Mengapa AS Kepincut Minyak Venezuela, Apa Istimewanya?

Minggu, 11 Januari 2026 - 21:58 WIB
loading...
Mengapa AS Kepincut...
Diprediksi butuh investasi minyak dan gas sebesar USD54 miliar selama 15 tahun ke depan untuk menjaga produksi minyak Venezuela tetap stabil di sekitar 1,1 juta barel per hari. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Industri minyak Venezuela telah menjadi sorotan sejak Presiden Donald Trump menggunakan kekuatan militer untuk menangkap pemimpin negara itu yakni Presiden Nicolas Maduro. Beberapa hari berikutnya, Trump mengatakan, bahwa AS (Amerika Serikat) akan mengelola Venezuela dan memanfaatkan cadangan minyaknya.

Trump menyebutkan, bahwa Venezuela mencuri minyak AS yang mengacu pada langkah mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez beberapa dekade lalu untuk menasionalisasi ratusan aset milik asing, termasuk yang dimiliki oleh perusahaan minyak Amerika .

Kali ini Trump mengusulkan rencana agar perusahaan-perusahaan tersebut kembali dan membangun kembali industri minyak Venezuela yang terpuruk. Ia kemudian mengumumkan bahwa Venezuela akan menyediakan 30 hingga 50 juta barel minyak ke AS, dan perusahaan minyak milik negara Venezuela PDVSA mengaku sedang bernegosiasi dengan pemerintah AS untuk penjualan minyak mentah.

Baca Juga: Misi Kuasai 55% Minyak Dunia, Raksasa AS Siap Investasi Rp1.659 T di Venezuela

Pemerintahan juga secara 'selektif' mencabut sanksi untuk memungkinkan pengiriman dan penjualan minyak Venezuela ke pasar di seluruh dunia. Trump menjelaskan bahwa hasil penjualan minyak Venezuela akan disimpan di akun yang dikendalikan AS dan didistribusikan kepada penduduk Amerika dan Venezuela, menurut Departemen Energi.



Langkah-langkah ini mungkin bagian dari strategi jangka panjang untuk mendapatkan pijakan di negara dengan cadangan minyak yang luas.

Melirik Cadangan Minyak Venezuela

Ketika Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Sementara itu beberapa analis energi memprediksi bahwa tidak akan ada cukup minyak untuk memenuhi permintaan global dalam beberapa tahun mendatang.

Negara Amerika Selatan ini diperkirakan memiliki 303 miliar barel minyak mentah di dalam tanah, atau setara 17% dari pasokan dunia, menurut Administrasi Informasi Energi AS. Berbeda dengan bagian lain di dunia, di mana ahli geologi harus mencari minyak yang belum dieksploitasi, cadangan di bawah tanah Venezuela sebagian besar sudah dipetakan dan diketahui, kata para ahli.

Namun karena infrastruktur yang buruk, negara ini hanya memproduksi sekitar 1% dari minyak dunia. “Venezuela memiliki cadangan yang sangat besar,” kata Claudio Galimberti, direktur analisis pasar global dan kepala ekonom di Rystad Energy.

“Jika Anda bertanya kepada perusahaan minyak manapun di dunia, pergi ke tim eksplorasi mereka, para geolog, dan tanyakan dari mana minyak akan datang pada tahun 2030-an dan 2040-an, jawaban mereka cukup menakutkan, ‘Kami tidak tahu.’ Jadi akan ada masalah dalam menemukan minyak dalam beberapa tahun ke depan.”

Dalam jangka pendek, pasokan minyak global bakal melebihi permintaan, sehingga peningkatan produksi dari Venezuela tidak terlalu diperlukan. Namun, Badan Energi Internasional memperkirakan bahwa di bawah kebijakan saat ini, sekitar 25 juta barel per hari dari proyek pasokan minyak baru akan dibutuhkan pada tahun 2035 untuk menjaga keseimbangan pasar.

Angin Segar buat Kilang dan Konsumen AS

Minyak di Venezuela adalah minyak mentah dengan karakteristik berat dan asam, jenis ini merupakan yang diolah oleh kilang di Pantai Teluk AS, dan hanya ada beberapa negara yang memproduksinya. Sebaliknya sebagian besar minyak yang diproduksi di AS adalah minyak mentah ringan. Jika minyak Venezuela mengalir bebas, hal itu berpotensi menurunkan harga minyak dan bensin.

Penyulingan Amerika bisa mendapatkan keuntungan finansial dari pengolahan lebih banyak minyak mentah, dan hal itu dapat meningkatkan ketersediaan diesel dan bahan bakar jet, kata Kevin Book, direktur pelaksana ClearView Energy Partners.

“Tampaknya ada dua tujuan. Yang pertama adalah secara keseluruhan menurunkan harga energi dengan menambah pasokan global, dan yang kedua adalah memproduksi lebih banyak minyak mentah berat dan asam yang saat ini jumlahnya terbatas dibandingkan dengan jenis lainnya,” kata Book.

Baca Juga: Trump Perintahkan Venezuela Putus Hubungan dengan Rusia, China, Iran, dan Kuba

“Yang pertama umumnya menguntungkan pengguna akhir di mana saja karena harga yang lebih rendah mengurangi biaya transportasi dan energi," sambungnya.

Namun lebih banyak minyak mentah Venezuela tidak selalu membantu produsen minyak AS, karena memiliki lebih banyak minyak di pasar dapat menurunkan harga minyak. Pada akhirnya bisa mengurangi produksi dan menyulitkan perusahaan-perusahaan tersebut untuk tetap meraup untung.

