2026, Akankah Menjadi Tahun Runtuhnya Dominasi Dolar AS?

Jum'at, 02 Januari 2026 - 07:53 WIB
loading...
2026, Akankah Menjadi...
Sejumlah negara mulai mengembangkan dan menggunakan mekanisme pembayaran lintas batas alternatif menandai perubahan peta keuangan dunia. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Keraguan terhadap keandalan dolar Amerika Serikat (AS) kian mengikis pamor mata uang yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung perdagangan dan sistem keuangan global. Sejumlah negara mulai mengembangkan dan menggunakan mekanisme pembayaran lintas batas alternatif, menandai perubahan bertahap dalam peta keuangan dunia.

Tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting ketika "pengenceran" dominasi dolar AS makin nyata. Semakin sering Washington memanfaatkan dolar sebagai instrumen tekanan ekonomi dan geopolitik, semakin kuat pula dorongan negara-negara lain untuk mencari cara bertransaksi di luar sistem berbasis greenback.

Baca Juga: 500 Orang Terkaya Dunia Makin Tajir di 2025, Tumpuk Harta Rp36.000 Triliun dalam Setahun

Penurunan peran AS dalam perdagangan global turut mempercepat proses tersebut. Dikutip dari Wired, porsi AS dalam perdagangan dunia menyusut dari sekitar sepertiga pada 2000 menjadi seperempat saat ini. Meningkatnya perdagangan antarsesama negara berkembang membuat penggunaan dolar dalam arus barang global semakin berkurang, seperti terlihat pada transaksi India–Rusia yang kini diselesaikan dalam rupee, dirham, dan yuan.

China menjadi salah satu contoh paling menonjol. Lebih dari separuh perdagangan negara itu kini disalurkan melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sistem pembayaran lintas batas milik Beijing, alih-alih SWIFT yang lama didominasi bank-bank Barat. Sejumlah negara lain, termasuk Brasil–Argentina, UEA–India, serta Indonesia–Malaysia, juga mulai menguji penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Heboh Surat Dinas ke...
Heboh Surat Dinas ke AS dengan Keluarga Bocor, Menteri PU: Saya Nggak Jadi Berangkat
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
Purbaya Siap Terbitkan...
Purbaya Siap Terbitkan Panda Bond 23 Juli 2026, Bidik Dana dari China Rp18 Triliun
Rupiah Tertekan Sore...
Rupiah Tertekan Sore Ini, Dolar AS Menguat Tembus Rp17.930
Matikan Selat Hormuz!...
Matikan Selat Hormuz! AS dan Irak Deal Bangun Jalur Pipa Minyak Senilai Rp1.074 triliun
3 Tentara AS Tewas Diserang...
3 Tentara AS Tewas Diserang Rudal Iran, Trump Salahkan Yordania
Iran Berhasil Serang...
Iran Berhasil Serang Situs CIA, Amerika Curiga Rusia Terlibat
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
Rekomendasi
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jika Arab Saudi Punya...
Jika Arab Saudi Punya Senjata Nuklir, Kenapa Banyak Negara Khawatir?
Jadi Kawasan Wisata,...
Jadi Kawasan Wisata, Bali Kian Dilirik Perusahaan Asuransi
Berita Terkini
1.500 Pekerja Tekstil...
1.500 Pekerja Tekstil Terancam Kena PHK, Said Iqbal Ungkap Lokasinya
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
Infografis
Tahapan Penerimaan Sekolah...
Tahapan Penerimaan Sekolah Kedinasan 2026, Lulus Bisa Jadi Calon PNS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved