Harga Minyak Global Melonjak, Keberlanjutan Pasokan Jadi Tantangan
Jum'at, 10 April 2026 - 11:05 WIB
loading...
A
A
A
"Artinya kebijakan boleh populis, tetapi harus rasional. Kalau populis irasional, kombinasi itu akan menghancurkan semua tatanan, saya kira," tegasnya.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menambahkan, dalam konteks ketahanan energi nasional, kekhawatiran tersebut memang perlu menjadi perhatian. "Apalagi sekarang ini situasinya adalah sales market. Jadi market itu didikte oleh penjual," kata Kholid.
Menurut dia, saat ini Pertamina berada pada posisi yang sulit. Di satu sisi minyak yang dibutuhkan tengah jadi rebutan, di sisi lain belum ada regulasi yang mendukung. "Dasar hukumnya apa untuk menyediakan BBM dan crude itu dengan harga di atas ICP? Ini juga perlu diwaspadai," kata Kholid.
Sementara itu, dari sisi makroekonomi, ekonom Universitas Indonesia (UI) Dipo Satria Ramli mengatakan, berdasarkan hitungan yang dilakukan, jika harga minyak mencapai USD105 per barel dan nilai tukar di level Rp17.000 per USD, maka defisit APBN bisa mencapai 3,6%. Kenaikan harga minyak dan kurs itu menurutnya juga akan membebani keuangan Pertamina. "Kita apresiasi pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi. Tapi secara ekonomi, dia pindah dari beban APBN ke neraca Pertamina. Neraca Pertamina kita belum lihat data terakhirnya bulanan, tapi saya rasa mereka pun menghadapi banyak tantangan," tandasnya.(m faizal)
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menambahkan, dalam konteks ketahanan energi nasional, kekhawatiran tersebut memang perlu menjadi perhatian. "Apalagi sekarang ini situasinya adalah sales market. Jadi market itu didikte oleh penjual," kata Kholid.
Menurut dia, saat ini Pertamina berada pada posisi yang sulit. Di satu sisi minyak yang dibutuhkan tengah jadi rebutan, di sisi lain belum ada regulasi yang mendukung. "Dasar hukumnya apa untuk menyediakan BBM dan crude itu dengan harga di atas ICP? Ini juga perlu diwaspadai," kata Kholid.
Sementara itu, dari sisi makroekonomi, ekonom Universitas Indonesia (UI) Dipo Satria Ramli mengatakan, berdasarkan hitungan yang dilakukan, jika harga minyak mencapai USD105 per barel dan nilai tukar di level Rp17.000 per USD, maka defisit APBN bisa mencapai 3,6%. Kenaikan harga minyak dan kurs itu menurutnya juga akan membebani keuangan Pertamina. "Kita apresiasi pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi. Tapi secara ekonomi, dia pindah dari beban APBN ke neraca Pertamina. Neraca Pertamina kita belum lihat data terakhirnya bulanan, tapi saya rasa mereka pun menghadapi banyak tantangan," tandasnya.(m faizal)
(akr)
Lihat Juga :