Peluang Raksasa Minyak AS

Setelah Chavez menasionalisasi ratusan bisnis swasta dan aset milik asing pada tahun 2007, termasuk proyek minyak yang dijalankan oleh Exxon Mobil dan ConocoPhillips. Panel arbitrase internasional memerintahkan Venezuela untuk membayar kembali miliaran dolar kepada kedua perusahaan tersebut, tetapi utang itu belum ditagih.

Secara teori, jika sanksi dicabut dan Venezuela berada di bawah kepemimpinan baru, perusahaan raksasa minyak bisa berinvestasi dalam infrastruktur dan mendapat keuntungan dari penjualan minyak.

Trump mengatakan, dia berpikir industri minyak Venezuela yang hancur bisa dibangun kembali dalam waktu kurang dari 18 bulan dengan dukungan AS. Dia membayangkan perusahaan minyak besar kembali ke Venezuela untuk melakukan investasi tersebut dan mendapatkan keuntungan dari industri minyaknya.

Namun mengingat kerusuhan dan infrastruktur yang rusak parah selama beberapa dekade, para ahli memperkirakan, kecil kemungkinannya perusahaan minyak memasukan Venezuela dalam daftar utama tujuan investasi.

“Bayangkan Anda adalah Exxon dan memiliki operasi global. Ke mana Anda akan menaruh uang Anda? Di tempat yang akan memberi Anda keuntungan paling besar,” kata Galimberti.

Perusahaan juga membutuhkan jaminan bahwa asetnya tidak akan diambil lagi oleh pemerintahan di masa depan, kata Daniel Sternoff, peneliti senior di Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia.

“Anda perlu memulai dengan stabilitas politik sebagai dasar, sebelum perusahaan tertarik untuk melakukan jenis investasi seperti itu,” kata Sternoff.

“Kami memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban mengenai pemerintah Venezuela," sambungnya.

Seorang juru bicara ConocoPhillips mengatakan perusahaan sedang memantau perkembangan di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap pasokan energi global dan stabilitas. “Masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang kegiatan bisnis atau investasi di masa depan,” katanya.

Hambatan Produksi

Infrastruktur dan peralatan yang dibutuhkan industri minyak untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi telah mengalami kerusakan parah dalam beberapa tahun terakhir.

“Ada banyak kekacauan dan penjarahan, sehingga ada kerusakan besar pada peralatan untuk memproduksi minyak di seluruh negeri,” kata Amy Myers Jaffe, direktur Laboratorium Energi, Keadilan Iklim, dan Keberlanjutan di Universitas New York.

“Banyak pipa yang bocor, dan ini membutuhkan pembersihan besar-besaran, ada begitu banyak kehancuran fisik," jelasnya.

Selain itu ada juga kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik yang sering terjadi di seluruh negeri, dan “untuk benar-benar memproduksi minyak, Anda perlu memiliki jaringan listrik yang stabil,” kata Jaffe.

Ditambah banyak pekerja dengan keahlian teknis telah meninggalkan negara ini. Jutaan warga Venezuela melarikan diri sebagai konsekuensi dari era Chavez dan Maduro, dan "telah terjadi kebocoran otak yang luar biasa," kata Sternoff.

Rystad Energy memperkirakan diperlukan investasi minyak dan gas sebesar USD54 miliar selama 15 tahun ke depan untuk menjaga produksi minyak Venezuela tetap stabil di sekitar 1,1 juta barel per hari. Lalu dengan investasi lanjutan selama dua hingga tiga tahun, ada tambahan 300.000 barel per hari.

Sedangkan untuk melebihi 1,4 juta barel per hari akan membutuhkan tambahan USD8 miliar hingga USD9 miliar per tahun, kata Rystad Energy.

Sternoff mengatakan, tidak ada preseden di mana perubahan rezim di negara penghasil minyak besar telah menyebabkan peningkatan produksi secara cepat. Dalam sebagian besar kasus, seperti di Irak, Iran, Libya, dan Uni Soviet, produksi minyak turun secara signifikan, seringkali selama bertahun-tahun, sebelum kembali ke puncak.

“Salah satu pelajaran dari Irak adalah bahwa perusahaan-perusahaan memang kembali, tetapi sangat sulit untuk beroperasi ketika ada latar belakang politik dan lokal yang sulit, hingga mungkin muncul pemberontakan serta masalah pemerintahan dan korupsi sampai tantangan infrastruktur,” kata Jaffe.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Rekomendasi
Ingat Besok Jadwal Puasa...
Ingat Besok Jadwal Puasa Tasua, Ini Bacaan Niatnya!
Amalan Hari Asyura 10...
Amalan Hari Asyura 10 Muharram: Puasa Asyura, Sedekah, dan Meluaskan Rezeki Keluarga
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Berita Terkini
Wamenhub Sebut Potensi...
Wamenhub Sebut Potensi Penerimaan Negara Lewat PT DSI Bisa Tembus Rp2.671 Triliun
Pegadaian Gelar Khitanan...
Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026, Langkah Riil Peduli Sesama Berbasis ESG
IHSG Siang Anjlok 1,29%...
IHSG Siang Anjlok 1,29% ke 6.037, Sektor Keuangan dan Energi Jadi Pemberat
Komut Pertamina Mochamad...
Komut Pertamina Mochamad Iriawan: Investasi Terbaik Bangsa pada Manusia
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Baju Bekas Ilegal Senilai Rp37,4 Miliar
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved