TikTok Tingkatkan Transparansi AI, Alokasikan USD4 Juta untuk Program Edukasi
Selasa, 14 Juli 2026 - 10:26 WIB
loading...
TikTok memperkuat upaya membangun ekosistem digital yang lebih transparan dan aman melalui serangkaian inisiatif baru. FOTO/iStock
A
A
A
JAKARTA - TikTok memperkuat upaya membangun ekosistem digital yang lebih transparan dan aman melalui serangkaian inisiatif baru di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Langkah tersebut mencakup peningkatan literasi AI, penguatan sistem deteksi konten spam berbasis AI, serta perluasan kemitraan untuk meningkatkan transparansi penggunaan teknologi AI di platform.
"Kami percaya bahwa setiap orang perlu memahami konteks, merasa percaya diri, dan memiliki kendali atas pengalaman mereka dengan AI di TikTok. Kami terus berinvestasi dalam teknologi, kemitraan, dan materi edukasi yang membantu masyarakat mengenali konten buatan AI, memahami bagaimana konten tersebut dibuat, serta menggunakan berbagai alat ini secara kreatif dan bertanggung jawab," kata AI Lead Global Public Policy TikTok Tom Varghese dalam keterangan pers, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: Lesti Kejora Bongkar Modus Penipuan yang Catut Namanya di TikTok
TikTok menilai penggunaan AI yang transparan dan bertanggung jawab dapat mendorong kreativitas sekaligus memperkuat kepercayaan pengguna terhadap platform. Untuk itu, perusahaan menghadirkan materi edukasi baru, memperluas kolaborasi dengan para pakar, serta meluncurkan pusat informasi di dalam aplikasi yang membantu pengguna mengenali dan memahami konten buatan AI.
Perusahaan juga terus berinvestasi dalam program literasi AI bersama sejumlah organisasi, seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation. Sejak diluncurkan pada November 2025, program tersebut telah membantu organisasi mitra menjangkau lebih dari 200 juta tayangan melalui konten edukasi mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab. TikTok menyatakan telah mengalokasikan lebih dari USD4 juta untuk mendukung program tersebut dan akan terus meningkatkan investasinya.
Di sisi lain, TikTok memperketat pengawasan terhadap penyalahgunaan AI yang digunakan untuk memproduksi konten spam secara massal. Dalam beberapa pekan mendatang, perusahaan akan menguji peningkatan sistem deteksi guna mengidentifikasi akun yang menyebarkan spam berbasis AI, khususnya pada konten bertema politik dan peristiwa terkini, tips keuangan, serta kesehatan yang berpotensi memengaruhi kepercayaan publik.
Sepanjang kuartal I tahun ini, TikTok menghapus lebih dari 86 juta akun palsu sebagai bagian dari upaya menjaga integritas platform. Perusahaan menegaskan kebijakan terhadap konten spam telah lama diterapkan dan akan terus diperkuat seiring berkembangnya pemanfaatan AI.
TikTok juga memperdalam komitmennya terhadap transparansi AI dengan bergabung sebagai anggota Dewan Pembina Coalition for Content Provenance and Authenticity (C2PA). Sebagai pelopor penerapan Kredensial Konten C2PA di platform video, TikTok terus mengembangkan teknologi pelabelan konten AI agar kreator dapat memberikan informasi yang jelas kepada pengguna mengenai konten yang dibuat atau dimodifikasi menggunakan AI.
Baca Juga: TikTok Bidik Pertumbuhan Aplikasi Asia Tenggara lewat Inovasi AI
Hingga saat ini, TikTok telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video sebagai konten buatan AI (AI Generated Content/AIGC) melalui kombinasi teknologi Kredensial Konten, fitur pelabelan kreator, serta teknologi invisible watermarking. Perusahaan juga terus mengembangkan berbagai fitur berbasis AI, seperti Smart Split, AI Outline, dan fitur Manage Topics yang memungkinkan pengguna mengatur seberapa banyak konten AI yang ingin mereka lihat.
