Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina Siap Operasikan RFCC Terbesar di Balikpapan Kuartal IV-2025
Rabu, 15 Oktober 2025 - 19:08 WIB
loading...
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) terus menunjukkan keseriusannya membangun infrastruktur energi strategis untuk memperkuat ketahanan energi. FOTO/dok.Pertamina
A
A
A
JAKARTA - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) terus menunjukkan keseriusannya membangun infrastruktur energi strategis untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, perusahaan yang merupakan Subholding Refining & Petrochemical PT Pertamina (Persero) itu bersiap mengoperasikan unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) terbesar dalam portofolio Pertamina pada kuartal IV-2025.
Pjs Corporate Secretary KPI Milla Suciyani menjelaskan, tahap krusial pemasangan katalis perdana pada unit RFCC telah berhasil diselesaikan pada Agustus lalu. Pencapaian tersebut menjadi penanda kesiapan fasilitas pengolahan minyak berteknologi tinggi yang dirancang untuk mengolah 90.000 barel minyak berat per hari menjadi produk bernilai tambah seperti gasoline, LPG, dan propylene—bahan baku penting industri petrokimia nasional.
"Unit ini nantinya berperan penting untuk mengolah minyak berat menjadi produk bernilai tinggi. Dengan keberhasilan tahap ini, Kilang Balikpapan semakin dekat menuju pengoperasian RFCC," ujar Milla.
Baca Juga: Pertamina Bakal Beli Minyak dari Sumur Rakyat dengan Harga 80% ICP
Kehadiran RFCC Balikpapan, yang kapasitasnya lebih besar dibanding unit serupa di Kilang Cilacap 62.000 barel per hari menjadi jantung dari proyek RDMP Balikpapan. Secara keseluruhan, proyek strategis nasional ini akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari, sekaligus memperkuat peran KPI sebagai penopang utama ketahanan energi nasional.
"Dengan beroperasinya RFCC Balikpapan, kapasitas dan kapabilitas KPI akan semakin kuat. Ini mendukung kemandirian energi karena kilang dapat menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi," kata Milla.
![Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina Siap Operasikan RFCC Terbesar di Balikpapan Kuartal IV-2025]()
Tangki Lawe-Lawe Terbesar di Asia Tenggara
Untuk mendukung suplai bahan baku ke kilang yang lebih besar, Pertamina juga menuntaskan pembangunan dua tangki raksasa penyimpanan minyak mentah di Terminal Lawe-Lawe, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Masing-masing tangki berkapasitas 1 juta barel dengan diameter mencapai 110 meter, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara.
Kedua tangki tersebut menambah kapasitas inventori kilang sebanyak 2 juta barel, yang berfungsi sebagai penyangga pasokan minyak mentah menuju Balikpapan. Terminal Lawe-Lawe juga dilengkapi dengan Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 DWT serta jaringan pipa sepanjang 18,9 kilometer, menghubungkan terminal dengan Kilang Balikpapan. Pengisian perdana tangki raksasa ini ditargetkan berlangsung pada awal November 2025.
"Proyek tangki raksasa ini memiliki nilai TKDN sebesar 40,49 persen dan memberikan multiplier effect signifikan melalui penyerapan tenaga kerja lokal serta tumbuhnya industri pendukung," jelas Milla.
Baca Juga: Dirut Pertamina Sangkal Pertamina Monopoli BBM di Indonesia
Lebih dari sekadar menambah kapasitas produksi, RDMP Balikpapan juga berperan dalam peningkatan kualitas produk bahan bakar. Proyek ini akan menaikkan standar produk dari Euro 2 menjadi setara Euro 5 yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan komitmen pemerintah terhadap transisi energi bersih dan berkelanjutan.
"Dampak ekonominya juga besar, baik bagi daerah maupun nasional. Selain menciptakan lapangan kerja, proyek ini membuka peluang pertumbuhan industri lokal dan memperkuat rantai pasok dalam negeri," tambahnya.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai RDMP Balikpapan sebagai langkah strategis mempercepat peningkatan kapasitas kilang dalam negeri. Proyek tersebut, kata dia, meningkatkan Nelson Complexity Index (NCI) Kilang Balikpapan dari 3,7 menjadi 8, menunjukkan kemampuan kilang menghasilkan produk bernilai tinggi semakin besar.
"Keberadaan proyek RDMP dan Grass Root Refinery (GRR) merupakan langkah tepat dalam meningkatkan kapasitas serta kualitas produk Pertamina," ujarnya.
Komaidi mengingatkan selama satu dekade terakhir penambahan kapasitas kilang di Indonesia hanya mencapai 125 ribu barel per hari jauh tertinggal dibanding Asia Pasifik yang bertambah 3,73 juta barel per hari. Dengan konsumsi nasional sekitar 1,6 juta barel per hari dan produksi kilang hanya 1 juta barel sehingga Indonesia masih harus mengimpor sekitar 600 ribu barel BBM per hari.
