Dulu Termiskin, Negara Kecil Ini Mendadak Jadi Raja Minyak Baru Akibat Perang Iran!

Senin, 06 Juli 2026 - 08:43 WIB
loading...
Dulu Termiskin, Negara...
Sebuah negara kecil di Amerika Selatan yang dulunya menyandang predikat salah satu negara termiskin, kini mendadak bertransformasi menjadi salah satu produsen minyak dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Foto/AI
A A A
JAKARTA - Guyana, sebuah negara kecil di Amerika Selatan yang dulunya menyandang predikat salah satu negara termiskin , kini mendadak bertransformasi menjadi salah satu produsen minyak mentah dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Perang besar yang melanda Iran tidak hanya mengacak-acak geopolitik Timur Tengah, tetapi juga melahirkan raksasa minyak baru di belahan bumi lain.

Hanya dalam waktu tujuh tahun sejak ExxonMobil memulai produksi di blok lepas pantai Stabroek pada 2019, ekonomi Guyana telah melonjak hingga empat kali lipat. Kini dengan populasi kurang dari 1 juta jiwa, negara ini berada di posisi strategis untuk menguasai peta energi global ketika para pembeli minyak mentah dunia mulai panik dan menjauhi Timur Tengah.

Berkah di Balik Blokade Selat Hormuz

Mengapa pembeli internasional berbondong-bondong mengalihkan pandangan ke Guyana? Jawabannya ada pada keamanan logistik. Perang Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran yang sempat menutup Selat Hormuz membuat jalur urat nadi minyak Timur Tengah itu dicap tidak lagi aman.

Baca Juga: Selat Hormuz Sempat Lumpuh, Raja-raja Minyak Arab Garap Proyek Pipa Raksasa

Risiko rudal, blokade, dan penyanderaan kapal tanker memaksa negara-negara importir mencari sumber energi yang lebih stabil. Guyana dengan akses langsung yang terbuka lebar ke Samudra Atlantik, menawarkan keamanan yang tidak dimiliki Timur Tengah. Mereka tidak perlu khawatir kapal mereka terjebak di jalur sempit yang rawan konflik.



Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol bahkan secara blak-blakan menyebut krisis Selat Hormuz tengah menggambar ulang peta energi dunia. Dalam lanskap baru ini, Guyana bersama Brasil, Amerika Serikat, dan Norwegia muncul sebagai pemasok energi paling terpercaya di dunia.

Hujan Uang dari ExxonMobil dan Lonjakan Produksi

Proyek raksasa yang digawangi konsorsium pimpinan ExxonMobil di blok Stabroek terus menunjukkan angka yang fantastis. Setelah meresmikan proyek keempatnya, Yellowtail, kapasitas produksi Guyana kini telah menyentuh 900.000 barel per hari (bpd)—hampir menyentuh angka psikologis 1 juta barel.

CEO ExxonMobil, Darren Woods mengonfirmasi, bahwa paruh pertama tahun 2026 ini mencatatkan rekor produksi baru. Tiga proyek raksasa berikutnya yakni Uaru, Whiptail, dan Hammerhead sedang dalam tahap konstruksi untuk mengejar target ambisius 1,7 juta bpd pada tahun 2030.

Baca Juga: Negara-negara Kaya Minyak Seharusnya Bayar Pajak Iklim, Nilainya Capai Rp383,6 Triliun

Bagi pemerintah Guyana, sektor minyak menjelma menjadi mesin pencetak uang yang luar biasa. Tahun ini, pendapatan pemerintah Guyana diperkirakan meroket dengan mengantongi USD4,3 miliar (sekitar Rp76,6 triliun) dari sektor minyak, melonjak 67% dibanding tahun lalu.

Sementara itu konsorsium Exxon akan segera mencapai titik balik modal (break-even). Artinya, kontrak bagi hasil untuk Guyana akan otomatis melonjak drastis dari yang tadinya hanya 12,5% menjadi 50% dari keuntungan minyak atau melompat empat kali lipat.

