Dividen Turun Signifikan, BUMN Ini Tetap Pede Lunasi Utang Triliunan
Kamis, 01 Oktober 2020 - 17:14 WIB
loading...
A
A
A
Di mana, utang yang akan dilunasi tersebut merupakan utang subsidi pupuk yang bila dijumlahkan hingga tahun 2020 ini mencapai Rp17 triliun.
"Ini sekarang Rp17,3 triliun, namun demikian untuk tahun 2017 dan 2018 ini sudah sampai di final step di Kementerian Keuangan. Kami sangat optimis yang 2017 dan 2018 ini bisa terbayarkan pada awal Oktober 2020, sehingga posisinya akan kembali ke posisi Rp12 triliun yang belum terbayarkan ke pemerintah," ujar dia.
Bakir memang menjelaskan, kondisi dan kinerja keuangan Pupuk Indonesia hingga Agustus tahun ini masih cukup baik. Meski begitu, jika dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi penurunan. (Baca juga: Hore! Utang Motor Sekarang Nggak Perlu Bayar Uang Muka )
Hal tersebut dikarenakan pendapatan perseroan menurun akibat harga komoditas yang menurun. Selain itu, laba bersih juga ikut anjlok karena HPP naik dan harga jual menurun, akibatnya sangat mempengaruhi arus kas operasional.
"Mungkin laba setelah pajak akan ada sekitar Rp2,5-2,6 triliun di akhir tahun. Bila dibandingkan dengan tahun 2019, prognosis kami memang menurun untuk laba, tapi masih positif. Ini dikarenakan memang harga amoniak atau urea yang memang cenderung menurun karena Covid-19. Namun, kami tetap positif," tuturnya.
"Ini sekarang Rp17,3 triliun, namun demikian untuk tahun 2017 dan 2018 ini sudah sampai di final step di Kementerian Keuangan. Kami sangat optimis yang 2017 dan 2018 ini bisa terbayarkan pada awal Oktober 2020, sehingga posisinya akan kembali ke posisi Rp12 triliun yang belum terbayarkan ke pemerintah," ujar dia.
Bakir memang menjelaskan, kondisi dan kinerja keuangan Pupuk Indonesia hingga Agustus tahun ini masih cukup baik. Meski begitu, jika dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi penurunan. (Baca juga: Hore! Utang Motor Sekarang Nggak Perlu Bayar Uang Muka )
Hal tersebut dikarenakan pendapatan perseroan menurun akibat harga komoditas yang menurun. Selain itu, laba bersih juga ikut anjlok karena HPP naik dan harga jual menurun, akibatnya sangat mempengaruhi arus kas operasional.
"Mungkin laba setelah pajak akan ada sekitar Rp2,5-2,6 triliun di akhir tahun. Bila dibandingkan dengan tahun 2019, prognosis kami memang menurun untuk laba, tapi masih positif. Ini dikarenakan memang harga amoniak atau urea yang memang cenderung menurun karena Covid-19. Namun, kami tetap positif," tuturnya.
(ind)
Lihat Juga :