Akar Kegagalan Startup di Asia Tenggara, Ini Faktornya
Sabtu, 11 Oktober 2025 - 14:15 WIB
loading...
A
A
A

Faktor lain yang turut memperparah situasi adalah, banyak startup mengejar ide yang tengah populer, bukan menyelesaikan kebutuhan nyata dan potensi monetisasinya. Pada saat yang sama, pendanaan ventura pun kerap menyuntik dana ke model bisnis yang masih dalam tahap pematangan, sehingga terbentuk dinamika pertumbuhan yang didorong ekspektasi dan belum tentu berkelanjutan.
Di pasar berkembang seperti Indonesia, hambatan struktural, mulai dari rantai pasok yang terpecah hingga ketidakpastian regulasi menjadi faktor yang kerap menyulitkan eksekusi.
“Yang kami lihat di Asia Tenggara bukan semata soal ketersediaan modal, melainkan soal struktur,” ujar Arnold Egg, Founding Partner di Wright Partners.
“Tata kelola yang belum kuat, pendiri yang kurang berpengalaman, serta kecenderungan memprioritaskan tren jangka pendek dibanding membangun ketahanan model bisnis merupakan pola yang berulang di banyak negara, termasuk Indonesia. Tanpa pembenahan hal-hal mendasar tersebut, sebesar apa pun investasi sulit melahirkan bisnis yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Beberapa contoh yang menimpa sejumlah startup ternama di Indonesia adalah TaniHub (agritech), Investree (fintech), dan eFishery (akuakultur). Meski sempat tumbuh cepat dengan dukungan investor kuat, kinerja mereka tersendat oleh celah tata kelola, ekspansi yang sulit dipertahankan, serta guncangan eksternal.
Peristiwa ini menggambarkan bahwa startup yang didanai besar dan sering menjadi sorotan pun bisa goyah dalam waktu singkat jika fondasinya kurang tangguh, entah karena tata kelola yang lemah, model bisnis yang rentan, atau volatilitas pasar.
Lihat Juga :