Mendorong Penerapan Ekonomi Sirkular di Industri Sawit
Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:49 WIB
loading...
A
A
A
Dengan potensi produksi mencapai 261,7 juta ton per tahun, biomassa sawit dapat menjadi salah satu penopang pengembangan energi terbarukan nasional. Pemanfaatan biomassa sawit tersebut tidak hanya mendukung ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di sektor industri hilir.
Baca Juga: Kampus Diminta Jadi Garda Depan Isu Sawit, Akademisi UB Soroti Efisiensi hingga Ekonomi Sirkular
Ia memaparkan, nilai tambah ekonomi dari pemanfaatan biomassa sawit mencakup pengembangan industri hilir di sekitar sentra produksi, penciptaan industri bahan bangunan berbasis serat alam, penyediaan sumber energi terbarukan yang dapat dijual ke jaringan listrik atau industri, hingga pengurangan emisi metana dan perolehan kredit karbon.
“Optimalisasi limbah kelapa sawit akan memberikan nilai ekonomi baru,” tegasnya.
Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan (Alpenbun) ini mengakui bahwa implementasi ekonomi sirkular di industri kelapa sawit masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa tantangan yang dihadapi seperti investasi awal yang tinggi, keterbatasan teknologi pemanfaatan limbah, hingga biaya logistik dan distribusi yang tinggi.
“Selain itu, pasar produk turunan kelapa sawit belum kuat hingga regulasi dan insentif belum cukup mendukung,” paparnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyiapkan berbagai macam upaya seperti mendorong hilirisasi dan pemberdayaan UMKM hingga mendukung penelitian dan pengembangan terkait dengan penerapan ekonomi sirkular di industri kelapa sawit.
Baca Juga: Kampus Diminta Jadi Garda Depan Isu Sawit, Akademisi UB Soroti Efisiensi hingga Ekonomi Sirkular
Ia memaparkan, nilai tambah ekonomi dari pemanfaatan biomassa sawit mencakup pengembangan industri hilir di sekitar sentra produksi, penciptaan industri bahan bangunan berbasis serat alam, penyediaan sumber energi terbarukan yang dapat dijual ke jaringan listrik atau industri, hingga pengurangan emisi metana dan perolehan kredit karbon.
“Optimalisasi limbah kelapa sawit akan memberikan nilai ekonomi baru,” tegasnya.
Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan (Alpenbun) ini mengakui bahwa implementasi ekonomi sirkular di industri kelapa sawit masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa tantangan yang dihadapi seperti investasi awal yang tinggi, keterbatasan teknologi pemanfaatan limbah, hingga biaya logistik dan distribusi yang tinggi.
“Selain itu, pasar produk turunan kelapa sawit belum kuat hingga regulasi dan insentif belum cukup mendukung,” paparnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyiapkan berbagai macam upaya seperti mendorong hilirisasi dan pemberdayaan UMKM hingga mendukung penelitian dan pengembangan terkait dengan penerapan ekonomi sirkular di industri kelapa sawit.
Lihat Juga :