Masyarakat Diimbau Lakukan Investasi di Tengah Pandemi
Rabu, 14 Oktober 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
“Semua negara mengalami tekanan. Mereka harus mengeluarkan dana perlindungan sosial untuk menangani pandemi. Seluruh negara mengalami tekanan penerimaan, gap ini semakin besar, Indonesia tidak sendiri,” paparnya.
Kondisi seperti ini, kata Masyita, dapat memengaruhi sektor perbankan sehingga akan berhati-hati menyalurkan kredit. Selain itu, permintaan kredit saat ini juga tidak terlalu tinggi. “Apalagi suku bunganya tinggi karena perbankan memiliki risiko yang tinggi pula dalam pemberian pinjaman,” katanya.
Pada diskusi tersebut, Masyita juga mengakui pandemi Covid-19 bisa menjadi malapetaka bagi sejumlah sektor ekonomi meski masih ada sektor yang menangguk untung. (Baca juga: Kenali Bahaya Virus Rotavirus yang Bisa Mematikan)
Sektor-sektor tersebut antara lain jasa dengan nilai tambah tinggi seperti telekomunikasi dan kesehatan. Akan tetapi, sektor jasa yang nilai tambahnya rendah dan sensitif terhadap inflasi seperti perdagangan justru akan tertahan. “Bisa jadi akan menggeliat setelah vaksin ditemukan dan disuntikkan ke masyarakat luas,” ucapnya.
Masyita menerangkan pemerintah berusaha menjaga sektor yang berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan lapangan pekerjaan cukup besar. Sektor itu antara lain pertanian dan manufaktur. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu mengungkapkan ada beberapa pilihan investasi di tengah situasi seperti ini.
“Dalam jangka pendek ke emas dan government bond (obligasi pemerintah). Di jangka panjang, Indonesia yang populasi tinggi maka ritel akan naik. Kita lihat jasa kesehatan semakin baik demand-nya. Saham-saham kesehatan akan baik. Pemerintah mendukung foreign dan domestic investment untuk banyak industri di Indonesia, terutama mengusahakan peningkatan value added,” katanya. (Baca juga: Petinggi KAMI Ditangkap, Ini Tanggapan Din Syamsuddin)
Harus Punya Dana Darurat
Kondisi seperti ini, kata Masyita, dapat memengaruhi sektor perbankan sehingga akan berhati-hati menyalurkan kredit. Selain itu, permintaan kredit saat ini juga tidak terlalu tinggi. “Apalagi suku bunganya tinggi karena perbankan memiliki risiko yang tinggi pula dalam pemberian pinjaman,” katanya.
Pada diskusi tersebut, Masyita juga mengakui pandemi Covid-19 bisa menjadi malapetaka bagi sejumlah sektor ekonomi meski masih ada sektor yang menangguk untung. (Baca juga: Kenali Bahaya Virus Rotavirus yang Bisa Mematikan)
Sektor-sektor tersebut antara lain jasa dengan nilai tambah tinggi seperti telekomunikasi dan kesehatan. Akan tetapi, sektor jasa yang nilai tambahnya rendah dan sensitif terhadap inflasi seperti perdagangan justru akan tertahan. “Bisa jadi akan menggeliat setelah vaksin ditemukan dan disuntikkan ke masyarakat luas,” ucapnya.
Masyita menerangkan pemerintah berusaha menjaga sektor yang berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan lapangan pekerjaan cukup besar. Sektor itu antara lain pertanian dan manufaktur. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu mengungkapkan ada beberapa pilihan investasi di tengah situasi seperti ini.
“Dalam jangka pendek ke emas dan government bond (obligasi pemerintah). Di jangka panjang, Indonesia yang populasi tinggi maka ritel akan naik. Kita lihat jasa kesehatan semakin baik demand-nya. Saham-saham kesehatan akan baik. Pemerintah mendukung foreign dan domestic investment untuk banyak industri di Indonesia, terutama mengusahakan peningkatan value added,” katanya. (Baca juga: Petinggi KAMI Ditangkap, Ini Tanggapan Din Syamsuddin)
Harus Punya Dana Darurat
Lihat Juga :