Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
Jum'at, 17 Juli 2026 - 18:48 WIB
loading...
A
A
A
Peningkatan kapasitas produksi terpakai terutama ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, dan LU Pengadaan Listrik. Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah.
Untuk kuartal III 2026, responden memperkirakan aktivitas dunia usaha sedikit melambat dengan SBT di 11,75 persen. Kinerja lapangan usaha yang diperkirakan meningkat adalah LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat, serta LU Konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta.
Selain itu, kinerja kegiatan usaha pada LU Pertambangan dan Penggalian juga diprakirakan meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan.
Dalam survei lain, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatatkan kinerja industri pengolahan berada di level 51,43% pada kuartal II 2026, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 52,03%.
BI mencatat bahwa PMI BI itu didorong oleh ekspansi (>50%) pada beberapa komponen, seperti Volume Produksi (53,81%), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00%), serta Volume Total Pesanan (52,77%).
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.870-Rp17.930 per dolar AS. Sedangkan dalam perdagangan pekan depan diprediksi pada level Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS.
Untuk kuartal III 2026, responden memperkirakan aktivitas dunia usaha sedikit melambat dengan SBT di 11,75 persen. Kinerja lapangan usaha yang diperkirakan meningkat adalah LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat, serta LU Konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta.
Selain itu, kinerja kegiatan usaha pada LU Pertambangan dan Penggalian juga diprakirakan meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan.
Dalam survei lain, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatatkan kinerja industri pengolahan berada di level 51,43% pada kuartal II 2026, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 52,03%.
BI mencatat bahwa PMI BI itu didorong oleh ekspansi (>50%) pada beberapa komponen, seperti Volume Produksi (53,81%), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00%), serta Volume Total Pesanan (52,77%).
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.870-Rp17.930 per dolar AS. Sedangkan dalam perdagangan pekan depan diprediksi pada level Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :