Krisis Selat Hormuz: Arena Baru AS-China Rebutan Energi Masa Depan

Rabu, 29 April 2026 - 20:59 WIB
loading...
Krisis Selat Hormuz:...
Ketegangan di kawasan Teluk Persia antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diprediksi akan mengubah wajah pasar energi global secara permanen dalam jangka panjang. FOTO/AP
A A A
BERLIN - etegangan di kawasan Teluk Persia antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diprediksi akan mengubah wajah pasar energi global secara permanen dalam jangka panjang. Di balik krisis Selat Hormuz, dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, AS dan China, kini tengah terlibat dalam persaingan sengit untuk mendominasi arsitektur energi masa depan.

"Di AS, agenda dominasi energi sangat bergantung pada pasar energi fosil dan mencoba memanfaatkan kekayaan tersebut secara politik," ujar Direktur Willy Brandt School of Public Policy, Andreas Goldthau dikutip dari DW, Rabu (29/4/2026).

Baca Juga: Pentagon Akui Tak Mampu Lawan Rudal Hipersonik Rusia dan China

Menurut Goldthau, strategi Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump bertujuan memperpanjang usia penggunaan bahan bakar fosil selama mungkin. Melalui slogan "Drill, baby, drill", AS gencar menggenjot produksi minyak dan gas dalam negeri untuk dijadikan instrumen kebijakan luar negeri sekaligus memperkuat pengaruh ekonomi terhadap negara mitra.

Data Gedung Putih mengklaim, AS kini memproduksi minyak lebih besar dari gabungan produksi Arab Saudi dan Rusia. Berkat revolusi fracking, AS bertransformasi dari importir terbesar menjadi eksportir gas global utama, yang kini digunakan sebagai posisi tawar (leverage) dalam negosiasi tarif dagang dengan Eropa hingga Asia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Kapal Tanker Kembali...
Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang
Indonesia Negara Kaya...
Indonesia Negara Kaya Batu Bara, Mengapa Justru Impor dari AS?
Perang Bikin Jalur Suku...
Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir
Iran Gunakan Selat Hormuz...
Iran Gunakan Selat Hormuz Jegal Tekanan AS, Pasar Minyak Dunia Ketar-ketir
Duo Zou Bersaudara Asal...
Duo Zou Bersaudara Asal China Mendadak Jadi Miliarder Gara-gara Robot Humanoid, Begini Kisahnya
Iran Dituding Minta...
Iran Dituding Minta Jeda Serangan saat Pemakaman Khamenei, Trump: Kita Serang Lagi pada Rabu Malam
2 Geng Kriminal Ditarget...
2 Geng Kriminal Ditarget Trump, Brasil: Invasi AS di Depan Mata
Iran dan AS Saling Serang,...
Iran dan AS Saling Serang, Trump: Gencatan Senjata Berakhir
Rekomendasi
Ketua MPR Ungkap Ada...
Ketua MPR Ungkap Ada Ulama Ikut ke Iran: Saya Belum Tahu Namanya
Rumah Jampidsus Febrie...
Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Puluhan Anggota TNI, Ada Apa?
18 DPC Beri Dukungan,...
18 DPC Beri Dukungan, Nurdiansyah Alasta Siap Pimpin Demokrat Aceh
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved