Cukai Rokok Naik, Petani Tembakau Makin Menderita
Rabu, 14 Oktober 2020 - 12:54 WIB
loading...
Kenaikan cukai rokok sengsarakan petani tembakau. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menilai rencana kenaikan tarif cukai rokok pada 2021 harus dipikirkan secara adil dan bijaksana, jangan sampai hal ini membuat pelaku industri tembakau khususnya petani dan pekerja sektor sigaret kretek tangan (SKT) makin menderita terutama di tengah kondisi ekonomi sulit di masa pandemi COVID-19.
Ketua Umum AMTI Budidoyo mengatakan selama ini pemerintah mengantongi sebanyak 70% dari kontribusi pajak dan cukai industri hasil tembakau. Menurutnya target penerimaan negara dari cukai dipatok naik 4,8% menjadi Rp172 triliun. Ini sudah setara dengan 11,9% total penerimaan pajak negara. Belum lagi pajak retribusi daerah 10% dari nilai cukai dan pendapatan PPn rokok.
Setelah kenaikan cukai 2020 mencapai 23% , pabrikan dinilai enggan untuk menaikkan harga jual ke pasaran karena memikirkan daya beli masyarakat. Hasilnya kinerja industri makin terpuruk dan imbasnya kepada petani dan pekerja IHT, belum lagi ditekan dampak pandemi.
"Makanya kalau menurut kami yang perlu dipikirkan para petani dan sektor SKT yang rata-rata perempuan. Kalau mereka kehilangan pekerjaan, kasihan kalau mereka menjadi tulang punggung, Untuk tahun depan, harapannya SKT tidak perlu naik tarif cukai dulu demi prioritas penyelamatan tenaga kerja," ujar Budidoyo di Jakarta, Rabu (14/10/2020).
Baca Juga: Petani Tembakau dan Perusahaan Rokok Desak Batalkan Kenaikan Cukai Rokok 2021
Ketua Umum AMTI Budidoyo mengatakan selama ini pemerintah mengantongi sebanyak 70% dari kontribusi pajak dan cukai industri hasil tembakau. Menurutnya target penerimaan negara dari cukai dipatok naik 4,8% menjadi Rp172 triliun. Ini sudah setara dengan 11,9% total penerimaan pajak negara. Belum lagi pajak retribusi daerah 10% dari nilai cukai dan pendapatan PPn rokok.
Setelah kenaikan cukai 2020 mencapai 23% , pabrikan dinilai enggan untuk menaikkan harga jual ke pasaran karena memikirkan daya beli masyarakat. Hasilnya kinerja industri makin terpuruk dan imbasnya kepada petani dan pekerja IHT, belum lagi ditekan dampak pandemi.
"Makanya kalau menurut kami yang perlu dipikirkan para petani dan sektor SKT yang rata-rata perempuan. Kalau mereka kehilangan pekerjaan, kasihan kalau mereka menjadi tulang punggung, Untuk tahun depan, harapannya SKT tidak perlu naik tarif cukai dulu demi prioritas penyelamatan tenaga kerja," ujar Budidoyo di Jakarta, Rabu (14/10/2020).
Baca Juga: Petani Tembakau dan Perusahaan Rokok Desak Batalkan Kenaikan Cukai Rokok 2021
Lihat Juga :