BUMN Berkontribusi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Selasa, 12 Mei 2026 - 19:31 WIB
loading...
BUMN Berkontribusi Dongkrak...
Transformasi badan usaha milik negara (BUMN) dinilai menjadi salah satu faktor penting yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dok SindoNews
A A A
JAKARTA - Transformasi badan usaha milik negara ( BUMN ) dinilai menjadi salah satu faktor penting yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026. Managing Partner BUMN Research Group LM FEB Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mengatakan kontribusi tersebut terutama datang dari kelompok BUMN berkapitalisasi besar atau blue chips yang masih mendominasi aktivitas ekonomi nasional.

"Menurut saya sebagian besar kontributor terhadap pertumbuhan ekonomi masih didominasi blue chips BUMN seperti Himbara yang mendorong transaksi ekonomi tumbuh," ujar Toto di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Toto menjelaskan bank-bank Himbara berperan dalam menjaga likuiditas dan pembiayaan ekonomi nasional yang menjadi motor penting pertumbuhan konsumsi dan investasi. Toto melanjutkan, sebagian besar kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masih berasal dari sejumlah BUMN besar yang memiliki peran strategis di sekto energi, telekomunikasi, dan pertambangan.

Baca Juga : Jadi Mesin Investasi Baru, Danantara Didorong Akhiri Inefisiensi di BUMN

"MIND ID yang kontribusi ekspor dan penerimaan valas tinggi, serta menumbuhkan bisnis hilirisasi," sambung Toto.

Menurut Toto, kontribusi ekspor dan penerimaan devisa dari sektor tambang melalui Mind ID turut memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global. Selain itu, Toto menilai peran PT Pertamina dan PT Telkom Indonesia juga sangat signifikan dalam menjaga aktivitas ekonomi nasional.

Menurutnya, kedua perusahaan pelat merah tersebut mampu menciptakan efek berganda melalui penguatan sektor energi dan konektivitas digital yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi modern. Namun demikian, Toto menilai kontribusi BUMN secara keseluruhan masih belum optimal karena pertumbuhan masih bertumpu pada kelompok perusahaan besar saja.

"Hal ini menggambarkan peran BUMN lainnya di luar kelompok blue chips tidak optimal," lanjut Toto.

Ia menambahkan kontribusi BUMN terhadap pertumbuhan ekonomi nasional seharusnya dapat lebih besar apabila investasi di sektor hilir dengan nilai tambah tinggi dipercepat. Salah satu contohnya adalah pengembangan industri baterai kendaraan listrik melalui konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC).

“Kontribusi BUMN bisa lebih tinggi apabila mereka bisa lebih banyak investasi di hilir dengan nilai tambah lebih tinggi. Misal, percepatan pembangunan pabrik baterai EV oleh konsorsium IBC yang didominasi BUMN, maka kontribusi perusahaan negara bisa lebih besar," ucap Toto.

Baca Juga : Bidik Momentum AI Chip, Danantara Dorong Pemerintah Gaspol Industri Semikonduktor

Toto juga menyinggung peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang saat ini masih fokus melakukan pembenahan internal dan restrukturisasi sejumlah BUMN. Menurut dia, kondisi tersebut membuat perusahaan-perusahaan BUMN yang menonjol masih berasal dari sektor-sektor unggulan lama.

"Setelah ada Danantara, BUMN yang berkibar relatif ada di sektor blue chips saja. Danantara juga di periode ini sibuk dengan restrukturisasi, misal Garuda atau beberapa BUMN Karya," kata Toto. tolong ganti dua paragraf di atas dengan kalimat lain tapi esensinya sama

Transformasi badan usaha milik negara (BUMN) disebut menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026. Managing Partner BUMN Research Group LM FEB Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto, menilai kontribusi terbesar masih berasal dari BUMN berkapitalisasi besar atau kelompok blue chips yang mendominasi aktivitas ekonomi nasional.

“Menurut saya, pendorong utama pertumbuhan ekonomi masih berasal dari BUMN blue chips seperti Himbara yang menopang peningkatan transaksi ekonomi,” ujar Toto di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Toto menjelaskan, bank-bank Himbara memiliki peran penting dalam menjaga likuiditas sekaligus menyalurkan pembiayaan bagi perekonomian nasional, sehingga mampu mendukung pertumbuhan konsumsi dan investasi. Ia juga menilai sejumlah BUMN besar di sektor energi, telekomunikasi, dan pertambangan masih menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“MIND ID memiliki kontribusi besar terhadap ekspor dan penerimaan devisa, sekaligus mendorong pengembangan industri hilirisasi,” kata Toto.

Menurut Toto, kontribusi ekspor dan penerimaan devisa dari sektor tambang melalui Mind ID turut memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global. Selain itu, Toto menilai peran PT Pertamina dan PT Telkom Indonesia juga sangat signifikan dalam menjaga aktivitas ekonomi nasional.

Ia mengatakan, kedua BUMN tersebut mampu menciptakan multiplier effect melalui penguatan sektor energi dan konektivitas digital yang kini menjadi fondasi penting pertumbuhan ekonomi modern. Meski begitu, Toto menilai kontribusi BUMN secara keseluruhan masih belum maksimal karena pertumbuhan ekonomi masih banyak ditopang oleh perusahaan-perusahaan besar saja.

“Kondisi ini menunjukkan peran BUMN di luar kelompok blue chips masih belum optimal,” ujarnya.

Toto menambahkan, kontribusi BUMN terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sebenarnya dapat meningkat apabila investasi di sektor hilir bernilai tambah tinggi dipercepat. Salah satu contohnya ialah pengembangan industri baterai kendaraan listrik melalui konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC).

“Kontribusi BUMN bisa lebih besar apabila investasi di sektor hilir dengan nilai tambah tinggi diperluas. Misalnya, percepatan pembangunan pabrik baterai EV oleh konsorsium IBC yang mayoritas diisi BUMN dapat meningkatkan peran perusahaan negara dalam ekonomi,” jelas Toto.

Toto juga menyoroti peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang saat ini masih fokus melakukan pembenahan internal dan restrukturisasi sejumlah perusahaan pelat merah. Menurut dia, kondisi tersebut membuat BUMN yang tampil dominan masih berasal dari sektor-sektor unggulan lama.

“Sejak hadirnya Danantara, BUMN yang menonjol masih didominasi sektor blue chips. Saat ini Danantara juga masih fokus pada restrukturisasi, seperti Garuda dan beberapa BUMN karya,” tutup Toto.
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dirut PTPN I Beberkan...
Dirut PTPN I Beberkan Lima Pilar Industri Perkebunan
Kinerja BUMN Menguat,...
Kinerja BUMN Menguat, Muncul Motor Pertumbuhan Baru
Danantara Mulai Merger...
Danantara Mulai Merger Empat Perusahaan Pengelola Aset BUMN
Pemerintah Pastikan...
Pemerintah Pastikan Streamlining BUMN Transparan, Libatkan Kejaksaan Agung hingga BPK
Optimisme Baru Ekonomi:...
Optimisme Baru Ekonomi: Laba Sejumlah BUMN Tumbuh Signifikan
Gaduh Pengangkatan Komisaris...
Gaduh Pengangkatan Komisaris BUMN, Qodari: Penting untuk Kawal Agenda Negara
Prabowo Sebut BUMN Sumber...
Prabowo Sebut BUMN Sumber Korupsi: Kembalikan Kekayaan Rakyat
Perindo Apresiasi Inisiatif...
Perindo Apresiasi Inisiatif Danantara Bangun Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik di Denpasar Raya
Sucofindo Buka Lowongan...
Sucofindo Buka Lowongan Kerja 2026, Lulusan D3/S1 Berbagai Jurusan Merapat!
Rekomendasi
Birdman Tayang di VISION+,...
Birdman Tayang di VISION+, Simak Sinopsis Film Drama Komedi Dibintangi Michael Keaton
Menhaj Minta BPKH Cairkan...
Menhaj Minta BPKH Cairkan Rp4 Triliun untuk DP Layanan Haji 2027 ke Arab Saudi
Mendikdasmen Kunjungi...
Mendikdasmen Kunjungi SDN Srengseng Sawah 15 Pascateror Bom, Pastikan MPLS Tetap Aman
Berita Terkini
Tren Global Tokenisasi...
Tren Global Tokenisasi Aset Menguat, RWA Jadi Motor Baru Industri Kripto
INDEF: Wacana Layer...
INDEF: Wacana Layer Cukai Rokok Murah Berisiko Tekan Penerimaan Negara
8 Juta Sertifikat Tanah...
8 Juta Sertifikat Tanah Gratis Bakal Diterbitkan untuk MBR, Intip Tiga Kategorinya
Pemanfaatan Big Data...
Pemanfaatan Big Data Analytics di Perusahaan Reasuransi
IHSG Ditutup Bertahan...
IHSG Ditutup Bertahan di Level 6.039, Ada 439 Saham Menguat
LKPP 2025 Raih Opini...
LKPP 2025 Raih Opini WTP dengan Defisit Terkendali, Purbaya Selesaikan Temuan BPK
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved