Utang Indonesia Diprediksi Tembus Rp9.645 Triliun, Risiko Gagal Bayar Mengintai di 2026

Selasa, 13 Januari 2026 - 08:47 WIB
loading...
Utang Indonesia Diprediksi...
Kondisi fiskal Indonesia pada awal 2026 dinilai menghadapi tekanan serius seiring meningkatnya beban utang pemerintah. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Kondisi fiskal Indonesia pada awal 2026 dinilai menghadapi tekanan serius seiring meningkatnya beban utang pemerintah. Ekonom senior Bright Institute Awalil Rizky memproyeksikan posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 telah mencapai Rp9.645 triliun, dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 40,52 persen, berdasarkan analisis realisasi sementara APBN 2025.

Meski rasio tersebut masih berada di bawah batas maksimal 60 persen sebagaimana diatur undang-undang, Awalil menilai indikator tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan bayar pemerintah. Menurut dia, fokus berlebihan pada rasio utang terhadap PDB berpotensi menutupi berbagai indikator kerentanan fiskal yang lebih substansial.

"Narasi Pemerintah yang selalu mengatakan kondisi utangnya aman, sejauh ini hanya berdasar rasio atas PDB. Berbagai indikator kerentanan utang yang lazim dipakai menganalisis kondisi seolah tidak diperlukan lagi untuk memastikannya," kata Awalil dalam catatan analisisnya, dikutip Selasa (13/1/2026).

Baca Juga: Defisit APBN 2025 Melebar Tembus Rp695,1 Triliun, Dekati Batas 3% dari PDB

Salah satu indikator yang paling mengkhawatirkan, lanjut Awalil, adalah posisi Keseimbangan Primer (KP) yang tercatat defisit sebesar Rp180,7 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendapatan negara belum mampu menutup belanja pemerintah di luar pembayaran bunga utang.

Akibat defisit tersebut, pemerintah dinilai terpaksa menarik utang baru untuk membayar bunga dari utang lama. Awalil memperkirakan penarikan utang baru secara bruto sepanjang 2025 sebenarnya mencapai Rp1.563 triliun, jauh lebih besar dibandingkan angka pembiayaan neto yang selama ini disampaikan ke publik.

"Jika KP bernilai minus artinya sudah tidak tersedia dana untuk membayar bunga utang. Sebagian atau seluruh bunga utang dibayar dengan penambahan utang baru," tegasnya.



Analisis Bright Institute juga mencatat rasio utang terhadap pendapatan negara per akhir 2025 mencapai 349,96 persen. Angka ini jauh melampaui batas praktik terbaik yang direkomendasikan International Monetary Fund (IMF), yakni di kisaran 90 hingga 150 persen.

Selain itu, rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara pada 2025 diproyeksikan menembus 18,65 persen, jauh di atas standar IMF sebesar 7 hingga 10 persen. Kondisi tersebut dinilai semakin mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk membiayai belanja pembangunan dan program prioritas.

Baca Juga: Pemerintah Tarik Utang Baru Rp744 Triliun, Melebihi Defisit APBN 2025

Awalil pun mengingatkan adanya risiko serius terhadap kesinambungan fiskal dalam jangka menengah dan panjang. Ia menilai tekanan utang berpotensi mengganggu operasional keuangan negara jika tidak dikelola secara hati-hati.

"Kondisi utang pemerintah cukup mengkhawatirkan. Tidak tertutup kemungkinan, Pemerintah alami gagal sebagian kewajiban utang, terutama bunganya, pada tahun 2026. Sekurangnya, kesinambungan fiskal jangka menengah dan panjang telah terancam," pungkasnya.

Hingga kini, Kementerian Keuangan belum merilis data resmi posisi utang pemerintah per akhir 2025 dan menyatakan pengumuman akan dilakukan pada Februari mendatang setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka PDB nasional.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Akui Program Pemerintah...
Akui Program Pemerintah Banyak Kekurangan, Wapres Gibran: Kita Perbaiki Bersama
Prabowo Terima Telepon...
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Tegaskan Indonesia Berdiri Bersama Palestina
Rekomendasi
Kasus Silmy Karim Cs,...
Kasus Silmy Karim Cs, KPK Geledah Kantor Imigrasi Denpasar
Kurang dari 12 Jam,...
Kurang dari 12 Jam, Satreskrim Polres Pelalawan Tangkap Perampok Sadis
RCTI Hadirkan Sinetron...
RCTI Hadirkan Sinetron Komedi Komunal Terbaru Tobat Jatuh Cinta, Kisah Empat Janda di Kampung Sindang Barang!
Berita Terkini
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Infografis
Daftar Wakil Indonesia...
Daftar Wakil Indonesia di All England 2026, Putri KW Sendirian di Tunggal Putri
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved