Neraca Perdagangan Surplus Indikasi Ekonomi RI Bisa Bertahan?
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 09:10 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, impor konsumsi turun 6,12% menjadi USD1,12 miliar. Secara kumulatif Januari—September, menurut Suhariyanto, total impor mencapai USD103,68, masih menurun 18,15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara total ekspor mencapai USD117,19 miliar. “Secara kumulatif, neraca perdagangan kita surplus USD13,51 miliar,” ucapnya. (Baca juga: Ombudsman Surati Kapolri, Minta Pendekatan Persuasif dalam Unjuk Rasa)
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, perbaikan ekspor bulanan didukung oleh peningkatan aktivitas manufaktur dari mitra dagang utama Indonesia seperti kawasan Eropa AS, Jepang, India, Korea. Sementara di sisi yang lain, impor pada September masih dipengaruhi oleh kontraksi aktivitas manufaktur domestik.
Sementara itu, ekonom Core Piter Abdullah mengatakan, neraca perdagangan yang kembali mencetak surplus menjadi kabar baik. Tentunya, terang dia, hal ini menunjukkan ada indikasi perekonomian Indonesia masih bisa bertahan.
“Saya kira surplus neraca perdagangan ini menjadi indikasi perekonomian Indonesia masih bertahan di tengah pandemi. Surplus berturut-turut ini, saya kira membantu memperbaiki transaksi berjalan sekaligus men-support stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Piter kemarin.
Dia melanjutkan, surplus pada September 2020 disebabkan pertumbuhan ekspor yang lebih besar dari pertumbuhan impor. Adapun pertumbuhan ekspor ini disebabkan kenaikan harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). (Lihat videonya: Satukan tekad untuk Memenangkan Perang Melawan Covid-19)
“Pertumbuhan lebih ekspor disebabkan oleh kenaikan harga komoditas, utamanya CPO di tengah mulai membaiknya permintaan global karena perekonomian China yang sudah mulai bangkit,” terangnya.
Lalu, pertumbuhan impor didorong oleh mulai menggeliatnya industri ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan. “Ini efeknya cukup positif untuk ekonomi Indonesia,” jelasnya. (Rina Anggraeni)
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, perbaikan ekspor bulanan didukung oleh peningkatan aktivitas manufaktur dari mitra dagang utama Indonesia seperti kawasan Eropa AS, Jepang, India, Korea. Sementara di sisi yang lain, impor pada September masih dipengaruhi oleh kontraksi aktivitas manufaktur domestik.
Sementara itu, ekonom Core Piter Abdullah mengatakan, neraca perdagangan yang kembali mencetak surplus menjadi kabar baik. Tentunya, terang dia, hal ini menunjukkan ada indikasi perekonomian Indonesia masih bisa bertahan.
“Saya kira surplus neraca perdagangan ini menjadi indikasi perekonomian Indonesia masih bertahan di tengah pandemi. Surplus berturut-turut ini, saya kira membantu memperbaiki transaksi berjalan sekaligus men-support stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Piter kemarin.
Dia melanjutkan, surplus pada September 2020 disebabkan pertumbuhan ekspor yang lebih besar dari pertumbuhan impor. Adapun pertumbuhan ekspor ini disebabkan kenaikan harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). (Lihat videonya: Satukan tekad untuk Memenangkan Perang Melawan Covid-19)
“Pertumbuhan lebih ekspor disebabkan oleh kenaikan harga komoditas, utamanya CPO di tengah mulai membaiknya permintaan global karena perekonomian China yang sudah mulai bangkit,” terangnya.
Lalu, pertumbuhan impor didorong oleh mulai menggeliatnya industri ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan. “Ini efeknya cukup positif untuk ekonomi Indonesia,” jelasnya. (Rina Anggraeni)
(ysw)
Lihat Juga :