Sebab itu, kehadiran RDMP Balikpapan menjadi terobosan penting untuk mengejar ketertinggalan, menekan impor BBM, dan memperkuat kemandirian energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan domestik.
Pjs Corporate Secretary KPI Milla Suciyani menjelaskan, tahap krusial pemasangan katalis perdana pada unit RFCC telah berhasil diselesaikan pada Agustus lalu. Pencapaian tersebut menjadi penanda kesiapan fasilitas pengolahan minyak berteknologi tinggi yang dirancang untuk mengolah 90.000 barel minyak berat per hari menjadi produk bernilai tambah seperti gasoline, LPG, dan propylene—bahan baku penting industri petrokimia nasional.
"Unit ini nantinya berperan penting untuk mengolah minyak berat menjadi produk bernilai tinggi. Dengan keberhasilan tahap ini, Kilang Balikpapan semakin dekat menuju pengoperasian RFCC," ujar Milla.
Baca Juga: Pertamina Bakal Beli Minyak dari Sumur Rakyat dengan Harga 80% ICP
Kehadiran RFCC Balikpapan, yang kapasitasnya lebih besar dibanding unit serupa di Kilang Cilacap 62.000 barel per hari menjadi jantung dari proyek RDMP Balikpapan. Secara keseluruhan, proyek strategis nasional ini akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari, sekaligus memperkuat peran KPI sebagai penopang utama ketahanan energi nasional.
"Dengan beroperasinya RFCC Balikpapan, kapasitas dan kapabilitas KPI akan semakin kuat. Ini mendukung kemandirian energi karena kilang dapat menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi," kata Milla.
.jpg)
Tangki Lawe-Lawe Terbesar di Asia Tenggara
Untuk mendukung suplai bahan baku ke kilang yang lebih besar, Pertamina juga menuntaskan pembangunan dua tangki raksasa penyimpanan minyak mentah di Terminal Lawe-Lawe, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Masing-masing tangki berkapasitas 1 juta barel dengan diameter mencapai 110 meter, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara.
Kedua tangki tersebut menambah kapasitas inventori kilang sebanyak 2 juta barel, yang berfungsi sebagai penyangga pasokan minyak mentah menuju Balikpapan. Terminal Lawe-Lawe juga dilengkapi dengan Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 DWT serta jaringan pipa sepanjang 18,9 kilometer, menghubungkan terminal dengan Kilang Balikpapan. Pengisian perdana tangki raksasa ini ditargetkan berlangsung pada awal November 2025.
"Proyek tangki raksasa ini memiliki nilai TKDN sebesar 40,49 persen dan memberikan multiplier effect signifikan melalui penyerapan tenaga kerja lokal serta tumbuhnya industri pendukung," jelas Milla.
Baca Juga: Dirut Pertamina Sangkal Pertamina Monopoli BBM di Indonesia
Lebih dari sekadar menambah kapasitas produksi, RDMP Balikpapan juga berperan dalam peningkatan kualitas produk bahan bakar. Proyek ini akan menaikkan standar produk dari Euro 2 menjadi setara Euro 5 yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan komitmen pemerintah terhadap transisi energi bersih dan berkelanjutan.
"Dampak ekonominya juga besar, baik bagi daerah maupun nasional. Selain menciptakan lapangan kerja, proyek ini membuka peluang pertumbuhan industri lokal dan memperkuat rantai pasok dalam negeri," tambahnya.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai RDMP Balikpapan sebagai langkah strategis mempercepat peningkatan kapasitas kilang dalam negeri. Proyek tersebut, kata dia, meningkatkan Nelson Complexity Index (NCI) Kilang Balikpapan dari 3,7 menjadi 8, menunjukkan kemampuan kilang menghasilkan produk bernilai tinggi semakin besar.
"Keberadaan proyek RDMP dan Grass Root Refinery (GRR) merupakan langkah tepat dalam meningkatkan kapasitas serta kualitas produk Pertamina," ujarnya.
Komaidi mengingatkan selama satu dekade terakhir penambahan kapasitas kilang di Indonesia hanya mencapai 125 ribu barel per hari jauh tertinggal dibanding Asia Pasifik yang bertambah 3,73 juta barel per hari. Dengan konsumsi nasional sekitar 1,6 juta barel per hari dan produksi kilang hanya 1 juta barel sehingga Indonesia masih harus mengimpor sekitar 600 ribu barel BBM per hari.
Sebab itu, kehadiran RDMP Balikpapan menjadi terobosan penting untuk mengejar ketertinggalan, menekan impor BBM, dan memperkuat kemandirian energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan domestik.
(nng)
Lihat Juga :