Bos BI Blak-blakan Rupiah Jeblok Imbas Gaduh Pencalonan Deputi Gubernur
Rabu, 21 Januari 2026 - 17:09 WIB
loading...
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 berada di level Rp16.945 per dolar AS atau melemah 1,53% secara point to point dibandingkan posisi akhir Desember 2025. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari faktor global dan domestik.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan, dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh perbankan dan korporasi seiring dengan aktivitas ekonomi yang tetap berjalan. Selain itu, aliran keluar modal asing juga terjadi akibat meningkatnya persepsi risiko di pasar keuangan.
"Juga ada faktor-faktor domestik, tentu saja tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN maupun juga Danantara dan juga persepsi pasar. Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur," ujar dia dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga: Terungkap! Selain Thomas Djiwandono, Ini Nama Dua Kandidat Deputi Gubernur BI
Selain faktor domestik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berasal dari kondisi global. Ketidakpastian pasar keuangan internasional meningkat seiring kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat dan eskalasi ketegangan geopolitik, yang menahan aliran modal ke negara berkembang serta mendorong penguatan indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia.
"Seperti tadi kami sampaikan faktor-faktor global itu terkait tentu saja kondisi global, baik karena geopolitik, kemudian juga kebijakan tarif Amerika, tapi juga tingginya US Treasury yield baik 2 tahun sama 3 tahun, juga lebih rendahnya bahkan kemungkinan Fed Fund Rate turun yang lebih kecil," tambahnya.
Untuk meredam tekanan dan menjaga stabilitas nilai tukar, BI meningkatkan intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) di luar negeri, domestic NDF (DNDF), serta pasar spot. Kebijakan tersebut dilakukan secara terukur agar volatilitas rupiah tetap terkendali dan sejalan dengan target inflasi 2,5±1 persen pada 2026.
Baca Juga: Prabowo Ajukan Tiga Calon Deputi Gubernur BI, Salah Satunya Thomas Djiwandono
Perry menegaskan Bank Indonesia ke depan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui kombinasi intervensi yang konsisten serta penguatan strategi operasi moneter yang pro-pasar, guna memastikan kepercayaan pelaku usaha dan investor tetap terjaga.
"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat. Didukung oleh komisi fundamental ekonomi kita yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik," pungkas Perry.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan, dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh perbankan dan korporasi seiring dengan aktivitas ekonomi yang tetap berjalan. Selain itu, aliran keluar modal asing juga terjadi akibat meningkatnya persepsi risiko di pasar keuangan.
"Juga ada faktor-faktor domestik, tentu saja tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN maupun juga Danantara dan juga persepsi pasar. Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur," ujar dia dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga: Terungkap! Selain Thomas Djiwandono, Ini Nama Dua Kandidat Deputi Gubernur BI
Selain faktor domestik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berasal dari kondisi global. Ketidakpastian pasar keuangan internasional meningkat seiring kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat dan eskalasi ketegangan geopolitik, yang menahan aliran modal ke negara berkembang serta mendorong penguatan indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia.
"Seperti tadi kami sampaikan faktor-faktor global itu terkait tentu saja kondisi global, baik karena geopolitik, kemudian juga kebijakan tarif Amerika, tapi juga tingginya US Treasury yield baik 2 tahun sama 3 tahun, juga lebih rendahnya bahkan kemungkinan Fed Fund Rate turun yang lebih kecil," tambahnya.
Untuk meredam tekanan dan menjaga stabilitas nilai tukar, BI meningkatkan intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) di luar negeri, domestic NDF (DNDF), serta pasar spot. Kebijakan tersebut dilakukan secara terukur agar volatilitas rupiah tetap terkendali dan sejalan dengan target inflasi 2,5±1 persen pada 2026.
Baca Juga: Prabowo Ajukan Tiga Calon Deputi Gubernur BI, Salah Satunya Thomas Djiwandono
Perry menegaskan Bank Indonesia ke depan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui kombinasi intervensi yang konsisten serta penguatan strategi operasi moneter yang pro-pasar, guna memastikan kepercayaan pelaku usaha dan investor tetap terjaga.
"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat. Didukung oleh komisi fundamental ekonomi kita yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik," pungkas Perry.
(nng)
Lihat Juga :