Pertamina Pastikan Impor Energi Rp253 Triliun dari AS Melalui Tender Terbuka
Sabtu, 21 Februari 2026 - 09:00 WIB
loading...
A
A
A
Menteri Investasi dan Industri Hilir Rosan Roeslani menyatakan impor energi menjadi salah satu sektor utama dalam hubungan ekonomi bilateral kedua negara. Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan bahwa pembelian ini tidak menambah volume impor, melainkan menggeser sebagian sumber pasokan dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika ke AS.
Baca Juga: Ditekan AS, China Borong Minyak Rusia India Berpaling ke Saudi
Sebelum kesepakatan ini ditandatangani, Pertamina telah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra AS, termasuk ExxonMobil, Chevron, serta yang terbaru dengan Halliburton untuk kerja sama pemulihan lapangan minyak yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo pada 18 Februari 2026.
Pertamina menunggu finalisasi teknis kesepakatan yang diperkirakan rampung dalam 90 hari ke depan, termasuk dukungan kebijakan, perizinan, dan keputusan pemerintah. Simon menekankan bahwa kerja sama ini tidak hanya soal pasokan energi tetapi juga transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. "Ini yang terus kami lakukan dengan mitra-mitra yang ada di Amerika Serikat dan tentunya terbuka, transparan," ujar Simon.
Porsi LPG dari AS Berpotensi Naik
Simon menjelaskan saat ini sekitar 57% impor LPG Pertamina berasal dari AS, dan angka tersebut berpotensi meningkat hingga 70% seiring implementasi kesepakatan dagang ini. Untuk minyak mentah, Pertamina juga berencana meningkatkan porsi pasokan dari AS, sementara produk energi lainnya masih dalam tahap penjajakan.Baca Juga: Ditekan AS, China Borong Minyak Rusia India Berpaling ke Saudi
Sebelum kesepakatan ini ditandatangani, Pertamina telah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra AS, termasuk ExxonMobil, Chevron, serta yang terbaru dengan Halliburton untuk kerja sama pemulihan lapangan minyak yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo pada 18 Februari 2026.
Pertamina menunggu finalisasi teknis kesepakatan yang diperkirakan rampung dalam 90 hari ke depan, termasuk dukungan kebijakan, perizinan, dan keputusan pemerintah. Simon menekankan bahwa kerja sama ini tidak hanya soal pasokan energi tetapi juga transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. "Ini yang terus kami lakukan dengan mitra-mitra yang ada di Amerika Serikat dan tentunya terbuka, transparan," ujar Simon.
(nng)
Lihat Juga :