Rupiah Kian Terpuruk ke Level Terburuk, Dolar AS Tembus Rp17.346
Kamis, 30 April 2026 - 15:55 WIB
loading...
A
A
A
Ibrahim menilai lonjakan harga minyak berpotensi menekan neraca transaksi berjalan serta meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel diperkirakan menambah beban subsidi hingga Rp10 triliun–Rp13 triliun per tahun.
Baca Juga: Kapal Induk Nuklir Terbesar AS Gerald R Ford Mundur dari Perang Iran
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari potensi arus keluar dana asing akibat kebijakan MSCI yang menahan aliran modal ke pasar domestik. Kondisi ini membuka peluang terjadinya outflow hingga Rp15 triliun.
Bank Indonesia (BI) disebut terus melakukan intervensi di berbagai lini, mulai dari pasar valuta asing hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, guna menjaga stabilitas nilai tukar. BI juga mengoptimalkan instrumen seperti Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic NDF (DNDF), serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan potensi pelemahan lanjutan di kisaran Rp17.350 hingga Rp17.400 per dolar AS, seiring tingginya ketidakpastian global dan tekanan dari sektor energi.
Baca Juga: Kapal Induk Nuklir Terbesar AS Gerald R Ford Mundur dari Perang Iran
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari potensi arus keluar dana asing akibat kebijakan MSCI yang menahan aliran modal ke pasar domestik. Kondisi ini membuka peluang terjadinya outflow hingga Rp15 triliun.
Bank Indonesia (BI) disebut terus melakukan intervensi di berbagai lini, mulai dari pasar valuta asing hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, guna menjaga stabilitas nilai tukar. BI juga mengoptimalkan instrumen seperti Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic NDF (DNDF), serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan potensi pelemahan lanjutan di kisaran Rp17.350 hingga Rp17.400 per dolar AS, seiring tingginya ketidakpastian global dan tekanan dari sektor energi.
(nng)
Lihat Juga :