Mengapa AS Kepincut Minyak Venezuela, Apa Istimewanya?

Minggu, 11 Januari 2026 - 21:58 WIB
loading...
A A A
“Kami memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban mengenai pemerintah Venezuela," sambungnya.

Seorang juru bicara ConocoPhillips mengatakan perusahaan sedang memantau perkembangan di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap pasokan energi global dan stabilitas. “Masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang kegiatan bisnis atau investasi di masa depan,” katanya.

Hambatan Produksi

Infrastruktur dan peralatan yang dibutuhkan industri minyak untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi telah mengalami kerusakan parah dalam beberapa tahun terakhir.

“Ada banyak kekacauan dan penjarahan, sehingga ada kerusakan besar pada peralatan untuk memproduksi minyak di seluruh negeri,” kata Amy Myers Jaffe, direktur Laboratorium Energi, Keadilan Iklim, dan Keberlanjutan di Universitas New York.

“Banyak pipa yang bocor, dan ini membutuhkan pembersihan besar-besaran, ada begitu banyak kehancuran fisik," jelasnya.

Selain itu ada juga kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik yang sering terjadi di seluruh negeri, dan “untuk benar-benar memproduksi minyak, Anda perlu memiliki jaringan listrik yang stabil,” kata Jaffe.

Ditambah banyak pekerja dengan keahlian teknis telah meninggalkan negara ini. Jutaan warga Venezuela melarikan diri sebagai konsekuensi dari era Chavez dan Maduro, dan "telah terjadi kebocoran otak yang luar biasa," kata Sternoff.

Rystad Energy memperkirakan diperlukan investasi minyak dan gas sebesar USD54 miliar selama 15 tahun ke depan untuk menjaga produksi minyak Venezuela tetap stabil di sekitar 1,1 juta barel per hari. Lalu dengan investasi lanjutan selama dua hingga tiga tahun, ada tambahan 300.000 barel per hari.

Sedangkan untuk melebihi 1,4 juta barel per hari akan membutuhkan tambahan USD8 miliar hingga USD9 miliar per tahun, kata Rystad Energy.

Sternoff mengatakan, tidak ada preseden di mana perubahan rezim di negara penghasil minyak besar telah menyebabkan peningkatan produksi secara cepat. Dalam sebagian besar kasus, seperti di Irak, Iran, Libya, dan Uni Soviet, produksi minyak turun secara signifikan, seringkali selama bertahun-tahun, sebelum kembali ke puncak.

“Salah satu pelajaran dari Irak adalah bahwa perusahaan-perusahaan memang kembali, tetapi sangat sulit untuk beroperasi ketika ada latar belakang politik dan lokal yang sulit, hingga mungkin muncul pemberontakan serta masalah pemerintahan dan korupsi sampai tantangan infrastruktur,” kata Jaffe.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Rekomendasi
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Pahala Puasa Tasua dan...
Pahala Puasa Tasua dan Asyura: Benarkah Setara 10.000 Malaikat? Ini Penjelasannya
Berita Terkini
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Baju Bekas Ilegal Senilai Rp37,4 Miliar
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Kilau Emas Antam Kembali,...
Kilau Emas Antam Kembali, Hari Ini Naik Tipis Rp5 Ribu ke Rp2.673.000 per Gram
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Jaga HET MinyaKita di...
Jaga HET MinyaKita di Angka Rp15.700 per Liter, Istana Buka Suara
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved