Investasi Anjlok, Bahlil: Tak Ada Satu Negara Manapun Punya Strategi Pas
Rabu, 16 September 2020 - 12:57 WIB
loading...
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, anjloknya realisasi investasi tidak hanya dialami Indonesia. Adapun kinerja investasi loyo juga dialami oleh banyak negara. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengakui realisasi investasi di Indonesia anjlok pada semester pertama 2020. Tercatat realisasi investasi dalam negeri hanya mencapai Rp191,9 triliun atau turun 8,9% jika dibandingkan dengan kuartal I tahun ini.
(Baca Juga: Jurus Merawat Iklim Investasi, Bahlil: Kami Tidak Lagi Duduk di Belakang Meja )
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, anjloknya realisasi investasi tidak hanya dialami Indonesia. Adapun kinerja investasi loyo juga dialami oleh banyak negara.
"Kita semua tahu bahwa efek covid untuk Indonesia di kuartal satu di pertengahan Maret landai. Kemudian kuartal kedua, kita mulai menurun realisasi investasi kita. Bahkan saya ingin mengatakan tidak ada satu negara manapun yang bisa melakukan sebuah strategi yang pas untuk menghadapi kondisi seperti sekarang ini," kata Bahlil dalam webinar, Rabu (16/9/2020).
Dia mengatakan, beberapa negara kompak untuk menerapkan kebijakan proteksionisme justru dianggap semakin menekan perekonomian global. Sehingga menimbulkan situasi serba tidak pasti, termasuk dalam aktivitas investasi.
(Baca Juga: Jurus Merawat Iklim Investasi, Bahlil: Kami Tidak Lagi Duduk di Belakang Meja )
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, anjloknya realisasi investasi tidak hanya dialami Indonesia. Adapun kinerja investasi loyo juga dialami oleh banyak negara.
"Kita semua tahu bahwa efek covid untuk Indonesia di kuartal satu di pertengahan Maret landai. Kemudian kuartal kedua, kita mulai menurun realisasi investasi kita. Bahkan saya ingin mengatakan tidak ada satu negara manapun yang bisa melakukan sebuah strategi yang pas untuk menghadapi kondisi seperti sekarang ini," kata Bahlil dalam webinar, Rabu (16/9/2020).
Dia mengatakan, beberapa negara kompak untuk menerapkan kebijakan proteksionisme justru dianggap semakin menekan perekonomian global. Sehingga menimbulkan situasi serba tidak pasti, termasuk dalam aktivitas investasi.
Lihat Juga :