Krisis Selat Hormuz: Arena Baru AS-China Rebutan Energi Masa Depan
Rabu, 29 April 2026 - 20:59 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: UEA Keluar dari OPEC, Guncang Pasar Energi Global
Pakar energi dari Eurasia Group, Henning Gloystein, menilai AS mencoba membendung laju tersebut dengan mengikat negara-negara mitra melalui kontrak gas alam cair (LNG) jangka panjang. Washington menawarkan tarif rendah bagi negara-negara seperti Jepang, Thailand, dan India asalkan mereka berkomitmen menggunakan energi fosil AS hingga puluhan tahun ke depan.
Langkah AS yang mengerem transisi energi terbarukan demi percepatan bahan bakar fosil ini dinilai sebagai upaya menciptakan ketergantungan energi sistemik. Strategi ini tidak hanya menyasar pasar, tetapi juga upaya mengendalikan aset energi di negara-negara kaya sumber daya yang tengah berkonflik.
Sementara itu, sektor energi bersih telah menyumbang lebih dari sepertiga total pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China pada 2025. Pertumbuhan ekspor teknologi hijau China yang meningkat empat kali lipat sejak 2020 menunjukkan ketergantungan dunia terhadap produk hilir China kini mencakup komponen penting seperti logam tanah jarang dan elektroliser.
Menanggapi itu, Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengingatkan bahwa keamanan energi di abad ke-21 tidak hanya soal ketersediaan minyak dan gas. Ia menekankan pentingnya diversifikasi rantai pasok teknologi bersih agar dunia tidak terjebak dalam satu dominasi kekuatan di tengah transisi energi global.
Pakar energi dari Eurasia Group, Henning Gloystein, menilai AS mencoba membendung laju tersebut dengan mengikat negara-negara mitra melalui kontrak gas alam cair (LNG) jangka panjang. Washington menawarkan tarif rendah bagi negara-negara seperti Jepang, Thailand, dan India asalkan mereka berkomitmen menggunakan energi fosil AS hingga puluhan tahun ke depan.
Langkah AS yang mengerem transisi energi terbarukan demi percepatan bahan bakar fosil ini dinilai sebagai upaya menciptakan ketergantungan energi sistemik. Strategi ini tidak hanya menyasar pasar, tetapi juga upaya mengendalikan aset energi di negara-negara kaya sumber daya yang tengah berkonflik.
Sementara itu, sektor energi bersih telah menyumbang lebih dari sepertiga total pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China pada 2025. Pertumbuhan ekspor teknologi hijau China yang meningkat empat kali lipat sejak 2020 menunjukkan ketergantungan dunia terhadap produk hilir China kini mencakup komponen penting seperti logam tanah jarang dan elektroliser.
Menanggapi itu, Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengingatkan bahwa keamanan energi di abad ke-21 tidak hanya soal ketersediaan minyak dan gas. Ia menekankan pentingnya diversifikasi rantai pasok teknologi bersih agar dunia tidak terjebak dalam satu dominasi kekuatan di tengah transisi energi global.
(nng)
Lihat Juga :