Lembaga Pengelola Investasi Beroperasi di Awal 2021
Selasa, 20 Oktober 2020 - 18:49 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Wakil Menteri (Wamen) BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyatakan, pemerintah menargetkan pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang diatur dalam Omnibus Law Undang-undang (UU) Cipta Kerja bisa rampung di awal 2021.
“Termasuk juga yang akan kami launching dan ada juga dalam Omnibus Law adalah pendirian Indonesia Investment Authority atau Sovereign Wealth Fund (SWF) yang diharapkan bisa mulai beroperasi pada Januari 2021 nanti,” ujar Kartika dalam diskusi virtual, Selasa (20/10/2020).
(Baca juga: Opung Luhut Sebut UU Ciptaker Bisa Cegah 'Pemborosan Devisa' oleh Wisatawan Medis Indonesia )
Dia melanjutkan, UU Cipta Kerja juga akan menjadi kerangka pemulihan ekonomi di 2021 dan 2022. Nantinya, komponen pertumbuhan ekonomi tidak hanya dari permintaan domestik, melainkan juga didorong masuknya investasi.
“Komponen investasi diperlukan untuk bisa masuk ke Indonesia secara signifikan di awal pemulihan dari dampak Covid-19. Jadi, diharapkan ekonomi dapat tumbuh 5% lagi. Tanpa masuknya investasi dan jika hanya bergantung pada konsumsi dan permintaan domestik, maka akan jadi challenging membawa pertumbuhan ekonomi kembali di posisi 5%,” tuturnya.
“Termasuk juga yang akan kami launching dan ada juga dalam Omnibus Law adalah pendirian Indonesia Investment Authority atau Sovereign Wealth Fund (SWF) yang diharapkan bisa mulai beroperasi pada Januari 2021 nanti,” ujar Kartika dalam diskusi virtual, Selasa (20/10/2020).
(Baca juga: Opung Luhut Sebut UU Ciptaker Bisa Cegah 'Pemborosan Devisa' oleh Wisatawan Medis Indonesia )
Dia melanjutkan, UU Cipta Kerja juga akan menjadi kerangka pemulihan ekonomi di 2021 dan 2022. Nantinya, komponen pertumbuhan ekonomi tidak hanya dari permintaan domestik, melainkan juga didorong masuknya investasi.
“Komponen investasi diperlukan untuk bisa masuk ke Indonesia secara signifikan di awal pemulihan dari dampak Covid-19. Jadi, diharapkan ekonomi dapat tumbuh 5% lagi. Tanpa masuknya investasi dan jika hanya bergantung pada konsumsi dan permintaan domestik, maka akan jadi challenging membawa pertumbuhan ekonomi kembali di posisi 5%,” tuturnya.
Lihat Juga :