Pemadaman Listrik Ungkap Pentingnya Sinkronisasi RKAB dan Pasokan Batu Bara
Kamis, 02 Juli 2026 - 14:25 WIB
loading...
A
A
A
Tenggara juga menyoroti keterbatasan pasokan batu bara kalori menengah yang banyak digunakan PLTU. Kondisi ini memaksa sebagian pembangkit melakukan pencampuran batu bara dengan kualitas berbeda, yang berpotensi menambah tantangan operasional.
Kombinasi antara keterlambatan RKAB, penyesuaian target produksi nasional, tingginya harga ekspor, dan keterbatasan pasokan batu bara dengan spesifikasi tertentu dinilai mempersempit ruang antisipasi sistem ketika terjadi gangguan. Dalam situasi tersebut, gangguan teknis yang seharusnya dapat diatasi lebih cepat berpotensi memberikan dampak yang lebih luas terhadap keandalan pasokan listrik.
Menurut Tenggara, gangguan yang terjadi menunjukkan bahwa persoalan keandalan listrik tidak dapat dilihat hanya dari sisi operasional pembangkit. Dinamika produksi batu bara, efektivitas kebijakan DMO, kepastian perizinan melalui RKAB, hingga ketersediaan batu bara dengan spesifikasi yang sesuai merupakan bagian dari rantai pasok yang saling memengaruhi. Ketika salah satu mata rantai mengalami gangguan, gangguan tersebut dapat lebih mudah berkembang menjadi gangguan pasokan listrik yang lebih luas.
"Tanpa pembenahan yang lebih menyeluruh, Indonesia berisiko menghadapi kembali gangguan pasokan pada tahun-tahun mendatang," tulis Tenggara Strategics.
Bagi Tenggara, pemadaman yang telah berlalu menunjukkan bahwa besarnya cadangan batu bara nasional tidak otomatis menjamin keamanan pasokan listrik. Yang menentukan adalah kemampuan memastikan batu bara yang dibutuhkan pembangkit tersedia dalam jumlah, kualitas, dan waktu yang tepat ketika sistem membutuhkannya. Dalam konteks tersebut, efektivitas RKAB, keberlanjutan DMO, serta sinkronisasi kebijakan sektor pertambangan dan ketenagalistrikan menjadi faktor penting untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional ke depan.
Kombinasi antara keterlambatan RKAB, penyesuaian target produksi nasional, tingginya harga ekspor, dan keterbatasan pasokan batu bara dengan spesifikasi tertentu dinilai mempersempit ruang antisipasi sistem ketika terjadi gangguan. Dalam situasi tersebut, gangguan teknis yang seharusnya dapat diatasi lebih cepat berpotensi memberikan dampak yang lebih luas terhadap keandalan pasokan listrik.
Menurut Tenggara, gangguan yang terjadi menunjukkan bahwa persoalan keandalan listrik tidak dapat dilihat hanya dari sisi operasional pembangkit. Dinamika produksi batu bara, efektivitas kebijakan DMO, kepastian perizinan melalui RKAB, hingga ketersediaan batu bara dengan spesifikasi yang sesuai merupakan bagian dari rantai pasok yang saling memengaruhi. Ketika salah satu mata rantai mengalami gangguan, gangguan tersebut dapat lebih mudah berkembang menjadi gangguan pasokan listrik yang lebih luas.
"Tanpa pembenahan yang lebih menyeluruh, Indonesia berisiko menghadapi kembali gangguan pasokan pada tahun-tahun mendatang," tulis Tenggara Strategics.
Bagi Tenggara, pemadaman yang telah berlalu menunjukkan bahwa besarnya cadangan batu bara nasional tidak otomatis menjamin keamanan pasokan listrik. Yang menentukan adalah kemampuan memastikan batu bara yang dibutuhkan pembangkit tersedia dalam jumlah, kualitas, dan waktu yang tepat ketika sistem membutuhkannya. Dalam konteks tersebut, efektivitas RKAB, keberlanjutan DMO, serta sinkronisasi kebijakan sektor pertambangan dan ketenagalistrikan menjadi faktor penting untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional ke depan.
(nng)
Lihat Juga :