Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS di Pasar Internasional, Berikut Pemicunya
Jum'at, 15 Mei 2026 - 13:26 WIB
loading...
A
A
A
"Artinya Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Ya mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar di hari Senin (18/5)," jelas Ibrahim.
Ibrahim memperingatkan, adanya beban berat pada anggaran negara akibat tingginya subsidi BBM, mengingat 85% dari 1,5 juta barel minyak yang diimpor dialokasikan untuk subsidi. Jika tekanan berlanjut, ia memprediksi rupiah bisa menembus level Rp18.000 bahkan hingga Rp22.000 dalam skenario terburuk.
Sebagai langkah antisipasi, BI diperkirakan akan mengambil kebijakan agresif dalam pertemuan bulan depan.
"Cara satu-satunya ada kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia kemungkinan dalam pertemuan di bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga. Ya bisa saja 25 basis point sampai 50 basis point. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah," pungkasnya.
Meski demikian, Ibrahim menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih cukup solid, didukung oleh kepemilikan domestik yang dominan (90 persen) pada instrumen obligasi negara.
Ibrahim memperingatkan, adanya beban berat pada anggaran negara akibat tingginya subsidi BBM, mengingat 85% dari 1,5 juta barel minyak yang diimpor dialokasikan untuk subsidi. Jika tekanan berlanjut, ia memprediksi rupiah bisa menembus level Rp18.000 bahkan hingga Rp22.000 dalam skenario terburuk.
Sebagai langkah antisipasi, BI diperkirakan akan mengambil kebijakan agresif dalam pertemuan bulan depan.
"Cara satu-satunya ada kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia kemungkinan dalam pertemuan di bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga. Ya bisa saja 25 basis point sampai 50 basis point. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah," pungkasnya.
Meski demikian, Ibrahim menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih cukup solid, didukung oleh kepemilikan domestik yang dominan (90 persen) pada instrumen obligasi negara.
(akr)
Lihat Juga :