Rupiah Diramal Tembus Rp20.000 per Dolar AS, Ekonom Wanti-wanti Krisis

Senin, 23 Maret 2026 - 18:57 WIB
loading...
A A A
Untuk menahan tekanan saat itu, pemerintah menerbitkan obligasi internasional melalui global bond dan Samurai bond senilai sekitar USD6,85 miliar. Baca Juga: Rupiah Ambruk Sempat Sentuh Rp17.000 per Dolar AS, Begini Kondisi Terbarunya

Tekanan kedua terjadi sepanjang Januari hingga Oktober 2018. Dalam periode itu cadangan devisa turun USD17,13 miliar, sementara rupiah melemah 13,5% dari Rp13.388 menjadi Rp15.202 per dolar AS. Pemerintah kembali mengandalkan penerbitan utang luar negeri dengan total sekitar USD11,4 miliar untuk menjaga stabilitas pasar.

Menurut Anthony, tekanan paling tajam terjadi saat awal pandemi COVID-19 pada 2020. Dalam satu bulan, cadangan devisa turun sekitar USD10,7 miliar dan rupiah melemah hampir 20% dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 per dolar AS.

"Tiga episode ini menyampaikan pesan yang sangat jelas, cadangan devisa yang besar tidak menjamin stabilitas rupiah. Yang menentukan rupiah adalah apakah aliran dana eksternal (utang) tetap masuk atau berhenti. Dengan kata lain, stabilitas rupiah tergantung dari apakah Indonesia masih bisa berutang terus," ujarnya.

Anthony juga menyoroti tren jangka panjang selama satu dekade terakhir. Meski cadangan devisa meningkat dari sekitar USD100 miliar pada 2014 menjadi sekitar USD150 miliar pada Februari 2026, rupiah justru melemah dari kisaran Rp12.000 menjadi Rp17.000 per dolar AS.

Pada dua bulan pertama 2026, lanjut dia, cadangan devisa telah turun sekitar USD4,6 miliar meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri setara USD7,1 miliar dalam denominasi dolar, euro, dan yuan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
Rupiah Tembus Rp18.000...
Rupiah Tembus Rp18.000 Lagi, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Masih Kuat
Bagaimana Kebijakan...
Bagaimana Kebijakan Bank Sentral Berpengaruh terhadap Pasar Mata Uang?
IHSG Ditutup Menguat...
IHSG Ditutup Menguat Tipis, Rupiah Masih Bertengger di Atas Rp18.000
Rupiah Ambruk ke 18.128...
Rupiah Ambruk ke 18.128 per Dolar AS, Apa Pemicu Sebenarnya?
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Rekomendasi
Mantan Emir Qatar Sheikh...
Mantan Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani Wafat pada Usia 74 Tahun
DPN IARMI: Kritik Harus...
DPN IARMI: Kritik Harus Objektif, Jangan Giring Opini Menyesatkan
Viral! Lagu MBG Mas...
Viral! Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' Muncul di Film Cek Khodam, Ternyata Ini Ceritanya
Berita Terkini
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved