India Hentikan Pembelian Minyak Rusia, Trump Pangkas Tarif Impor 18%

Selasa, 03 Februari 2026 - 22:14 WIB
loading...
India Hentikan Pembelian...
Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi berjabat tangan sebelum pertemuan mereka di Hyderabad House pada 25 Februari 2020. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kesepakatan dagang dengan India yang mencakup pemangkasan tarif impor barang India ke AS menjadi 18% . Dalam kesepakatan tersebut, Trump mengungkapkan India sepakat menghentikan pembelian minyak dari Rusia, meski hingga kini belum ada pernyataan resmi bersama dari kedua negara.

Trump menyatakan di platform Truth Social pada Senin bahwa Perdana Menteri India Narendra Modi telah setuju untuk "menghentikan pembelian Minyak Rusia" dan mengurangi "tarif dan hambatan non-tarif terhadap Amerika Serikat menjadi NOL" sebagai imbalan atas pengurangan tarif AS terhadap barang India dari 50% menjadi 18%.

Baca Juga: Bagaimana Penularan Virus Nipah? Ini Penjelasan Ahli Epidemiologi

Namun, pernyataan Trump belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh pemerintah India. Modi hanya mengonfirmasi penurunan tarif impor AS terhadap produk India dan menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah “luar biasa”, tanpa menyinggung komitmen penghentian pembelian minyak Rusia atau penghapusan tarif terhadap produk AS.

Ketidakjelasan ini membuat para pemurni minyak India menunggu arahan resmi dari pemerintah. Bloomberg melaporkan, perusahaan penyulingan di India masih mencari kepastian mengenai masa depan impor minyak mentah Rusia, sementara Reuters mengutip sumber industri yang menyebut belum ada perintah penghentian impor dan dibutuhkan periode penyesuaian atas kontrak yang sudah berjalan.

India saat ini mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak Rusia per hari atau lebih dari sepertiga total impor minyaknya, menurut data perusahaan analitik perdagangan Kpler. Meski demikian, ekspor minyak Rusia ke India tercatat sudah turun 34 persen secara tahunan pada lima pekan pertama 2026 akibat sanksi AS dan Uni Eropa yang semakin ketat.



Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings memperingatkan bahwa penghentian mendadak pembelian minyak Rusia berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi India dan memperketat pasokan energi global, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Di sektor lain, Menteri Pertanian AS Brooke Rollins menyebut kesepakatan tersebut membuka akses yang lebih besar bagi ekspor pertanian Amerika Serikat ke India. Namun hingga kini, belum ada kejelasan mengenai produk pertanian apa saja yang tercakup dalam kesepakatan tersebut.

Baca Juga: India Pangkas Impor, Ratusan Ribu Barel Minyak Rusia Terombang-ambing di Laut

Analis perdagangan senior India Ajay Srivastava mengingatkan agar pemerintah India tidak terburu-buru merayakan kesepakatan tanpa kejelasan teknis. Ia menilai penting adanya kepastian terkait produk yang dibuka aksesnya, jadwal implementasi, serta sensitivitas sektor pertanian yang selama ini dilindungi.

Di dalam negeri, oposisi India menuntut transparansi. Ketua oposisi Rahul Gandhi menuduh pemerintah terlalu kompromistis, sementara anggota parlemen Shashi Tharoor mempertanyakan apakah pernyataan media sosial kedua pemimpin cukup untuk menjelaskan kesepakatan besar dalam sistem demokrasi parlementer.

Hingga kini, elemen kunci kesepakatan dagang seperti mekanisme penegakan, klausul perlindungan, dan penyelesaian sengketa belum diumumkan secara resmi. Gedung Putih juga belum menerbitkan proklamasi presiden atau pemberitahuan Federal Register yang diperlukan untuk memberlakukan perubahan tarif secara hukum.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Harga Bensin di AS Tetap...
Harga Bensin di AS Tetap Mahal meski Minyak Dunia Rontok, Trump Semprot Raksasa Energi
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Rekomendasi
Dari Rasa Penasaran...
Dari Rasa Penasaran Menjadi Inspirasi, Inilah Kisah Hery Lain Sisi
HUT ke-80 Bhayangkara,...
HUT ke-80 Bhayangkara, Kapolri Bedah Rumah Guru Ngaji Tak Layak Huni di Palembang
Wali Kota Agustina Dorong...
Wali Kota Agustina Dorong Gerakan Nasional Penyelamatan Heritage Kota Maritim
Berita Terkini
B50 Dimulai 1 Juli,...
B50 Dimulai 1 Juli, Mampukah Jadi Solusi Ketahanan Energi Tanpa Mengorbankan Petani Sawit?
Nobu Bank Hadirkan Soundbox...
Nobu Bank Hadirkan Soundbox QRIS Gratis dan MDR 0% bagi Pedagang Pasar Sukawati
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Tanggapan Resmi DJP
PLN EPI Bangun Ekosistem...
PLN EPI Bangun Ekosistem Bioenergi Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Prudential Indonesia...
Prudential Indonesia Tegaskan Komitmen Tata Kelola Guna Jaga Kepercayaan Nasabah
Tata Kelola RKAB Perlu...
Tata Kelola RKAB Perlu Dibenahi demi Menjaga Pasokan Batu Bara
Infografis
Akhiri Perang Ukraina,...
Akhiri Perang Ukraina, Trump Akan Akui Crimea Milik Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved