Bencana Sumatera Lebih Dipicu Aktivitas Ilegal, Bukan Sawit
Selasa, 10 Februari 2026 - 13:26 WIB
loading...
Diskusi Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU Medan, Selasa (10/2). FOTO/Puguh Haryanto
A
A
A
MEDAN - Bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera akhir tahun lalu dinilai bukan akibat budidaya kelapa sawit, melainkan tata kelola lahan yang tidak memperhatikan aspek ekofisiologi tanaman atau aktivitas ilegal. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) menegaskan bahwa kelapa sawit justru memiliki karakteristik yang baik bagi kelestarian lingkungan jika dikelola sesuai kelas kesesuaian lahan.
"Interaksi antara fungsi fisiologis tanaman dengan kondisi lingkungan fisiknya tertuang dalam kriteria kelas kesesuaian lahan, baik di lahan mineral, maupun di lahan gambut," kata Prof Abdul Rauf dalam diskusi Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU Medan, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: USU Dorong Kebijakan Berbasis Riset dalam Kelola Industri Sawit dan Risiko Bencana
Ia menegaskan, tanaman apapun jika ditanam pada lahan yang tidak sesuai dengan ekofisiologinya akan merusak lingkungan. Karena itu, bencana banjir dan longsor tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan budidaya kelapa sawit. Menurutnya, kerusakan lingkungan lebih banyak terjadi akibat aktivitas ilegal seperti illegal logging, illegal planting, dan illegal mining.
Menurut Abdul Rauf, kelapa sawit memiliki karakteristik yang justru baik bagi kelestarian lingkungan. Kebun sawit memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air signifikan. Setiap pohon dewasa mampu menyerap hingga 10 liter air per hari. "Kebun sawit dewasa mampu menyerap air hujan rerata setara 43.500 liter per hari. Kebun sawit yang dikelola dengan baik pada kelas lahan yang sesuai dapat berperan dalam mengkonservasi tanah dan air," ujarnya.
"Interaksi antara fungsi fisiologis tanaman dengan kondisi lingkungan fisiknya tertuang dalam kriteria kelas kesesuaian lahan, baik di lahan mineral, maupun di lahan gambut," kata Prof Abdul Rauf dalam diskusi Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU Medan, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: USU Dorong Kebijakan Berbasis Riset dalam Kelola Industri Sawit dan Risiko Bencana
Ia menegaskan, tanaman apapun jika ditanam pada lahan yang tidak sesuai dengan ekofisiologinya akan merusak lingkungan. Karena itu, bencana banjir dan longsor tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan budidaya kelapa sawit. Menurutnya, kerusakan lingkungan lebih banyak terjadi akibat aktivitas ilegal seperti illegal logging, illegal planting, dan illegal mining.
Menurut Abdul Rauf, kelapa sawit memiliki karakteristik yang justru baik bagi kelestarian lingkungan. Kebun sawit memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air signifikan. Setiap pohon dewasa mampu menyerap hingga 10 liter air per hari. "Kebun sawit dewasa mampu menyerap air hujan rerata setara 43.500 liter per hari. Kebun sawit yang dikelola dengan baik pada kelas lahan yang sesuai dapat berperan dalam mengkonservasi tanah dan air," ujarnya.
Lihat Juga :