Lalu Lintas Ekspor-Impor RI Didominasi Kapal Asing, Pakar Pelabuhan Soroti Kemunduran Maritim Nasional

Rabu, 07 Januari 2026 - 20:00 WIB
loading...
Lalu Lintas Ekspor-Impor...
Himpunan Ahli Pelabuhan Indonesia (HAPI) menyoroti lemahnya posisi Indonesia dalam lalu lintas pelayaran internasional. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Ketua Umum Himpunan Ahli Pelabuhan Indonesia (HAPI), Wahyono Bimarso, menyoroti lemahnya posisi Indonesia dalam lalu lintas pelayaran internasional, khususnya pada sektor ekspor-impor yang kini hampir sepenuhnya dikuasai oleh kapal asing. Kondisi ini dinilai ironis mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan aktivitas perdagangan yang sangat bergantung pada jalur laut sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Wahyono menyebut bahwa hampir seluruh lalu lintas peti kemas ekspor-impor di pelabuhan utama Indonesia kini diangkut oleh kapal asing. Ia mencontohkan Pelabuhan Tanjung Priok yang mencatat volume sekitar 7 juta TEUs per tahun, di mana sekitar 6 juta TEUs merupakan ekspor-impor dan seluruhnya diangkut oleh kapal berbendera asing.

"Lalu lintas ekspor impor contohnya di Priok itu ada 7 juta TEUs, yang 6 juta TEUs itu ekspor impor hampir 100 persen sudah diisi kapal asing, jadi betapa parahnya kita," ujarnya dalam acara Konferensi Pers Awal Tahun The National Maritime Institute (Namarin) di Jakarta, Rabu (7/1/2025).

Baca Juga: Pakar Pelabuhan Kritik Rencana Merger PELNI hingga Pelindo, Alihkan Beban Negara ke BUMN Komersial

Menurutnya, kondisi ini membuat Indonesia hanya menjadi pasar dan titik bongkar muat, tanpa memperoleh manfaat maksimal dari sisi jasa pelayaran internasional yang seharusnya bisa menjadi sumber devisa dan penguatan industri maritim nasional.

Wahyono membandingkan kondisi saat ini dengan era 1960-an, ketika Indonesia masih memiliki kapal berbendera nasional yang beroperasi di rute internasional dan berlayar hingga ke luar negeri. Menurutnya, saat itu Indonesia masih memiliki eksistensi dalam pelayaran global, sementara kini nyaris tidak ada lagi armada nasional yang melayani rute internasional secara signifikan.

"Sekitar tahun 1960 an, itu negara kita masih punya bendera di luar negeri, keliling dunia, sekarang kita nol. artinya kita mengalami kemunduran di sini (sektor maritim)," lanjutnya.

Ia menilai, kemunduran ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat lemahnya kebijakan jangka panjang dalam membangun industri pelayaran nasional, termasuk minimnya dukungan pembiayaan, insentif fiskal, serta perlindungan pasar bagi kapal berbendera Indonesia.



Dalam konteks tersebut, Wahyono menilai kebijakan maritim nasional seharusnya tidak hanya fokus pada pembangunan pelabuhan atau infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan armada nasional dan ekosistem pelayaran. Tanpa kapal nasional yang kuat, Indonesia akan terus bergantung pada operator asing untuk mengangkut barang dagangannya sendiri, sehingga nilai tambah ekonomi justru dinikmati oleh pihak luar.

Baca Juga: Menhub Dorong Pelindo Bikin Anak Usaha Khusus Kelola Pelabuhan Penumpang

Ia pun mendorong pemerintah untuk kembali menempatkan sektor pelayaran sebagai bagian strategis dari kedaulatan ekonomi, dengan memperkuat peran BUMN pelayaran, memberikan dukungan pembiayaan untuk peremajaan armada, serta menciptakan regulasi yang mendorong peningkatan pangsa muatan bagi kapal nasional di jalur ekspor-impor.

Wahyono menekankan bahwa perekonomian Indonesia sejatinya sangat bergantung pada sektor pelayaran domestik, khususnya pada angkutan peti kemas dalam negeri. Terdapat sekitar 53 operator kapal yang melayani lalu lintas peti kemas domestik, dan menurutnya, sekitar 90 persen aktivitas ekonomi nasional bertumpu pada kelancaran distribusi barang melalui jalur laut yang dilayani oleh operator-operator tersebut.

"Perekonomian kita itu masuknya dari laut, bukan dari udara. Tapi yang menopang itu hanya 53 operator angkutan peti kemas domestik, dan kondisinya sekarang berat," pungkasnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Beberkan Penyebab...
Purbaya Beberkan Penyebab Neraca Perdagangan Mei 2026 Defisit
Indonesia Buka Peluang...
Indonesia Buka Peluang Ekspor 10.000 Ton Beras ke Singapura
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
GAPKI: Pengawasan Ekspor...
GAPKI: Pengawasan Ekspor Sawit Sudah Ketat, Kuncinya Penegakan Hukum
Cegah Kebocoran Devisa...
Cegah Kebocoran Devisa Hasil Ekspor, DSI Fokus Dongkrak Penerimaan Negara
Apindo: DSI Bisa Perkuat...
Apindo: DSI Bisa Perkuat Tata Kelola Ekspor Tanpa Menambah Beban Dunia Usaha
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
Tahu-Tempe dan Impor...
Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan
Pengamat: Dugaan Manipulasi...
Pengamat: Dugaan Manipulasi Ekspor Minyak Sawit Harus Diusut demi Kepastian Hukum
Rekomendasi
Microdrama China The...
Microdrama China The Little Lucky Star Tayang di V+Short, Ini Sinopsisnya
Kejagung: Peran Oknum...
Kejagung: Peran Oknum TNI di Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Motor Listrik MBG Gelembungkan Harga
Kembangkan Kompetensi...
Kembangkan Kompetensi di Era Digital, UI Publishing Terbitkan Buku Digital Social Work untuk Afrika-Asia
Berita Terkini
Inflasi Jakarta Terjaga...
Inflasi Jakarta Terjaga pada Level 0,41%, Terendah di Pulau Jawa
Cegah Pemadaman Listrik...
Cegah Pemadaman Listrik Bergilir, PLTU Bakal Dimodif Bisa Pakai Batu Bara Kalori Rendah
PLN EPI Dorong Bioenergi...
PLN EPI Dorong Bioenergi Jadi Motor Diversifikasi Energi Nasional
Naik 81%, Laba PTPN...
Naik 81%, Laba PTPN Group Tembus 6,39 Triliun
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga dan KKP Perkuat Penyediaan Energi bagi Nelayan
Indonesia Ingin Bangun...
Indonesia Ingin Bangun Pusat Keuangan Berdaya Saing Global, Bali Jadi Kandidat Bukan IKN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved