Rupiah Masih Berkutat di Rp17.168 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Senin, 20 April 2026 - 15:56 WIB
loading...
A
A
A
Dengan meningkatnya lintasan utang publik, ruang fiskal jauh lebih sempit daripada sebelumnya. Batasan harga, subsidi, dan intervensi menjadi kebijakan populer, tetapi hal itu mendistorsi harga dan kerap dirancang dengan buruk karena menyebabkan ketergantungan serta 'berbiaya mahal'.
Dalam skenario terburuk, kebijakan moneter dan fiskal harus siap untuk beralih mendukung perekonomian dan melindungi sistem keuangan, bersamaan dengan kebijakan keuangan dan likuiditas yang tepat.
Namun bank sentral tidak akan bisa berbuat banyak dalam hal memengaruhi harga energi yang akan mendorong inflasi naik. Pasar pun akan memperhitungkan kenaikan suku bunga.
Dalam situasi ini, IMF juga meminta bank sentral yaitu Bank Indonesia tidak buru-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.160-Rp17.200 per dolar AS.
Dalam skenario terburuk, kebijakan moneter dan fiskal harus siap untuk beralih mendukung perekonomian dan melindungi sistem keuangan, bersamaan dengan kebijakan keuangan dan likuiditas yang tepat.
Namun bank sentral tidak akan bisa berbuat banyak dalam hal memengaruhi harga energi yang akan mendorong inflasi naik. Pasar pun akan memperhitungkan kenaikan suku bunga.
Dalam situasi ini, IMF juga meminta bank sentral yaitu Bank Indonesia tidak buru-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.160-Rp17.200 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :