Pengetatan Standar Migrasi BPA Galon Polikarbonat Dipertanyakan, Pakar: Perlu Ada Studi
Senin, 20 Juli 2026 - 20:10 WIB
loading...
A
A
A
Dia menegaskan bahwa di negara tropis seperti Indonesia misalnya, formulasi dari produk plastik itu akan berbeda dengan negara yang mengalami empat musim. Menurutnya, di negara tropis itu tidak perlu ketahanan produk saat temperatur di bawah nol derajat Celcius karena memang tidak mengalami musim itu.
“Tapi, di negara empat musim itu ada, sehingga aditif atau ramuan kemasan plastik mereka juga harus beda,” tuturnya.
Baca Juga: Fakta Bisphenol A pada Galon AMDK untuk Kesehatan, Begini Kata Pakar
Jadi lanjutnya, concern atau kekhawatiran terhadap kemasan galon guna ulang itu jelas juga berbeda antara di Eropa dan Indonesia. “Nah, kalau di kita yang negara tropis, concern-nya itu adalah humiditas atau kelembaban udaranya tinggi, temperaturnya juga cukup tinggi, dan paparan UV-nya mungkin dalam keadaan tertentu cukup tinggi. Jadi, sebaiknya kita melakukan riset sendiri dan tidak mengacu kepada negara lain,” tukasnya.
Jadi menurutnya, sebaiknya ada studinya terlebih dahulu sebelum mengeluarkan regulasi dalam menetapkan standar aman migrasi BPA tersebut. Lanjutnya, studi yang dilakukan itu untuk menjamin bahwa regulasi yang ditetapkan itu memiliki dasar ilmiah yang kuat.
“Pertanyaannya adalah, apakah case-case hipotetikal konsumsi satu kilogram AMDK galon guna ulang itu relevan dengan apa yang ada kenyataannya di masyarakat? Ternyata kan tidak. Orang kan ada limit tertentu, sudah ditetapkan juga daily intake yang disarankan sekian. Nah, jadi itu dulu yang dilakukan,” ujarnya.
“Tapi, di negara empat musim itu ada, sehingga aditif atau ramuan kemasan plastik mereka juga harus beda,” tuturnya.
Baca Juga: Fakta Bisphenol A pada Galon AMDK untuk Kesehatan, Begini Kata Pakar
Jadi lanjutnya, concern atau kekhawatiran terhadap kemasan galon guna ulang itu jelas juga berbeda antara di Eropa dan Indonesia. “Nah, kalau di kita yang negara tropis, concern-nya itu adalah humiditas atau kelembaban udaranya tinggi, temperaturnya juga cukup tinggi, dan paparan UV-nya mungkin dalam keadaan tertentu cukup tinggi. Jadi, sebaiknya kita melakukan riset sendiri dan tidak mengacu kepada negara lain,” tukasnya.
Jadi menurutnya, sebaiknya ada studinya terlebih dahulu sebelum mengeluarkan regulasi dalam menetapkan standar aman migrasi BPA tersebut. Lanjutnya, studi yang dilakukan itu untuk menjamin bahwa regulasi yang ditetapkan itu memiliki dasar ilmiah yang kuat.
“Pertanyaannya adalah, apakah case-case hipotetikal konsumsi satu kilogram AMDK galon guna ulang itu relevan dengan apa yang ada kenyataannya di masyarakat? Ternyata kan tidak. Orang kan ada limit tertentu, sudah ditetapkan juga daily intake yang disarankan sekian. Nah, jadi itu dulu yang dilakukan,” ujarnya.
Lihat Juga :