Menilik Strategi Eksportir Kelapa Bulat Bertahan di Tengah Ketatnya Pasar Global
Selasa, 07 Juli 2026 - 13:35 WIB
loading...
A
A
A
Harga kelapa di sejumlah negara produsen juga sedang mengalami tekanan akibat minimnya permintaan dan ketidakpastian ekonomi yang dipengaruhi dinamika global. Dalam situasi seperti ini, harga di tingkat eksportir ikut mengikuti pergerakan permintaan dan penawaran di negara tujuan.
Menanggapi anggapan bahwa harga kelapa di tingkat petani ditentukan secara sepihak oleh perusahaan atau eksportir, Loleng membantah hal tersebut.
“Harga sepenuhnya dikendalikan oleh mekanisme supply and demand atau penawaran dan permintaan yang ditentukan oleh buyer di negara tujuan, khususnya Tiongkok,” jelas Loleng.
“Kami tidak bisa memaksakan pengiriman jika tidak ada permintaan dari sana. Kendali utama harga ada di tangan pasar luar negeri. Selain itu, faktor panen di tingkat domestik juga ikut memberikan pengaruh terhadap fluktuasi harga,” lanjutnya.
Hal senada juga disampaikan Capt.Yovan. Ia menegaskan bahwa KUPP Sungai Guntung tidak memiliki kewenangan dalam menentukan harga kelapa, baik harga beli dari petani maupun harga jual komoditas yang dikirim melalui pelabuhan.
“KUPP sama sekali tidak memiliki kewenangan dalam menentukan harga kelapa, harga beli dari petani, maupun harga jual komoditas. Hingga kini sebenarnya tidak ada pembatasan ekspor kelapa bulat dari pemerintah. Juga tidak ada pungutan atau pajak yang dikenakan untuk ekspor kelapa bulat. Penurunan ekspor kelapa bulat murni karena hukum permintaan dan penawaran pasar,” tegas Capt.Yovan.
Menurutnya, kewenangan KUPP berfokus pada keselamatan, keamanan berlayar, ketertiban pelabuhan, serta kelancaran administrasi dan operasional kapal.
“Kami di KUPP berkomitmen penuh memastikan pelabuhan berfungsi sebagai jembatan logistik, menyediakan layanan administrasi yang cepat, memastikan dermaga siap digunakan, serta menjamin kapal yang membawa kelapa dapat berlayar dengan aman, selamat, dan lancar sampai tujuan,” tutup Capt.Yovan.
Dalam kondisi pasar yang sedang tertekan, para eksportir kini lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Langkah efisiensi terpaksa dilakukan dengan membatasi kuota pengiriman untuk menghindari kerugian lebih dalam.
Para eksportir kelapa bulat dalam negeri kini hanya bisa berharap agar kondisi ekonomi dan daya beli pabrik-pabrik di negara tujuan, terutama Tiongkok, Malaysia, dan Thailand, segera pulih. Dengan pulihnya permintaan, aktivitas ekspor kelapa bulat diharapkan dapat kembali normal.
Menanggapi anggapan bahwa harga kelapa di tingkat petani ditentukan secara sepihak oleh perusahaan atau eksportir, Loleng membantah hal tersebut.
“Harga sepenuhnya dikendalikan oleh mekanisme supply and demand atau penawaran dan permintaan yang ditentukan oleh buyer di negara tujuan, khususnya Tiongkok,” jelas Loleng.
“Kami tidak bisa memaksakan pengiriman jika tidak ada permintaan dari sana. Kendali utama harga ada di tangan pasar luar negeri. Selain itu, faktor panen di tingkat domestik juga ikut memberikan pengaruh terhadap fluktuasi harga,” lanjutnya.
Hal senada juga disampaikan Capt.Yovan. Ia menegaskan bahwa KUPP Sungai Guntung tidak memiliki kewenangan dalam menentukan harga kelapa, baik harga beli dari petani maupun harga jual komoditas yang dikirim melalui pelabuhan.
“KUPP sama sekali tidak memiliki kewenangan dalam menentukan harga kelapa, harga beli dari petani, maupun harga jual komoditas. Hingga kini sebenarnya tidak ada pembatasan ekspor kelapa bulat dari pemerintah. Juga tidak ada pungutan atau pajak yang dikenakan untuk ekspor kelapa bulat. Penurunan ekspor kelapa bulat murni karena hukum permintaan dan penawaran pasar,” tegas Capt.Yovan.
Menurutnya, kewenangan KUPP berfokus pada keselamatan, keamanan berlayar, ketertiban pelabuhan, serta kelancaran administrasi dan operasional kapal.
“Kami di KUPP berkomitmen penuh memastikan pelabuhan berfungsi sebagai jembatan logistik, menyediakan layanan administrasi yang cepat, memastikan dermaga siap digunakan, serta menjamin kapal yang membawa kelapa dapat berlayar dengan aman, selamat, dan lancar sampai tujuan,” tutup Capt.Yovan.
Dalam kondisi pasar yang sedang tertekan, para eksportir kini lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Langkah efisiensi terpaksa dilakukan dengan membatasi kuota pengiriman untuk menghindari kerugian lebih dalam.
Para eksportir kelapa bulat dalam negeri kini hanya bisa berharap agar kondisi ekonomi dan daya beli pabrik-pabrik di negara tujuan, terutama Tiongkok, Malaysia, dan Thailand, segera pulih. Dengan pulihnya permintaan, aktivitas ekspor kelapa bulat diharapkan dapat kembali normal.
(unt)
Lihat Juga :