AKPY-BPDP Latih Pekebun Sawit di Paser Tingkatkan Nilai Jual TBS
Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:24 WIB
loading...
AKPY menggelar Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diikuti 156 pekebun dari Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Penerapan teknik panen dan pascapanen kelapa sawit yang sesuai standar dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas tandan buah segar (TBS), rendemen minyak, serta pendapatan pekebun. Untuk mendukung hal tersebut, Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) menggelar Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diikuti 156 pekebun dari Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
"Panen tepat waktu, pemanenan harus sesuai standar, pengumpulan brondolan yang baik, termasuk pengiriman TBS yang cepat ke pabrik, akan sangat menentukan mutu buah, rendemen minyak, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani," kata Wakil Direktur AKPY Idum Satia Santi dala keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).
Baca Juga: AKPY, BPDP dan Ditjenbun Sinergi Gelar Pelatihan Teknis 90 Pekebun Sawit
Pelatihan yang berlangsung pada 17–21 Juli 2026 di Balikpapan itu diselenggarakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian. Program tersebut bertujuan membekali pekebun dengan teknik panen dan pascapanen yang mampu menjaga mutu TBS sejak dipanen hingga diterima di pabrik kelapa sawit.
Idum menjelaskan masih banyak pekebun yang berfokus pada peningkatan jumlah produksi, padahal kualitas hasil panen juga menentukan nilai ekonomi yang diterima. Menurut dia, buah yang dipanen terlalu muda maupun terlalu matang akan menurunkan kualitas minyak sawit sehingga berdampak pada rendahnya rendemen dan harga jual.
Karena itu, peserta pelatihan tidak hanya mempelajari teknik memotong tandan, tetapi juga cara menentukan tingkat kematangan buah, mengumpulkan brondolan secara optimal, serta mempercepat pengangkutan TBS ke pabrik untuk menjaga kadar asam lemak bebas (ALB) tetap rendah. Seluruh materi juga dikaitkan dengan penerapan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari pemupukan, pengelolaan tanah, hingga pengendalian hama dan penyakit.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser Djoko Bawono mengatakan pelatihan tersebut merupakan investasi penting untuk meningkatkan daya saing sawit rakyat. Ia berharap materi yang diberikan dapat disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami dan langsung diterapkan oleh para pekebun di lapangan.
Menurut Djoko, peningkatan keterampilan panen akan berdampak langsung terhadap kualitas TBS yang diterima pabrik. Ia juga mengapresiasi dukungan BPDP melalui Program SDMP yang terus memperluas akses pelatihan bagi petani sawit. Pada 2026, Kabupaten Paser menjadi daerah dengan peserta pelatihan SDMP terbanyak di Kalimantan Timur, yakni mencapai 556 pekebun yang mengikuti berbagai pelatihan teknis.
Baca Juga: BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
Selain peningkatan kompetensi, Pemerintah Kabupaten Paser juga terus mendorong percepatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Hingga kini, sebanyak 13 kelembagaan pekebun di daerah tersebut telah memperoleh sertifikasi ISPO. AKPY menilai penguatan sumber daya manusia menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri sawit nasional, sehingga pekebun tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga menghasilkan TBS berkualitas tinggi yang dapat meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani.
"Panen tepat waktu, pemanenan harus sesuai standar, pengumpulan brondolan yang baik, termasuk pengiriman TBS yang cepat ke pabrik, akan sangat menentukan mutu buah, rendemen minyak, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani," kata Wakil Direktur AKPY Idum Satia Santi dala keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).
Baca Juga: AKPY, BPDP dan Ditjenbun Sinergi Gelar Pelatihan Teknis 90 Pekebun Sawit
Pelatihan yang berlangsung pada 17–21 Juli 2026 di Balikpapan itu diselenggarakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian. Program tersebut bertujuan membekali pekebun dengan teknik panen dan pascapanen yang mampu menjaga mutu TBS sejak dipanen hingga diterima di pabrik kelapa sawit.
Idum menjelaskan masih banyak pekebun yang berfokus pada peningkatan jumlah produksi, padahal kualitas hasil panen juga menentukan nilai ekonomi yang diterima. Menurut dia, buah yang dipanen terlalu muda maupun terlalu matang akan menurunkan kualitas minyak sawit sehingga berdampak pada rendahnya rendemen dan harga jual.
Karena itu, peserta pelatihan tidak hanya mempelajari teknik memotong tandan, tetapi juga cara menentukan tingkat kematangan buah, mengumpulkan brondolan secara optimal, serta mempercepat pengangkutan TBS ke pabrik untuk menjaga kadar asam lemak bebas (ALB) tetap rendah. Seluruh materi juga dikaitkan dengan penerapan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari pemupukan, pengelolaan tanah, hingga pengendalian hama dan penyakit.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser Djoko Bawono mengatakan pelatihan tersebut merupakan investasi penting untuk meningkatkan daya saing sawit rakyat. Ia berharap materi yang diberikan dapat disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami dan langsung diterapkan oleh para pekebun di lapangan.
Menurut Djoko, peningkatan keterampilan panen akan berdampak langsung terhadap kualitas TBS yang diterima pabrik. Ia juga mengapresiasi dukungan BPDP melalui Program SDMP yang terus memperluas akses pelatihan bagi petani sawit. Pada 2026, Kabupaten Paser menjadi daerah dengan peserta pelatihan SDMP terbanyak di Kalimantan Timur, yakni mencapai 556 pekebun yang mengikuti berbagai pelatihan teknis.
Baca Juga: BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
Selain peningkatan kompetensi, Pemerintah Kabupaten Paser juga terus mendorong percepatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Hingga kini, sebanyak 13 kelembagaan pekebun di daerah tersebut telah memperoleh sertifikasi ISPO. AKPY menilai penguatan sumber daya manusia menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri sawit nasional, sehingga pekebun tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga menghasilkan TBS berkualitas tinggi yang dapat meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani.
(nng)
Lihat Juga :