Wamen Viva Yoga Dorong Bali jadi Pusat Riset dan Budidaya Bambu Dunia
Senin, 02 Februari 2026 - 21:19 WIB
loading...
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi saat kunjungan bersama Ajik Krisna di Padepokan Kabuyutan Muara Beres, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
BOGOR - Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, mendorong pengusaha asal Bali, Gusti Ngurah Anom atau Ajik Krisna, untuk menjadikan Pulau Dewata sebagai pusat pengembangan dan riset bambu dunia. Sinergi ini diharapkan mampu mengintegrasikan potensi lokal dengan teknologi pengolahan bambu internasional guna memperkuat ekonomi kerakyatan dan pelestarian lingkungan.
“Berbagai produk bisa dihasilkan dari olahan bambu,” ujar Viva Yoga Mauladi kunjungan bersama Ajik Krisna di Padepokan Kabuyutan Muara Beres, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026).
Viva Yoga menjelaskan bahwa Kementerian Transmigrasi memiliki program strategis untuk membudidayakan pohon bambu di berbagai kawasan transmigrasi yang memiliki tekstur tanah beragam. Mantan Anggota Komisi IV DPR RI ini menilai bambu sebagai tanaman multifungsi yang tidak hanya menopang kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai komoditas industri modern.
Senada dengan visi tersebut, Ajik Krisna menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan kawasan seluas 30 hektare di Bali Utara sebagai kampung wisata UMKM berbasis bambu. Kawasan ini direncanakan akan mencakup hutan bambu, pusat riset, museum, hingga pusat kuliner dan kriya di mana masyarakat setempat terlibat langsung dalam pengolahan bambu menjadi suvenir dan alat kesenian.
Baca Juga: Gandeng Krisna Bali, Wamen Viva Yoga Buka Jalan UMKM Mesuji Tembus Pasar Ritel
Dalam kunjungan ke pusat pelatihan budaya bambu milik ahli internasional Aki Jatnika tersebut, Ajik Krisna mempelajari 161 varietas bambu yang memiliki karakteristik berbeda. Pengetahuan ini akan menjadi fondasi bagi Ajik untuk membangun ekosistem bambu yang berkelanjutan di Bali, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi pengrajin lokal di sektor pariwisata.
Lebih jauh, Viva Yoga mengungkapkan potensi hilirisasi bambu yang kini telah merambah sektor tekstil melalui teknologi serat bambu (fiber bamboo). Berdasarkan presentasi delegasi Promosi Perdagangan Indonesia-Guangdong (PPIG), varietas tertentu seperti reed bamboo dapat diolah menjadi bahan pakaian berkualitas tinggi seperti kaos, jaket, hingga kaos kaki yang memiliki keunggulan dibanding bahan konvensional.
Baca Juga: Panen Raya Padi di Telang, Wamen Viva Yoga: Kawasan Transmigrasi Berkontribusi Menjadi Lumbung Pangan
Selain sektor industri kreatif, bambu varietas tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak berkualitas dan memiliki kemampuan signifikan dalam mereduksi emisi karbon dioksida. Potensi ini menempatkan bambu sebagai komoditas strategis dalam pasar karbon global yang memiliki nilai jual tinggi sekaligus menjaga kelestarian alam secara jangka panjang.
Kementerian Transmigrasi berkomitmen untuk terus memperluas budidaya berbagai varietas bambu di lahan-lahan transmigrasi sebagai upaya percepatan kesejahteraan warga. "Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi, pohonnya juga mampu menjaga dan melestarikan alam," pungkas Viva Yoga menutup rangkaian kunjungan tersebut.
“Berbagai produk bisa dihasilkan dari olahan bambu,” ujar Viva Yoga Mauladi kunjungan bersama Ajik Krisna di Padepokan Kabuyutan Muara Beres, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026).
Viva Yoga menjelaskan bahwa Kementerian Transmigrasi memiliki program strategis untuk membudidayakan pohon bambu di berbagai kawasan transmigrasi yang memiliki tekstur tanah beragam. Mantan Anggota Komisi IV DPR RI ini menilai bambu sebagai tanaman multifungsi yang tidak hanya menopang kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai komoditas industri modern.
Senada dengan visi tersebut, Ajik Krisna menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan kawasan seluas 30 hektare di Bali Utara sebagai kampung wisata UMKM berbasis bambu. Kawasan ini direncanakan akan mencakup hutan bambu, pusat riset, museum, hingga pusat kuliner dan kriya di mana masyarakat setempat terlibat langsung dalam pengolahan bambu menjadi suvenir dan alat kesenian.
Baca Juga: Gandeng Krisna Bali, Wamen Viva Yoga Buka Jalan UMKM Mesuji Tembus Pasar Ritel
Dalam kunjungan ke pusat pelatihan budaya bambu milik ahli internasional Aki Jatnika tersebut, Ajik Krisna mempelajari 161 varietas bambu yang memiliki karakteristik berbeda. Pengetahuan ini akan menjadi fondasi bagi Ajik untuk membangun ekosistem bambu yang berkelanjutan di Bali, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi pengrajin lokal di sektor pariwisata.
Lebih jauh, Viva Yoga mengungkapkan potensi hilirisasi bambu yang kini telah merambah sektor tekstil melalui teknologi serat bambu (fiber bamboo). Berdasarkan presentasi delegasi Promosi Perdagangan Indonesia-Guangdong (PPIG), varietas tertentu seperti reed bamboo dapat diolah menjadi bahan pakaian berkualitas tinggi seperti kaos, jaket, hingga kaos kaki yang memiliki keunggulan dibanding bahan konvensional.
Baca Juga: Panen Raya Padi di Telang, Wamen Viva Yoga: Kawasan Transmigrasi Berkontribusi Menjadi Lumbung Pangan
Selain sektor industri kreatif, bambu varietas tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak berkualitas dan memiliki kemampuan signifikan dalam mereduksi emisi karbon dioksida. Potensi ini menempatkan bambu sebagai komoditas strategis dalam pasar karbon global yang memiliki nilai jual tinggi sekaligus menjaga kelestarian alam secara jangka panjang.
Kementerian Transmigrasi berkomitmen untuk terus memperluas budidaya berbagai varietas bambu di lahan-lahan transmigrasi sebagai upaya percepatan kesejahteraan warga. "Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi, pohonnya juga mampu menjaga dan melestarikan alam," pungkas Viva Yoga menutup rangkaian kunjungan tersebut.
(nng)
Lihat Juga :