Kementerian ESDM: Manajemen Risiko Mutlak bagi Bisnis Migas
Kamis, 11 Desember 2025 - 19:55 WIB
loading...
Diskusi Anticipating Business Risk to Secure Growth in The Energy and Mineral Resources Sector yang digelar E2S di Jakarta, Rabu, (10/12/2025).
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan perhatian serius terhadap penerapan manajemen risiko di perusahaan yang bergerak di sektor migas. Faktor mitigasi risiko menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan guna mencegah bahaya pada operasional di sektor energi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Rizwi JH mengatakan, manajemen risiko merupakan hal yang serius karena berkaitan dengan keselamatan dan keberlanjutan operasi perusahaan.
"Beberapa faktor penting yang harus dilakukan mulai dari identifikasi, evaluasi dan pengendalian berbagai risiko yang dapat membahayakan keselamatan operasional harus menjadi perhatian," katanya dalam diskusi "Anticipating Business Risk to Secure Growth in The Energy and Mineral Resources Sector" yang digelar E2S di Jakarta, Rabu, (10/12/2025).
Menurut Rizwi, kemajuan sistem informasi saat ini diikuti oleh risiko-risiko baru di sektor energi, sehingga perlu kolaborasi untuk membangun sistem siber yang aman dan mendorong kemandirian teknologi nasional. Dalam era digital yang terus berkembang pesat, tegas dia, keamanan informasi menjadi hal krusial. "Ancaman seperti seangan cyber dapat menimbulkan dampak merusak, maka penting melakulan pendekatan terstruktur dan terukur,” kata Rizwi.
Dalam diskusi tersebut, hadir pula Direktur Manajemen Risiko PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk Eri Surya Kelana dan Vice President Risk Strategy & Governance Pertamina International Shipping (PIS) Nico Dhamora sebagai pembicara.
Baca Juga: Profil VP Sekretaris SKK Migas yang Meninggal Akibat Kecelakaan Sepeda di Sudirman
Keduanya menyampaikan bahwa penerapan manajemen risiko di perusahaan menjadi hal krusial guna memperkuat kelangsungan bisnis perusahaan. Untuk PGN, jelas Eri, perseroan terus memperkuat kelangsungan bisnis melalui penerapan Business Continuity Management System (BCMS) untuk menjawab tantangan industri gas bumi.
Penerapan BCMS menurutnya memungkinkan PGN mengidentifikasi dampak risiko bisnis, menyusun strategi mitigasi, serta mengembangkan prosedur pemulihan yang efektif demi memastikan layanan optimal kepada pelanggan.
Eri menambahkan, sebagai perusahaan energi yang mengelola infrastruktur gas bumi nasional, PGN berkomitmen meningkatkan ketahanan operasional melalui BCMS. Sejak 2022, kata dia, PGN telah mengadopsi sistem ini dan memperoleh sertifikasi ISO 22301:2019 pada 2024 & 2025, yang menjadi bukti standar internasional dalam pengelolaan kelangsungan bisnis.
"BCMS ini diaktifkan ketika terjadi major issue yang mengancam kelangsungan bisnis perusahaan. Untuk pelaksanaanya, ada 55 BCP (Bussiness Continuity Plan)," paparnya.
Eri menekankan bahwa PGN selalu mengidentifikasi risiko-risiko yang terjadi pada saat pembangunan maupun pengelolaan infrastruktur gas bumi, termasuk yang berlokasi di lepas pantai karena bersinggungan dengan ekosistem laut seperti Pipa SSWJ (South-Sumatera-West-Java). Dari identifikasi risiko, PGN dapat memitigasi risiko yang mungkin terjadi pada bisnis yang memiliki tingkat hazard cukup tinggi.
Selain BCMS, dia menjelaskan bahwa PGN juga memiliki berbagai perangkat manajemen risiko lainnya, seperti operational risk, project & counterparty risk, contingency plan, strategic risk, stress testing dan emerging risk report.
"PGN menegaskan bahwa manajemen risiko berperan penting dalam memastikan berjalannya operasional perusahaan sebagai backbone infrastruktur gas bumi nasional. Dengan risiko yang semakin kompleks, kami memperkuat risk intelligence agar PGN tetap tangguh, adaptif, dan berkelanjutan," kata Eri.
Baca Juga: DPR Ungkap Nasib Revisi UU Migas, Tinggal Tunggu Persetujuan Pemerintah
Sementara itu, Nico Dhamora mengatakan Pertamina International Shipping telah melakukan transformasi manajemen risiko dari fungsi pendukung menjadi penggerak strategis melalui penguatan insfrastruktur, digitalisasi kontrol, dan internalisasi budaya risiko. "Kadang-kadang ketika terjadi krisis semua menjadi panik, jadi memang harus ada culture. Jadi kalau ada krisis, ada tata kelolanya," jelas Nico.
Dia mengungkapkan manajemen risiko tidak hanya melibatkan upaya internal, tetapi juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak eksternal. PIS terus berkomunikasi dengan regulator, pemasok, dan klien untuk memastikan bahwa setiap tahap operasional memenuhi standar yang telah ditetapkan.
