Trump Akui AS Rebut Minyak Venezuela, Ambil Alih Cadangan Terbesar di Dunia

Minggu, 04 Januari 2026 - 09:16 WIB
loading...
Trump Akui AS Rebut...
Amerika Serikat (AS) mengambil alih cadangan minyak Venezuela. FOTO/The Atlantic
A A A
FLORIDA - Presiden Donald Trump menegaskan Amerika Serikat (AS) mengambil alih cadangan minyak Venezuela. Langkah ini mencakup perekrutan perusahaan-perusahaan AS untuk menginvestasikan miliaran dolar guna memulihkan industri minyak negara tersebut yang kini hancur.

Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), Venezuela memiliki cadangan minyak mentah mencapai 303 miliar barel atau sekitar seperlima dari total cadangan dunia. Kekayaan sumber daya ini diprediksi akan menjadi poros utama bagi masa depan negara tersebut. Meski dampak jangka pendek terhadap harga minyak masih sulit diprediksi karena pasar komoditas tutup pada akhir pekan, Trump menegaskan bahwa AS akan mengelola pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu.

"Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS, yang terbesar di dunia untuk masuk, mengucurkan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah," ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago dikutip dari CNN Internasional, Minggu (4/1/2026).

Baca Juga: Rezim Maduro di Venezuela Tamat, Jatuh Sudah Minyak Terbesar di Dunia ke Tangan AS

Venezuela memimpin dunia dengan cadangan minyak mentah terbukti sebesar 303 miliar barel, melampaui Arab Saudi dan mewakili hampir 20% cadangan global pada 2023. Upaya pemulihan yang dipimpin AS berpotensi menjadikan Venezuela pemasok minyak yang jauh lebih besar, sekaligus menciptakan peluang baru bagi perusahaan energi Barat. Hal ini juga dapat menjaga stabilitas harga global, meskipun harga yang terlalu rendah berisiko menurunkan minat produksi beberapa perusahaan domestik AS.

Namun, pemulihan ini tidak akan terjadi dalam semalam. Meski akses internasional akan dibuka penuh, dibutuhkan waktu bertahun-tahun dan biaya yang sangat besar untuk mengaktifkan kembali produksi minyak Venezuela. Perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, menyatakan bahwa pipa-pipa mereka tidak diperbarui selama 50 tahun, ditaksir butuh biaya sebesar USD58 miliar untuk mengembalikan produksi ke level puncak.

"Bagi sektor minyak, ini bisa menjadi peristiwa bersejarah," kata Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group. "Rezim Maduro dan Hugo Chavez pada dasarnya telah merampok industri minyak Venezuela."



Meski memiliki cadangan terbesar di dunia, produksi aktual Venezuela sangat rendah. Saat ini, mereka hanya memproduksi sekitar 1 juta barel per hari tau hanya 0,8% dari produksi mentah global. Angka ini kurang dari setengah produksi sebelum Nicolas Maduro berkuasa pada 2013, dan jauh di bawah level 3,5 juta barel sebelum rezim sosialis mengambil alih.

Produksi minyak Venezuela merosot lebih dari 75% antara 2013 dan 2020. EIA mencatat sanksi internasional dan krisis ekonomi mendalam berkontribusi pada kemerosotan ini, namun kurangnya investasi dan pemeliharaan menjadi faktor utama hancurnya kapasitas produksi mereka.

Pentingnya Minyak Venezuela bagi AS

Jenis minyak yang dimiliki Venezuela adalah minyak mentah berat (heavy sour crude) yang memerlukan peralatan khusus dan keahlian teknis tinggi untuk diekstraksi. AS sendiri adalah produsen minyak terbesar di dunia, namun sebagian besar merupakan jenis ringan (light, sweet crude) yang cocok untuk bensin.

Minyak berat dari Venezuela sangat krusial untuk menghasilkan produk seperti diesel, aspal, dan bahan bakar alat berat. Pasokan diesel dunia saat ini sedang ketat, sebagian besar disebabkan oleh sanksi terhadap minyak Venezuela.

"Membuka kembali keran minyak Venezuela akan sangat menguntungkan AS. Sebagian besar kilang di AS dirancang untuk mengolah minyak berat Venezuela, dan mereka bekerja jauh lebih efisien dibandingkan saat mengolah minyak Amerika," jelas Flynn.

Baca Juga: Menuju Peluncuran Mata Uang Bersama di 2026, BRICS Masih Terbelah

Dampak intervensi AS terhadap harga energi masih belum pasti. Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, memprediksi dampaknya terhadap harga akan cenderung "moderat", kecuali jika terjadi kerusuhan sosial yang meluas.

"Persepsi publik mungkin akan mendahului kenyataan. Orang-orang akan menganggap Venezuela bisa menambah pasokan minyak dengan cepat, padahal butuh waktu 5 hingga 10 tahun untuk benar-benar menjadi pemain besar kembali," kata McNally.

Pasar minyak akan dibuka kembali pada Minggu malam waktu setempat. Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, menilai semua bergantung pada apakah Trump mampu mewujudkan transformasi ini.

"Presiden Trump memberi sinyal bahwa AS kembali ke mode 'membangun negara' (nation-building). Namun, kita butuh detail lebih lanjut sebelum bisa menyatakan misi ini berhasil," pungkasnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Penerbitan Panda Bond...
Penerbitan Panda Bond Mundur ke Akhir Juli, Purbaya Incar Likuiditas Jumbo
Keluarga Pejabat di...
Keluarga Pejabat di China Dilarang Total Berbisnis, Mundur atau Tutup Usaha! Berani Tiru?
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Rekomendasi
Lelang Hasil Rampasan...
Lelang Hasil Rampasan Korupsi Periode Juni 2026, KPK Bukukan Rp39,8 Miliar
Tidak Semua Yoghurt...
Tidak Semua Yoghurt Sehat, Salah Pilih Bisa Bikin Gula Darah Naik
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Berita Terkini
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
Pacu Kinerja Bisnis,...
Pacu Kinerja Bisnis, Indo Artha Multitek Kenalkan Teknologi Layanan Haji
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Panaskan Mesin Ekonomi,...
Panaskan Mesin Ekonomi, Purbaya Tawarkan Bunga Kredit 4% untuk UKM Eksportir
BPS: Sensus Ekonomi...
BPS: Sensus Ekonomi 2026 Bukan untuk Penetapan Pajak Pribadi
Semarak HUT ke-58, BPJS...
Semarak HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved