Neraca Perdagangan Surplus Indikasi Ekonomi RI Bisa Bertahan?
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 09:10 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan sektornya, menurut dia, pertanian tumbuh paling kencang mencapai 20,84% dibandingkan Agustus atau 16,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan terutama terjadi pada produk hortikultura seperti komoditas sayuran, buah-buahan, kopi, lada, serta hasil tanaman. (Baca juga: Pendidikan Guru Penggerak Diikuti 2.800 Guru)
“Sektor pertanian pada bulan September tahun 2020 itu tumbuh bagus sekali. Berdasarkan month to month (M to M) naik 20,84% dan year on year (YoY) juga mengalami peningkatan sebesar 16,22%,” ujar Suhariyanto.
Kepala BPS juga mengatakan, kontribusi sektor pertanian pada September 2020 terhadap total nilai ekspor mengalami peningkatan sebesar 0,41% dibandingkan September 2019. Nilai ekspor September 2019 tercatat berkontribusi sebesar 2,5%, sedangkan pada September 2020 sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 2,95%. “Tentunya kita berharap ke depan ekspor sektor pertanian ini akan semakin bertambah lagi,” tandas Suhariyanto.
Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 7,37% dibandingkan Agustus. Kenaikan berasal dari ekspor pada komoditas besi dan baja, minyak kelapa sawit, kendaraan bermotor, serta pulp. Sementara itu, sektor pertambangan masih mencatatkan penurunan sebesar 4,1%. “Ekspor pertambangan terus turun karena permintaan untuk batu bara turun. Harga batu bara juga turun cukup dalam mencapai 17% dibanding tahun lalu,” katanya.
Impor pada September juga didorong oleh sektor migas yang mencatatkan kenaikan sebesar 23,9% dibandingkan Agustus, sedangkan impor nonmigas naik 6,18%. Meski demikian, dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year on year, impor pada September masih tercatat turun 18,88%. “Karena ada penurunan pada impor migas dan nonmigas,” ujarnya. (Baca juga: Jaga Kesehatan Mata, Batasi Anak Main Gadget)
Kenaikan impor terbesar terjadi pada komponen mesin dan peralatan mekanis. Kemudian disusul oleh besi dan baja, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan lainnya. Sementara impor biji kerak dan abu logam, pupuk, kereta api dan bagiannya, barang tekstil jadi lainnya, serta tembakau dan rokok menurun. “Peningkatan impor terbesar dari Jepang, Korea Selatan, China, dan Ukraina,” katanya.
Berdasarkan kelompok penggunaan barangnya, kenaikan impor terutama terjadi pada barang modal dan bahan baku yang masing-masing meningkat 19,01% dan 7,23% dibandingkan Agustus. Impor barang modal tercatat sebesar USD2,13 miliar dan bahan baku USD8,23 miliar.
“Sektor pertanian pada bulan September tahun 2020 itu tumbuh bagus sekali. Berdasarkan month to month (M to M) naik 20,84% dan year on year (YoY) juga mengalami peningkatan sebesar 16,22%,” ujar Suhariyanto.
Kepala BPS juga mengatakan, kontribusi sektor pertanian pada September 2020 terhadap total nilai ekspor mengalami peningkatan sebesar 0,41% dibandingkan September 2019. Nilai ekspor September 2019 tercatat berkontribusi sebesar 2,5%, sedangkan pada September 2020 sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 2,95%. “Tentunya kita berharap ke depan ekspor sektor pertanian ini akan semakin bertambah lagi,” tandas Suhariyanto.
Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 7,37% dibandingkan Agustus. Kenaikan berasal dari ekspor pada komoditas besi dan baja, minyak kelapa sawit, kendaraan bermotor, serta pulp. Sementara itu, sektor pertambangan masih mencatatkan penurunan sebesar 4,1%. “Ekspor pertambangan terus turun karena permintaan untuk batu bara turun. Harga batu bara juga turun cukup dalam mencapai 17% dibanding tahun lalu,” katanya.
Impor pada September juga didorong oleh sektor migas yang mencatatkan kenaikan sebesar 23,9% dibandingkan Agustus, sedangkan impor nonmigas naik 6,18%. Meski demikian, dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year on year, impor pada September masih tercatat turun 18,88%. “Karena ada penurunan pada impor migas dan nonmigas,” ujarnya. (Baca juga: Jaga Kesehatan Mata, Batasi Anak Main Gadget)
Kenaikan impor terbesar terjadi pada komponen mesin dan peralatan mekanis. Kemudian disusul oleh besi dan baja, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan lainnya. Sementara impor biji kerak dan abu logam, pupuk, kereta api dan bagiannya, barang tekstil jadi lainnya, serta tembakau dan rokok menurun. “Peningkatan impor terbesar dari Jepang, Korea Selatan, China, dan Ukraina,” katanya.
Berdasarkan kelompok penggunaan barangnya, kenaikan impor terutama terjadi pada barang modal dan bahan baku yang masing-masing meningkat 19,01% dan 7,23% dibandingkan Agustus. Impor barang modal tercatat sebesar USD2,13 miliar dan bahan baku USD8,23 miliar.
Lihat Juga :