"Jadi ada komunikasi dua arah. Ada komunikasi dan monitoring. Efisiensi bisa terjadi kalau ada kolaborasi dan komunikasi," tutupnya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Rizwi JH mengatakan, manajemen risiko merupakan hal yang serius karena berkaitan dengan keselamatan dan keberlanjutan operasi perusahaan.
"Beberapa faktor penting yang harus dilakukan mulai dari identifikasi, evaluasi dan pengendalian berbagai risiko yang dapat membahayakan keselamatan operasional harus menjadi perhatian," katanya dalam diskusi "Anticipating Business Risk to Secure Growth in The Energy and Mineral Resources Sector" yang digelar E2S di Jakarta, Rabu, (10/12/2025).
Menurut Rizwi, kemajuan sistem informasi saat ini diikuti oleh risiko-risiko baru di sektor energi, sehingga perlu kolaborasi untuk membangun sistem siber yang aman dan mendorong kemandirian teknologi nasional. Dalam era digital yang terus berkembang pesat, tegas dia, keamanan informasi menjadi hal krusial. "Ancaman seperti seangan cyber dapat menimbulkan dampak merusak, maka penting melakulan pendekatan terstruktur dan terukur,” kata Rizwi.
Dalam diskusi tersebut, hadir pula Direktur Manajemen Risiko PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk Eri Surya Kelana dan Vice President Risk Strategy & Governance Pertamina International Shipping (PIS) Nico Dhamora sebagai pembicara.
Baca Juga: Profil VP Sekretaris SKK Migas yang Meninggal Akibat Kecelakaan Sepeda di Sudirman
Keduanya menyampaikan bahwa penerapan manajemen risiko di perusahaan menjadi hal krusial guna memperkuat kelangsungan bisnis perusahaan. Untuk PGN, jelas Eri, perseroan terus memperkuat kelangsungan bisnis melalui penerapan Business Continuity Management System (BCMS) untuk menjawab tantangan industri gas bumi.
Penerapan BCMS menurutnya memungkinkan PGN mengidentifikasi dampak risiko bisnis, menyusun strategi mitigasi, serta mengembangkan prosedur pemulihan yang efektif demi memastikan layanan optimal kepada pelanggan.
Eri menambahkan, sebagai perusahaan energi yang mengelola infrastruktur gas bumi nasional, PGN berkomitmen meningkatkan ketahanan operasional melalui BCMS. Sejak 2022, kata dia, PGN telah mengadopsi sistem ini dan memperoleh sertifikasi ISO 22301:2019 pada 2024 & 2025, yang menjadi bukti standar internasional dalam pengelolaan kelangsungan bisnis.
"BCMS ini diaktifkan ketika terjadi major issue yang mengancam kelangsungan bisnis perusahaan. Untuk pelaksanaanya, ada 55 BCP (Bussiness Continuity Plan)," paparnya.
Eri menekankan bahwa PGN selalu mengidentifikasi risiko-risiko yang terjadi pada saat pembangunan maupun pengelolaan infrastruktur gas bumi, termasuk yang berlokasi di lepas pantai karena bersinggungan dengan ekosistem laut seperti Pipa SSWJ (South-Sumatera-West-Java). Dari identifikasi risiko, PGN dapat memitigasi risiko yang mungkin terjadi pada bisnis yang memiliki tingkat hazard cukup tinggi.
Selain BCMS, dia menjelaskan bahwa PGN juga memiliki berbagai perangkat manajemen risiko lainnya, seperti operational risk, project & counterparty risk, contingency plan, strategic risk, stress testing dan emerging risk report.
"PGN menegaskan bahwa manajemen risiko berperan penting dalam memastikan berjalannya operasional perusahaan sebagai backbone infrastruktur gas bumi nasional. Dengan risiko yang semakin kompleks, kami memperkuat risk intelligence agar PGN tetap tangguh, adaptif, dan berkelanjutan," kata Eri.
Baca Juga: DPR Ungkap Nasib Revisi UU Migas, Tinggal Tunggu Persetujuan Pemerintah
Sementara itu, Nico Dhamora mengatakan Pertamina International Shipping telah melakukan transformasi manajemen risiko dari fungsi pendukung menjadi penggerak strategis melalui penguatan insfrastruktur, digitalisasi kontrol, dan internalisasi budaya risiko. "Kadang-kadang ketika terjadi krisis semua menjadi panik, jadi memang harus ada culture. Jadi kalau ada krisis, ada tata kelolanya," jelas Nico.
Dia mengungkapkan manajemen risiko tidak hanya melibatkan upaya internal, tetapi juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak eksternal. PIS terus berkomunikasi dengan regulator, pemasok, dan klien untuk memastikan bahwa setiap tahap operasional memenuhi standar yang telah ditetapkan.
"Jadi ada komunikasi dua arah. Ada komunikasi dan monitoring. Efisiensi bisa terjadi kalau ada kolaborasi dan komunikasi," tutupnya.
(nng)
Lihat Juga :