Soal Tuntutan Harga BBM Turun, Ekonom Ingatkan Saat Krisis 2008
Senin, 04 Mei 2020 - 21:21 WIB
loading...
A
A
A
Terkait hal itu dia mendukung langkah Pemerintah yang tidak menurunkan harga BBM. Sesuai hasil evaluasi Kementerian ESDM, harga jual eceran pada Mei 2020, masih sama dengan harga sebelumnya. "Keputusan tersebut sudah sangat bijak. Pemerintah tidak hanya melihat dalam jangka pendek, namun juga menengah dan panjang," lanjutnya.
Fluktuasi harga minyak, menurut dia memang sangat tinggi, pasalnya, saat ini terdapat faktor-faktor pemicu agar harga minyak dunia kembali menguat, termasuk faktor geopolitik.
Mulai dari perundingan OPEC plus dan rencana pemangkasan produksi hingga 9,7 juta barel per hari, ancaman Trumph kepada Arab Saudi jika tidak memangkas produksi minyak, eskalasi antara AS dan Iran, serta ancaman AS kepada Cina dalam perang dagang jilid kedua. "Selain itu, tentu saja progres penemuan vaksin Corona yang cukup menggembirakan, yang akan memulihkan perekonomian," katanya.
Sementara itu terangnya, kalaupun sekarang BBM diturunkan, tidak akan memiliki dampak signifikan kepada perekonomian, karena inflasi saat ini yang terbilang rendah. “Inflasi Maret 2,9 persen secara umum. Dan inflasi energi dari awal tahun sampe akhir Maret, 0,23 persen. Jadi masih relatif rendah. Dan siginfikansi penurunan harga BBM saat inflasi rendah sangat kurang, apalagi konsumsi juga menurun drastis,” kata dia.
Menurutnya yang berbahaya, kalau sekarang harga BBM diturunkan, maka saat rebound nanti sangat mungkin harga BBM juga ikut dinaikkan. "Dan ini bedanya. Kalau penurunan BBM tidak otomatif berimbas pada penurunan harga pokok. Tetapi jika BBM dinaikkan, akan memicu kenaikan harga pokok sehingga terjadi inflasi. Makanya sangat berbahaya," ujarnya.
Fluktuasi harga minyak, menurut dia memang sangat tinggi, pasalnya, saat ini terdapat faktor-faktor pemicu agar harga minyak dunia kembali menguat, termasuk faktor geopolitik.
Mulai dari perundingan OPEC plus dan rencana pemangkasan produksi hingga 9,7 juta barel per hari, ancaman Trumph kepada Arab Saudi jika tidak memangkas produksi minyak, eskalasi antara AS dan Iran, serta ancaman AS kepada Cina dalam perang dagang jilid kedua. "Selain itu, tentu saja progres penemuan vaksin Corona yang cukup menggembirakan, yang akan memulihkan perekonomian," katanya.
Sementara itu terangnya, kalaupun sekarang BBM diturunkan, tidak akan memiliki dampak signifikan kepada perekonomian, karena inflasi saat ini yang terbilang rendah. “Inflasi Maret 2,9 persen secara umum. Dan inflasi energi dari awal tahun sampe akhir Maret, 0,23 persen. Jadi masih relatif rendah. Dan siginfikansi penurunan harga BBM saat inflasi rendah sangat kurang, apalagi konsumsi juga menurun drastis,” kata dia.
Menurutnya yang berbahaya, kalau sekarang harga BBM diturunkan, maka saat rebound nanti sangat mungkin harga BBM juga ikut dinaikkan. "Dan ini bedanya. Kalau penurunan BBM tidak otomatif berimbas pada penurunan harga pokok. Tetapi jika BBM dinaikkan, akan memicu kenaikan harga pokok sehingga terjadi inflasi. Makanya sangat berbahaya," ujarnya.
(akr)
Lihat Juga :