TikTok menilai langkah-langkah tersebut tidak hanya memperkuat keamanan dan transparansi platform, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekonomi kreator. Dengan ekosistem digital yang lebih tepercaya, perusahaan berharap kreator dapat terus menghasilkan karya autentik, sementara pengguna memperoleh pengalaman yang lebih aman dalam memanfaatkan teknologi AI.
"Kami percaya bahwa setiap orang perlu memahami konteks, merasa percaya diri, dan memiliki kendali atas pengalaman mereka dengan AI di TikTok. Kami terus berinvestasi dalam teknologi, kemitraan, dan materi edukasi yang membantu masyarakat mengenali konten buatan AI, memahami bagaimana konten tersebut dibuat, serta menggunakan berbagai alat ini secara kreatif dan bertanggung jawab," kata AI Lead Global Public Policy TikTok Tom Varghese dalam keterangan pers, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: Lesti Kejora Bongkar Modus Penipuan yang Catut Namanya di TikTok
TikTok menilai penggunaan AI yang transparan dan bertanggung jawab dapat mendorong kreativitas sekaligus memperkuat kepercayaan pengguna terhadap platform. Untuk itu, perusahaan menghadirkan materi edukasi baru, memperluas kolaborasi dengan para pakar, serta meluncurkan pusat informasi di dalam aplikasi yang membantu pengguna mengenali dan memahami konten buatan AI.
Perusahaan juga terus berinvestasi dalam program literasi AI bersama sejumlah organisasi, seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation. Sejak diluncurkan pada November 2025, program tersebut telah membantu organisasi mitra menjangkau lebih dari 200 juta tayangan melalui konten edukasi mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab. TikTok menyatakan telah mengalokasikan lebih dari USD4 juta untuk mendukung program tersebut dan akan terus meningkatkan investasinya.
Di sisi lain, TikTok memperketat pengawasan terhadap penyalahgunaan AI yang digunakan untuk memproduksi konten spam secara massal. Dalam beberapa pekan mendatang, perusahaan akan menguji peningkatan sistem deteksi guna mengidentifikasi akun yang menyebarkan spam berbasis AI, khususnya pada konten bertema politik dan peristiwa terkini, tips keuangan, serta kesehatan yang berpotensi memengaruhi kepercayaan publik.
Sepanjang kuartal I tahun ini, TikTok menghapus lebih dari 86 juta akun palsu sebagai bagian dari upaya menjaga integritas platform. Perusahaan menegaskan kebijakan terhadap konten spam telah lama diterapkan dan akan terus diperkuat seiring berkembangnya pemanfaatan AI.
TikTok juga memperdalam komitmennya terhadap transparansi AI dengan bergabung sebagai anggota Dewan Pembina Coalition for Content Provenance and Authenticity (C2PA). Sebagai pelopor penerapan Kredensial Konten C2PA di platform video, TikTok terus mengembangkan teknologi pelabelan konten AI agar kreator dapat memberikan informasi yang jelas kepada pengguna mengenai konten yang dibuat atau dimodifikasi menggunakan AI.
Baca Juga: TikTok Bidik Pertumbuhan Aplikasi Asia Tenggara lewat Inovasi AI
Hingga saat ini, TikTok telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video sebagai konten buatan AI (AI Generated Content/AIGC) melalui kombinasi teknologi Kredensial Konten, fitur pelabelan kreator, serta teknologi invisible watermarking. Perusahaan juga terus mengembangkan berbagai fitur berbasis AI, seperti Smart Split, AI Outline, dan fitur Manage Topics yang memungkinkan pengguna mengatur seberapa banyak konten AI yang ingin mereka lihat.
TikTok menilai langkah-langkah tersebut tidak hanya memperkuat keamanan dan transparansi platform, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekonomi kreator. Dengan ekosistem digital yang lebih tepercaya, perusahaan berharap kreator dapat terus menghasilkan karya autentik, sementara pengguna memperoleh pengalaman yang lebih aman dalam memanfaatkan teknologi AI.
(nng)
Lihat Juga :