Tidak puas hanya dengan minyak mentah, pekan lalu Exxon juga resmi mengajukan izin lingkungan untuk mengembangkan penemuan gas kondensat di Haimara guna membangun industri gas domestik.

Awas Ancaman Nyata Kutukan Sumber Daya

Meskipun berada di atas angin, para pengamat mengingatkan bahwa Guyana belum sepenuhnya aman dari ancaman klasik: Resource Curse (Kutukan Sumber Daya Alam). Sejarah mencatat banyak negara berkembang yang mendadak kaya karena minyak justru berakhir dengan inflasi tinggi, korupsi, dan kehancuran sektor ekonomi lainnya.

Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah Guyana mulai memperketat aturan konten lokal (local content). Mereka mewajibkan perusahaan minyak melibatkan pengusaha lokal dalam rantai bisnis penunjang, mulai dari logistik, katering, hingga perhotelan.

Jika Guyana berhasil mengelola miliaran dolar ini dengan bijak dan menghindari jebakan kutukan tersebut, negara kecil ini tidak hanya akan menjadi pemenang di tengah perang Iran, tetapi juga menjelma menjadi salah satu negara paling makmur di dunia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Babak Baru Perang Energi:...
Babak Baru Perang Energi: OPEC+ Siap Banjiri Pasar Global, Siap-siap Harga Minyak Makin Ambles
Cadangan Energi AS Ternyata...
Cadangan Energi AS Ternyata Keropos: Stok Minyak Dikuras Habis, Stok Terendah Sejak 1983!
Perang Iran Picu Guncangan...
Perang Iran Picu Guncangan Pasokan Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah, Lampaui Krisis 1979
Nekat Melenceng dari...
Nekat Melenceng dari Jalur Bakal Disikat! Iran Ultimatum Keras soal Selat Hormuz
Selat Hormuz Sempat...
Selat Hormuz Sempat Lumpuh, Raja-raja Minyak Arab Garap Proyek Pipa Raksasa
Siap-siap Banjir Pasokan...
Siap-siap Banjir Pasokan Minyak Dunia, Morgan Stanley Koreksi Harga Brent di Angka USD75/Barel
Seruan Bunuh Trump Menggema...
Seruan 'Bunuh Trump' Menggema dalam Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Didatangi Jutaan Pelayat,...
Didatangi Jutaan Pelayat, Ini Latar Belakang Ali Khamenei sebagai Keturunan Nabi Muhammad SAW
Tiga Putra Hadir Doakan...
Tiga Putra Hadir Doakan Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Tetap Tak Muncul
Rekomendasi
350 Spesies Seafood...
350 Spesies Seafood Dicoret dari Menu Jaringan Hotel Global demi Selamatkan Laut
Balogun Diselamatkan...
Balogun Diselamatkan FIFA, Belgia: Ini April Mop?
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji...
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji Ditandatangani, China Uji Coba Rudal di Pasifik
Berita Terkini
Tokopedia Sangkal PHK...
Tokopedia Sangkal PHK Massal Karyawan, Klaim Penataan Tenaga Kerja
Pertamina Foundation...
Pertamina Foundation Hadirkan PF-Lestari, Sistem Pemantauan Kehati Berbasis AI
Bayar Pajak Kendaraan...
Bayar Pajak Kendaraan Bisa di PRJ 2026, Denda Dihapus hingga 31 Agustus
Rupiah Ditutup Melemah,...
Rupiah Ditutup Melemah, Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS
Isu PHK Massal Karyawan...
Isu PHK Massal Karyawan Bikin Heboh! Dasco Panggil Menaker, TikTok dan Tokopedia
Duo Zou Bersaudara Asal...
Duo Zou Bersaudara Asal China Mendadak Jadi Miliarder Gara-gara Robot Humanoid, Begini Kisahnya
Infografis
27 Negara Ini Terdeteksi...
27 Negara Ini Terdeteksi Radar dalam Jangkauan Rudal Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved