India Resmi Larang Ekspor Gula hingga September 2026, Awas Kenaikan Harga

Kamis, 14 Mei 2026 - 22:26 WIB
loading...
India Resmi Larang Ekspor...
Kabar buruk menghantam pasar pangan global. Produsen gula terbesar di dunia, India resmi mengumumkan pelarangan ekspor gula mulai hari ini hingga 30 September 2026. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Kabar buruk menghantam pasar pangan global. Produsen gula terbesar di dunia, India resmi mengumumkan pelarangan ekspor gula mulai hari ini hingga 30 September 2026. Langkah drastis ini diambil New Delhi guna mengamankan pasokan dalam negeri yang kian menipis akibat anomali cuaca ekstrem.

Keputusan ini diperkirakan akan memicu guncangan hebat pada harga gula internasional yang saat ini sudah berada dalam tren reli (kenaikan). Bagi konsumen global, kebijakan ini adalah sinyal bahaya bagi stabilitas harga bahan pokok di meja makan mereka.

Efek El Nino Bikin Produksi Gula India Terjun Bebas

Pemerintah India terpaksa menekan tombol darurat setelah proyeksi panen tebu menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Fenomena cuaca El Nino menyebabkan curah hujan monsun berada di bawah rata-rata, menghantam jantung perkebunan tebu negara tersebut.

Baca Juga: India Berencana Setop Ekspor Gula, RI Antisipasi Lonjakan Harga

Data statistik menunjukkan penurunan yang signifikan, ketika India memerlukan sekitar 26-28 juta ton gula per tahun. Sementara produksi gula diperkirakan anjlok menjadi 25,8 juta ton untuk musim 2024-2025 -angka yang bahkan tidak cukup untuk menutupi kebutuhan rakyatnya sendiri.

Dari rekor 11 juta ton pada 2021, ekspor India terus merosot tajam hingga hanya tersisa 900.000 ton pada periode terakhir sebelum larangan ini berlaku.



Selain cuaca, perang di Iran juga mempengaruhi prospek sektor gula karena kekhawatiran terkait impor pupuk. Timur Tengah menyumbang sekitar setengah dari impor pupuk India.

Arab Saudi dikenal sebagai pemasok terbesar diammonium phosphate bagi India, dan Oman adalah pemasok urea terbesar. Kekhawatiran juga muncul dari kelangkaan gas alam cair, bahan baku utama untuk produksi urea. Diketahui Qatar merupakan adalah pemasok LNG impor terbesar bagi India.

Baca Juga: Dukung Swasembada Gula, Pabrik Gula di Sulawesi Siap Diaktifkan Kembali

Badan pemeringkat Moody’s mengatakan, bahwa mereka melihat ada efek terhadap inflasi pangan India karena ketergantungan New Delhi pada pupuk impor. Sementara India telah mengakui gangguan pasokan pupuk akibat pengalihan rute pengiriman, yang telah meningkatkan waktu pengantaran. Konflik di Ukraina dan Timur Tengah juga telah meningkatkan harga pupuk secara global.

Siapa yang Paling Terluka?

Kebijakan ini menjadi pukulan telak bagi negara-negara yang selama ini bergantung pada manisnya gula India. Negara-negara di Afrika, seperti Sudan, Libya, dan Somalia, berada di baris terdepan yang terancam mengalami krisis pasokan pangan akibat kebijakan ini.

New Delhi hanya memberikan pengecualian sangat terbatas, yakni bagi pengiriman yang sudah masuk dalam kontrak pemerintah untuk ketahanan pangan nasional negara mitra. Bagaimana dengan Indonesia yang juga dikenal sebagai salah satu pengonsumsi gula yang besar.

Indonesia perlu mewaspadai efek domino dari kebijakan India ini. Diketahui gula adalah bahan baku utama industri makanan dan minuman. Jika harga gula dunia meroket, harga roti, minuman kemasan, hingga camilan favorit Anda bisa ikut naik.

Kenaikan harga komoditas pangan pokok seringkali menjadi pemicu inflasi yang dapat menggerus daya beli masyarakat di pasar-pasar lokal. Indonesia harus berebut pasokan dengan negara lain untuk mencari alternatif dari negara produsen seperti Brasil atau Thailand, yang kemungkinan juga akan menaikkan harga jual mereka.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
RI-India Bidik Nilai...
RI-India Bidik Nilai Kerja Sama Ekonomi Tembus Rp445,8 Triliun, dari Infrastruktur hingga SDA
Bertemu PM Modi, Prabowo...
Bertemu PM Modi, Prabowo Minta QRIS Segera Bisa Dipakai di India
Pasar Mulai Cemas, Mata...
Pasar Mulai Cemas, Mata Uang Rupee India Kehabisan Napas justru Saat Dolar AS Lemah
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
Menpar: Prambanan Jadi...
Menpar: Prambanan Jadi Jembatan Pariwisata Budaya dan Spiritual Indonesia-India
Prabowo Beri Pelukan...
Prabowo Beri Pelukan Hangat Modi, Antar Kepulangan di Bandara YIA
Prabowo dan Modi Resmikan...
Prabowo dan Modi Resmikan Kerja Sama Indonesia-India untuk Konservasi Candi Prambanan
Rekomendasi
KPK Geledah Rumah Anggota...
KPK Geledah Rumah Anggota BPK Bobby Rizaldi
Selamat Ginting: Prabowo...
Selamat Ginting: Prabowo Harus Jadi Panglima Tertinggi Pemberantasan Korupsi
Iran Dituding Retas...
Iran Dituding Retas Jaringan Seluler Timur Tengah untuk Lacak Personel AS
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
Infografis
Masalah Dunia Saat Ini,...
Masalah Dunia Saat Ini, dari Utang hingga Ancaman Kenaikan Harga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved