Rupiah Jebol Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pelemahan Terburuk Sepanjang Sejarah
Kamis, 04 Juni 2026 - 10:01 WIB
loading...
A
A
A
Bank Indonesia (BI) menyatakan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global maupun domestik serta siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Baca Juga: Kurs Rupiah Ambruk ke Rp17.956 per Dolar AS, BI Angkat Suara
Sebagai bagian dari upaya stabilisasi, sejak 2 Juni 2026 BI mulai memberlakukan ketentuan batas pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying sebesar 25.000 dolar AS per pelaku per bulan. Bank sentral juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Saat ini kerja sama LCT telah dijalin Indonesia dengan sejumlah negara mitra, antara lain China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
"BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, baru-baru ini.
Baca Juga: Kurs Rupiah Ambruk ke Rp17.956 per Dolar AS, BI Angkat Suara
Sebagai bagian dari upaya stabilisasi, sejak 2 Juni 2026 BI mulai memberlakukan ketentuan batas pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying sebesar 25.000 dolar AS per pelaku per bulan. Bank sentral juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Saat ini kerja sama LCT telah dijalin Indonesia dengan sejumlah negara mitra, antara lain China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
"BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, baru-baru ini.
(nng)
Lihat Juga :