Akar Kegagalan Startup di Asia Tenggara, Ini Faktornya

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 14:15 WIB
loading...
Akar Kegagalan Startup...
Di tengah derasnya investasi, ekosistem startup Asia Tenggara masih seringkali diguncang kasus dan penutupan sejumlah perusahaan ternama. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Di tengah derasnya investasi, ekosistem startup Asia Tenggara masih seringkali diguncang kasus dan penutupan sejumlah perusahaan ternama. Sebuah whitepaper mengungkapkan bahwa tingginya tingkat kegagalan startup berakar pada faktor struktural dalam perancangan dan tata kelola.

Whitepaper berjudul The Corporate Venture Valley of Death, disusun oleh venture builder Wright Partners bersama konsultan inovasi MING Labs lewat program Corporate Venture Launchpad 3.0 (CVL 3.0) yang didukung EDB Singapura, menemukan bahwa problem yang sama juga banyak terjadi pada startup berbasis VC. Mulai dari kekeliruan dalam memetakan permasalahan, tata kelola yang rapuh, serta ketidakcocokan profil pendiri dengan kebutuhan skala dan disiplin eksekusi.

Baca Juga: Potensi Bisnis Startup Masih Terbuka, Intip Strateginya

Berbekal pengalaman meluncurkan tujuh ventura di bawah program CVL serta proyek bersama deretan korporasi lainnya, Wright Partners dan MING Labs menghadirkan sudut pandang praktisi tentang alasan mengapa begitu banyak startup di Asia Tenggara yang berhasil maupun gagal.

“Corporate venture building memberikan gambaran langsung ke dinamika lapangan yang menjelaskan mengapa banyak perusahaan di Asia Tenggara yang tidak mampu bertahan lama. Pada dasarnya, tanpa tata kelola yang kuat, founders yang tepat, dan disiplin eksekusi, kegagalan akan terus berulang," ungkap Founding Partner at Wright Partners, Ziv Ragowsky.

Kegagalan struktural di ekosistem startup Asia Tenggara

Secara global, sekitar 90% startup mengalami kegagalan, termasuk startup di Asia Tenggara. Namun menurut Wright Partners, penyebab kegagalan startup di kawasan ini bukan hanya sekadar siklus pendanaan atau sentimen investor, melainkan masalah utamanya adalah kegagalan struktural yang menjalar di seluruh ekosistem.

Salah satu isu terbesar adalah tata kelola yang lemah. Dari unicorn yang didukung VC hingga ventura korporat, terlalu banyak startup di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang kolaps akibat skandal, lemahnya pengawasan, dan ketidaktepatan pengelolaan.

Pada saat yang sama, Asia Tenggara menghadapi kesenjangan kualitas pendiri: dibandingkan Silicon Valley, jumlah founder berpengalaman dan pengusaha “gelombang kedua” (second-time founders) di kawasan Asia Tenggara masih lebih sedikit. Akibatnya, banyak perusahaan berada di tangan pemimpin yang minim pengalaman scale-up atau disiplin tata kelola.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Danamon Prasmul EduWealth...
Danamon Prasmul EduWealth Menjawab Tren Kenaikan Biaya Pendidikan: Ekosistem Pendanaan dan Proteksi
Konsisten Jaga Kinerja...
Konsisten Jaga Kinerja dan Daya Saing, MARK Raih Penghargaan Nasional
Menutup Kesenjangan...
Menutup Kesenjangan Komunikasi Talenta Indonesia untuk Genjot Kinerja Bisnis di Era AI
Japan-ASEAN Startup...
Japan-ASEAN Startup Business Matching Fair 2026, Danamon Dukung Pertumbuhan Startup RI
Naik 81%, Laba PTPN...
Naik 81%, Laba PTPN Group Tembus 6,39 Triliun
Prudential Indonesia...
Prudential Indonesia Tegaskan Komitmen Tata Kelola Guna Jaga Kepercayaan Nasabah
Beauty Matchmaking 2026,...
Beauty Matchmaking 2026, Otto Media Perkuat Koneksi Brand Kecantikan-Kreator Konten
Modernisasi Infrastruktur...
Modernisasi Infrastruktur TI Kunci Efisiensi dan Ketahanan Bisnis di Era Digital
Legislator PDIP Harap...
Legislator PDIP Harap Dirut Baru Benahi Tata Kelola Bank Sumsel Babel
Rekomendasi
12 Kapolda Lulusan Akpol...
12 Kapolda Lulusan Akpol 1994 Teman Satu Angkatan Kakortastipidkor Polri Irjen Pol Totok Suharyanto
Bellingham Tampar Pemain...
Bellingham Tampar Pemain Argentina karena Selebrasi Provokatif, Laga Semifinal Minim Sportivitas
Indonesia Sabet 1 Emas,...
Indonesia Sabet 1 Emas, 2 Perak, dan 2 Perunggu di Olimpiade Fisika Internasional 2026
Berita Terkini
Heboh Pengadaan Kipas...
Heboh Pengadaan Kipas Angin Kopdes Rp1,8 Triliun, Menkop Ferry: Saya Tidak Tahu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Percepat Pasok BBM ke SPBU, Ajak Masyarakat Awasi Penyalahgunaan Subsidi
Trump Batal Pungut Biaya...
Trump Batal Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz, Negara Teluk Janji Investasi Jumbo ke AS
Perang dengan AS Kian...
Perang dengan AS Kian Memanas, Iran Ancam Hentikan Semua Ekspor Energi dari Timur Tengah
Menteri PU Jawab Isu...
Menteri PU Jawab Isu Keponakan Jadi Komisaris: Lu Bisa Buktikan, Gue Kasih Umrah
Menteri Dody Akui Mutasi...
Menteri Dody Akui Mutasi Pejabat PU, Tapi Tepis karena Bocornya Surat Perjalanan ke AS
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved