Rupiah Membaik Diterpa Angin Suku Bunga, Hari Ini Sentuh Rp17.653 per Dolar AS
Rabu, 20 Mei 2026 - 17:58 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup menguat pada akhir perdagangan, Rabu (20/5/2026), naik 52 poin atau sekitar 0,29% ke level Rp17.653 per dolar AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup menguat pada akhir perdagangan, Rabu (20/5/2026), naik 52 poin atau sekitar 0,29% ke level Rp17.653 per dolar AS. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari global yaitu Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan perang dengan Iran akan berakhir dengan sangat cepat.
Meski begitu investor tetap waspada terhadap hasil perundingan perdamaian di tengah gangguan berkelanjutan terhadap pasokan Timur Tengah akibat konflik tersebut. Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan, Amerika dan Iran telah mencapai kemajuan dalam perundingan, dengan kedua pihak tidak menginginkan dimulainya kembali aksi militer.
"Meskipun Trump menegaskan kepada anggota parlemen AS pada Selasa malam tentang berakhirnya konflik dengan cepat, sebelumnya ia mengatakan Amerika Serikat mungkin perlu menyerang Iran lagi dan ia hampir memerintahkan serangan sebelum menundanya," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Tok! BI Menaikkan Suku Bunga Acuan ke Level 5,25%, Mampukah Selamatkan Rupiah?
Komentarnya tentang perlunya serangan lagi muncul sehari setelah ia mengatakan telah menunda rencana dimulainya kembali permusuhan menyusul proposal baru dari Teheran untuk mengakhiri perang AS-Israel.
Dalam pernyataannya pada hari Selasa, Trump juga mengatakan para pemimpin Iran memohon kesepakatan dan memperingatkan serangan AS baru akan terjadi dalam beberapa hari mendatang jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Baca Juga: Jaga Rupiah, BI Perketat Aturan Transaksi Valas per Juni 2026
Perang AS-Israel melawan Iran telah menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global, sehingga menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar di dunia, menurut Badan Energi Internasional.
Pasar tetap waspada terhadap dampak inflasi dari perang Iran dalam beberapa minggu terakhir, seiring dengan harga minyak mentah yang lebih tinggi telah mendorong inflasi lebih tinggi di seluruh ekonomi utama, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve AS (Fed), mungkin perlu menaikkan suku bunga.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan hampir 50% kemungkinan bahwa, pada akhir tahun, The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin. Ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan dengan kemungkinan 35 persen yang terlihat seminggu yang lalu.
Dari sentimen domestik, pasar merespon positif atas pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% pada 2027. Prabowo mengungkapkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tujuh tahun terakhir adalah 5 persen.
Namun ia mengakui meski ekonomi melaju, kelas menengah menurun dan kemiskinan meningkat. Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menargetkan inflasi di kisaran 1,5% hingga 3,5%.
Dari sisi nilai tukar, rupiah ditargetkan berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS, suku bunga SBN 10 tahun 6,5-7,3%. Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia diasumsikan USD70-USD90 per barel.
Adapun lifting minyak mentah 602 ribu barel per hari hingga 615 ribu barel per hari dan lifting gas bumi 934 ribu barel setara minyak per hari hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.
Terkait APBN, tahun depan pemerintah menargetkan pendapatan negara di kisaran 11,82 hingga 12,40% dari PDB, belanja negara 13,62 hingga 14,80% dari PDB, dan defisit dijaga di kisaran 1,8 hingga 2,4% dari PDB. "Kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit," ujar Prabowo.
Kemudian, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan , BI Rate, sebesar 50 basis poin ke level 5,25%. Suku bunga Deposit Facility sebesar 4,25% dan Lending Facility sebesar 6.25 persen. Keputusan ini mengakhiri kebijakan BI menahan suku bunga selama 8 bulan beruntun.
Keputusan ini, menurut BI, dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5±1 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.650-Rp17.700 per dolar AS.
Meski begitu investor tetap waspada terhadap hasil perundingan perdamaian di tengah gangguan berkelanjutan terhadap pasokan Timur Tengah akibat konflik tersebut. Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan, Amerika dan Iran telah mencapai kemajuan dalam perundingan, dengan kedua pihak tidak menginginkan dimulainya kembali aksi militer.
"Meskipun Trump menegaskan kepada anggota parlemen AS pada Selasa malam tentang berakhirnya konflik dengan cepat, sebelumnya ia mengatakan Amerika Serikat mungkin perlu menyerang Iran lagi dan ia hampir memerintahkan serangan sebelum menundanya," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Tok! BI Menaikkan Suku Bunga Acuan ke Level 5,25%, Mampukah Selamatkan Rupiah?
Komentarnya tentang perlunya serangan lagi muncul sehari setelah ia mengatakan telah menunda rencana dimulainya kembali permusuhan menyusul proposal baru dari Teheran untuk mengakhiri perang AS-Israel.
Dalam pernyataannya pada hari Selasa, Trump juga mengatakan para pemimpin Iran memohon kesepakatan dan memperingatkan serangan AS baru akan terjadi dalam beberapa hari mendatang jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Baca Juga: Jaga Rupiah, BI Perketat Aturan Transaksi Valas per Juni 2026
Perang AS-Israel melawan Iran telah menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global, sehingga menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar di dunia, menurut Badan Energi Internasional.
Pasar tetap waspada terhadap dampak inflasi dari perang Iran dalam beberapa minggu terakhir, seiring dengan harga minyak mentah yang lebih tinggi telah mendorong inflasi lebih tinggi di seluruh ekonomi utama, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve AS (Fed), mungkin perlu menaikkan suku bunga.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan hampir 50% kemungkinan bahwa, pada akhir tahun, The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin. Ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan dengan kemungkinan 35 persen yang terlihat seminggu yang lalu.
Dari sentimen domestik, pasar merespon positif atas pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% pada 2027. Prabowo mengungkapkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tujuh tahun terakhir adalah 5 persen.
Namun ia mengakui meski ekonomi melaju, kelas menengah menurun dan kemiskinan meningkat. Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menargetkan inflasi di kisaran 1,5% hingga 3,5%.
Dari sisi nilai tukar, rupiah ditargetkan berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS, suku bunga SBN 10 tahun 6,5-7,3%. Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia diasumsikan USD70-USD90 per barel.
Adapun lifting minyak mentah 602 ribu barel per hari hingga 615 ribu barel per hari dan lifting gas bumi 934 ribu barel setara minyak per hari hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.
Terkait APBN, tahun depan pemerintah menargetkan pendapatan negara di kisaran 11,82 hingga 12,40% dari PDB, belanja negara 13,62 hingga 14,80% dari PDB, dan defisit dijaga di kisaran 1,8 hingga 2,4% dari PDB. "Kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit," ujar Prabowo.
Kemudian, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan , BI Rate, sebesar 50 basis poin ke level 5,25%. Suku bunga Deposit Facility sebesar 4,25% dan Lending Facility sebesar 6.25 persen. Keputusan ini mengakhiri kebijakan BI menahan suku bunga selama 8 bulan beruntun.
Keputusan ini, menurut BI, dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5±1 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.650-Rp17.700 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :