Hukum internasional juga melarang penyitaan aset negara berdaulat, sehingga Uni Eropa harus mencari cara agar klaim Moskow atas aset bank sentralnya tetap diakui, sambil melindungi Belgia dari potensi pembalasan Rusia.

Rencana ini semakin mendesak seiring berakhirnya bantuan milier AS untuk Kyiv dan tekanan fiskal yang dihadapi banyak pemerintah Eropa. Komisi Eropa mengusulkan pemanfaatan saldo kas dari sekuritas bank sentral Rusia yang dibekukan untuk mendukung Ukraina pada 2026 dan 2027.

Namun, Kremlin mengecam usulan tersebut sebagai “pencurian murni”. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan, rencana penggunaan aset Rusia untuk mendanai pinjaman bagi Ukraina adalah “khayalan”. “Sesuai prinsip timbal balik, setiap serangan Uni Eropa terhadap properti kami akan dibalas dengan sangat keras. Mereka pun mengetahuinya,” tegasnya.

Di sisi lain, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa eksekutif Uni Eropa akan memastikan Belgia tidak menanggung risiko sendirian. Meski demikian, De Wever juga mengkhawatirkan aspek keamanan pribadi manajemen Euroclear. “Direktur Euroclear sudah hidup dengan perlindungan ketat, jadi ini berisiko, apa yang akan kita lakukan,” ujarnya.

Baca Juga: Memiliki Bom Nuklir, Prancis Tak Tutup Kemungkinan Tembak Jatuh Jet Tempur Rusia

Rencana Komisi Eropa pada dasarnya mempercepat penggunaan reparasi Rusia yang secara teoritis akan diberikan kepada Ukraina, dengan memanfaatkan dana bank sentral yang saat ini dibekukan. Agar Belgia tidak menanggung risiko sendirian, pinjaman Uni Eropa harus dijamin oleh pemerintah negara anggota dan kemungkinan negara-negara G7 lainnya.

Para menteri keuangan G7 telah menyatakan akan meninjau berbagai opsi, termasuk penggunaan dana beku secara terkoordinasi dan sah. Hal ini memunculkan dua pertanyaan mendasar, seberapa besar kewajiban masing-masing pemerintah, dan siapa yang akan diuntungkan dari pembelian senjata Ukraina dengan pinjaman tersebut.

De Wever juga menuntut transparansi penuh dari negara-negara Eropa lainnya terkait lokasi aset Rusia yang dibekukan. Sebuah riset Parlemen Eropa menyebutkan, selain sekitar 185 miliar euro di Belgia, Prancis mungkin menyimpan 19 miliar euro, dan Luksemburg antara 5–20 miliar euro.

Diplomat tertinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, mengakui bahwa rencana pelepasan aset tersebut belum bisa dipastikan kapan siap dilaksanakan. “Belum semua mendukung. Kami masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ujarnya.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Lesca Gadai Premier...
Lesca Gadai Premier Ubah Barang Mewah Jadi Aset Resiliensi Finansial
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Rekomendasi
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Harga BYD M6 DM Dirilis:...
Harga BYD M6 DM Dirilis: Mulai Rp298 Juta, Klaim Irit 65 Km/Liter Setara Motor Matic
Stafsus Menag Tinjau...
Stafsus Menag Tinjau GKJ Nusukan Solo, Jamin Kebebasan Beribadah
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
Jakarta Beri Diskon...
Jakarta Beri Diskon BPHTB 50 Persen bagi Pembeli Rumah Pertama
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved