Imbas Krisis Energi Global, Rupiah Pekan Depan Terancam Tembus Rp17.100
Minggu, 29 Maret 2026 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Ibrahim, produksi minyak di Timur Tengah berkurang hingga 10 juta barel per hari. Kondisi ini diperparah dengan serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia yang memicu kelangkaan energi global.
“Geopolitik di Timur Tengah ini pun juga masih rame. Apalagi tentang pembatasan transportasi di Selat Hormuz. Kemudian tentang penyerangan yang ditunda... Perang pun juga masih terus terjadi. Bahkan Timur Tengah sendiri sampai saat ini mengalami pengurangan itu 10 juta barel per hari,” jelasnya.
Di sisi domestik Amerika Serikat, kepemimpinan Donald Trump mulai digoyang oleh penurunan tingkat kepercayaan publik di bawah 40 persen akibat mahalnya harga bahan bakar dan status darurat penerbangan. Namun, pelaku pasar kini menanti kepemimpinan Kevin Hoss di Bank Sentral AS pada April mendatang, yang diprediksi akan mengambil langkah berani untuk menurunkan suku bunga meskipun inflasi tetap tinggi.
Baca Juga: Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih 50%
“Geopolitik di Timur Tengah ini pun juga masih rame. Apalagi tentang pembatasan transportasi di Selat Hormuz. Kemudian tentang penyerangan yang ditunda... Perang pun juga masih terus terjadi. Bahkan Timur Tengah sendiri sampai saat ini mengalami pengurangan itu 10 juta barel per hari,” jelasnya.
Di sisi domestik Amerika Serikat, kepemimpinan Donald Trump mulai digoyang oleh penurunan tingkat kepercayaan publik di bawah 40 persen akibat mahalnya harga bahan bakar dan status darurat penerbangan. Namun, pelaku pasar kini menanti kepemimpinan Kevin Hoss di Bank Sentral AS pada April mendatang, yang diprediksi akan mengambil langkah berani untuk menurunkan suku bunga meskipun inflasi tetap tinggi.
Baca Juga: Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih 50%
Lihat Juga :